Rabu, 22 Januari 2020
Dewi Tanjung (Diah Ayu/era.id)
14 Januari 2020 19:15 WIB

Massa Kontra Anies Cuma Koar-Koar di Patung Kuda

Tanpa penyampaian aspirasi
Bagikan :


Jakarta, era.id - Aksi demo dari Aliansi Suara Rakyat Bersatu Jakarta Bergerak melakukan aksi demo menuntut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengundurkan diri dari jabatanny. Namun, aksi demo mereka tidak disertai dengan penyampaian aspirasi.

Kelompok kontra Anies yang digawangi oleh pegiat media sosial Permadi Arya (Abu Janda) dan politikus PDIP Dewi Tanjung memulai orasi di depan Patung Kuda, tepatnya di Silang Monas Barat Daya pada Selasa (14/1/2020) siang.

Di Patung Kuda, kegiatan dimulai sekitar pukul 14.45 WIB dengan menyanyikan yel-yel yang menyudutkan Anies. Para orator bergantian menyuarakan aspirasinya. Saat ditanya wartawan, Dewi Tanjung bilang tuntutan mereka hanya satu, yakni  agar Anies mengundurkan diri dari jabatan orang nomor satu di DKI.

Jika biasanya massa aksi menggolkan demo mereka dengan menemui langsung pihak yang dituntut lewat penyampaian aspirasi, kelompok kontra ini malah tak ingin bertemu Anies.


Baca Juga : Rusuh Demo Antipemerintah di Irak, Enam Orang Tewas

"Anies enggak perlu nemuin kita. Yang penting dia mau turun dari jabatannya," ucap Dewi saat ditemui di kawasan Patung Kuda, Silang Barat Daya Monas, Jakarta Pusat, Selasa (14/1/2020)

Dewi menganggap Anies tidak becus melaksanakan tugas sebagai Gubernur DKI. "Jadi, ini semua elemen masyarakat tidak ada organisasi apapun. Ini semua gabungan termasuk warga DKI yang kemarin kebanjiran," tutur Dewi.

"Kami menganggap kinerja nya tidak bagus, terlalu banyak menyalahkan orang lain, menyalahkan anak buah, tapi tidak berani mengambil tanggung jawab dan terkesan cuci tangan," tambah dia.

Jelas, berdemo tanpa menyampaikan aspirasi ke --paling tidak DPRD DKI Jakarta-- membuat peluang tuntutan mereka didengar oleh Anies sangat kecil. Namun, Dewi tetap percaya diri bahwa pihaknya masih bisa membuat Anies lengser dari jabatannya.

"Tidak ada usaha yang berat. Presiden Soeharto saja bisa dilengserkan, kenapa seorang Gubernur tidak? Rakyat, kalau sudah bergerak, apapun bisa terjadi," seru Dewi.

Meski begitu, tidak menutup kemungkinan Dewi dan rekan-rekan akan meneruskan tuntutan mereka lewat jalur konstitusi, baik kepada DPRD, Kementerian Dalam Negeri, hingga Presiden Joko Widodo.

Sebelumnya, mereka merencanakan ingin menyuarakan tuntutan di depan Balai Kota, namun diarahkan ke patung kuda oleh pihak kepolisian karena takut terjadi bentrokan dengan massa pro Anies.

Mengingat, ada massa lain yang menunjukkan sikap pro kepada Anies dan telah berada lebih dahulu di Balai Kota DKI, baik di sekitar halaman maupun di depan Jalan Medan Merdeka Selatan sejak pukul 13.00 WIB.

Sekitar pukul 14.15 WIB, bentrokan hampir terjadi. Rombongan massa kontra Anies muncul dari arah Tugu Tani, berpakaian serba hitam dan mengenakan ornamen khas demo lengkap dengan satu mobil komando.

Ketika mereka lewati depan Balai Kota, suasana tambah gaduh. Polisi membentuk barisan menghadang kedua massa dari tengah.

Adu yel-yel saling dilempar kedua belah pihak. Tersulut emosi, massa pro melempar sejumlah botol air mineral. Satu traffic cone pembatas jalur sepeda juga sempat dilempar ke massa kontra yang lewat di jalan Medan Merdeka Selatan.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Diah Ayu Wardani
Editor : Ervan Bayu Setianto
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Olahraga
22 Januari 2020 12:48 WIB

Saat Guru Olahraga Dilatih Pelatih Basket dari NBA

Orang Jawa Barat suka basket
Nasional
22 Januari 2020 12:26 WIB

DPR Tetap Bahas RUU Omnibus Law Meski Belum Pegang Draf

Pemerintah belum ngasih ke DPR
Nasional
22 Januari 2020 12:18 WIB

Keberadaan Harun Masiku yang Kini Terang benderang

Imigrasi bilang sudah di Jakarta sejak 7 Januari
Wisata
22 Januari 2020 12:02 WIB

Nonton Wayang Potehi dari Dalang Pribumi

Wayang Potehi cuma bisa ditonton jelang Imlek
 
Lifestyle
22 Januari 2020 11:40 WIB

Viral Tukang Cilok Dilabrak Ibu Pacarnya, Asli atau Settingan?

Kalo udah jadi bos cilok seleranya bukan anak ibu lagi~