Jumat, 21 Februari 2020
Ilustrasi (Karen Warfel/Pixabay)
16 Januari 2020 11:29 WIB

Risiko Bayi Kembar Lewat Proses Bayi Tabung yang Wajib Diketahui

Memiliki bayi kembar lewat proses ini tidak disarankan. Mengapa?
Bagikan :


Jakarta, era.id - Kelahiran bayi kembar melalui proses bayi tabung atau in-vitro fertilization (IVF), ternyata memiliki risiko. Hal itu dikatakan ahli ginekologi di Alpha IVF & Women Specialist, Dr. Lam Wei Kian.

"Kemungkinan mendapatkan bayi kembar itu kurang dari lima persen. Tapi tidak disarankan, kenapa? Berisiko komplikasi misalnya kelahiran prematur, " ujar Dr. Lam Wei Kian di Jakarta, seperti dikutip Antara.

Selain itu, bayi juga berisiko lahir dengan berat badan rendah dan memiliki kemungkinan bertahan lebih kecil menurut ahli kesehatan seperti dikutip dari WebMD.

Pada ibu, ada risiko terkena pre-eklampsia, diabetes gestasional dan pendarahan sebelum dan sesudah persalinan. Namun, menurut Lam, ada cara untuk mengurangi risiko kelahiran prematur yakni pemberian obat khusus agar rahim rileks dan mengurangi kontraksi.


Baca Juga : Kenali Sifilis, Penyakit Kelamin yang Bisa Menular pada Bayi

"Ada cara yang kita bisa lakukan untuk kurangi bersalin prematur, pemberian obat agar rahim rileks, mengurangi kontraksi, semasa 24 minggu ke atas, injeksi pada ibu untuk mematangkan (fungsi) paru-paru. Kelahiran prematur berisiko paru-paru tidak matang (sempurna fungsinya)," kata dia.

Dari sisi makanan, sebenarnya tidak ada pantangan khusus bagi ibu yang menjalani IVF. Mereka tetap perlu mengonsumsi makanan bergizi secara seimbang.

"Kami sebagai dokter tidak hanya menganjurkan konsumsi makanan sehat, jangan campur dengan obat tradisional. Kita tidak tahu kandungan di dalam obatnya, mungkin ada hormon yang mempengaruhi kinerja obat injeksi," tutur Lam.

Sebelum menjalani IVF, pasangan suami istri harus berkonsultasi dengan dokter dan menjalani serangkaian tes mulai dari darah untuk menentukan perawatan yang diperlukan jika ternyata ada masalah dalam sistem reproduksi.

Prosedur berikutnya, pemberian injeksi atau obat-obatan untuk meningkatkan kesuburan, lalu injeksi GnRH dan pengambilan sel telur, diikuti pengambilan sperma. Kalau sperma cukup, tinggal mencemplungkannya ke sel telur dalam cawan petri. Di laboratorium, ahli embrio akan memantau embrio hingga siap ditanamkan ke rahim. Umumnya, proses IVF membutuhkan waktu lima sampai enam minggu.
Bagikan :

Reporter : ERA.ID
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
21 Februari 2020 22:38 WIB

What's On Today, 21 Februari 2020

Podcast berita Indonesia terkini yang disajikan dengan cara berbeda
Lifestyle
21 Februari 2020 21:07 WIB

Kim Go Eun Sumbang Rp1,1 Miliar untuk Wabah COVID-19

Sudah cantik, baik lagi
Lifestyle
21 Februari 2020 20:58 WIB

Podcast Eradotid x Wregas Bhanuteja

Wregas Bhanuteja bocorkan pengalaman dan proyek film yang masih tertunda
Lifestyle
21 Februari 2020 20:02 WIB

Seungri Tetapkan Tanggal Wajib Militer

Hal ini karena persidangan jangka panjang di pengadilan bisa menghambat wajib militer
Nusantara
21 Februari 2020 19:24 WIB

Enam Anggota Pramuka Hanyut Saat Banjir

Empat korban sudah ditemukan