Jumat, 05 Juni 2020
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
12 Mei 2020 18:08 WIB

Mengenal Rufaidah Al-Asalmiya, Perawat Kebanggaan Rasulullah

Dia mempelopori berdirinya rumah sakit Islam dan jam kerja shift bagi perawat
Bagikan :


Tenda perawatan milik Rufaidah berdiri pertama kali saat Perang Uhud tahun 625 M. Ketika itu, Rufaidah keluar dalam peperangan dan membawa seluruh peralatan medis, termasuk tenda yang dia butuhkan di atas unta. 


Pada tahun 672 masehi atau tahun kelima hijriah, perang Khandaq berkecamuk di Madinah. Medan tempur ini mempertemukan kaum muslimin yang dipimpin oleh Nabi Muhammad dengan pasukan gabungan antara kaum kafir Quraisy Makkah dan Yahudi Bani Nadir (Al-ahzaab) yang dikomandoi Abu Sufyan.

Strategi umat Islam saat itu bisa dibilang sangat baik, sehingga jatuh korban sangat sedikit. Namun, beberapa sahabat termasuk Saad bin Muadz terluka cukup parah. Sebuah anak panah dari Abu Usamah bersarang tepat di dada Saad.

Rasulullah yang mengetahui hal itu pun segera meminta Rufaidah mendirikan tenda keperawatan di dekat masjid Nabawi agar mudah dikunjungi, seraya berkata kepada para sahabatnya, "Bawalah dia ke tenda Rufaidah dan saya akan menjenguknya nanti".

Dalam kitab Al-Ishabatu fi Tamyizi karya Imam Ibnu Hajar diceritakan, saat Rufaidah melihat panah tertancap di dada Saad, ia menghentikan aliran darahnya terlebih dahulu. Rufaidah Binti Sa’ad Al-Bani Aslam Al-Khazraj atau yang dikenal dengan nama Rufaidah Al-Asalmiya membiarkan panah itu tetap menancap di dada Saad, sebab dia mengetahui teknik pengobatan dengan baik. Jika dicabut, darah akan mengucur dan tak bisa dihentikan. Ini akan mengancam nyawa Saad.


Baca Juga : Apakah Onani Bisa Membatalkan Puasa?


Pertarungan antara Ali bin Abi Thalib (kiri) dan Amr bin Abd al-Wud (kanan) saat Perang Khandaq. (Foto: Commons Wikimedia)

Berdirinya tenda-tenda perawatan pada masa perang sangat penting untuk mengurangi korban nyawa akibat tidak ada perawatan medis. Rufaidah pun tercatat sebagai pemilik tenda perawatan pertama untuk orang sakit dalam sejarah Islam.

Tenda perawatan milik Rufaidah berdiri pertama kali saat Perang Uhud tahun 625 M. Ketika itu, Rufaidah keluar dalam peperangan dan membawa seluruh peralatan medis saat itu, termasuk tenda yang dia butuhkan di atas unta. Ketika tak ada peperangan, Rufaidah membangun tenda di luar Masjid Nabawi untuk merawat setiap orang yang sakit. 

Dalam sejarah Islam dicatat beberapa nama yang bekerja bersama Rufaidah, seperti Ummu Ammara, Aminah binti Qays al-Ghifariyat, Ummu Ayman, Safiyat, Ummu Sulaiman, dan Hindun. 

Beberapa wanita Muslim yang terkenal sebagai perawat, di antaranya Ku'ayibat, Aminah binti Abi Qays al-Ghi fari, Ummu Atiyah al-Ansariyat, Nusaibat binti Ka'ab al-Mazi niyat, dan Zainab dari kaum Bani Awad yang ahli dalam penyakit dan bedah mata.

Pelopor keperawatan modern

Sebelum mengenal pelopor perawat modern, Florence Nightingale yang hidup pada abad ke-18, dunia Islam lebih dahulu tahu Rufaidah, sahabiyah Nabi Muhammad yang mengembangkan konsep modern di bidang keperawatan.

Rufaidah merupakan penyokong advokasi pencegahan penyakit (preventive care) dan menyebarkan pentingnya penyuluhan kesehatan. Dia digambarkan memiliki kepribadian yang luhur dan empati tinggi sehingga memberikan pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasiennya dengan baik pula. 

Bagi Rufaidah, sentuhan sisi kemanusiaan adalah hal yang penting bagi perawat sehingga perkembangan sisi teknologi dan sisi kemanusiaan (human touch) mesti seimbang.

Dalam karya milik Muhammad Hamid Muhammad, Shuwar min Hayat al-Shahabiyyat diceritakan, ketertarikan Rufaidah dalam dunia pengobatan telah dimulai sejak kecil. Ayahnya, Saad al-Aslami, adalah seorang fisioterapis. Rufaidah belajar dari mengamati kegiatan ayahnya dan tumbuh menjadi ahli dalam pengobatan.

Perempuan yang lahir pada 570 M itu tak segan memecahkan masalah sosial yang dapat mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit. Rufaidah memang tak diberi tanggung jawab penuh seperti kaum laki-laki yang dapat melakukan operasi dan amputasi. Namun, ia berjasa dalam mengobati dan memberikan motivasi kepada para mujahid Islam. Ia mendapat julukan fidaiyah sebab masuk dalam medan perang untuk membawa orang-orang yang terluka.


Masjid Salman Al-Farisi, lokasi pertempuran Khandaq di Madinah, tempat Rufaida Al-Aslamia merawat yang terluka. (Foto: Commons Wikimedia)
       
Rufaidah juga dikenal sebagai pelopor adanya pembagian waktu kerja atau shift yang berlaku di rumah sakit atau puskesmas saat ini. Ini terjadi awalnya ketika perang terjadi agar para korban dapat ditangani dengan baik dan tuntas, Rufaidah membagi jadwal para perawat yang ditunjuk untuk membantunya menjadi dua shift, yaitu shift malam dan shift siang. 

Di antara para korban yang dirawat Rufaidah hingga sembuh adalah Sa'ad bin Mu'adz. Ia terluka dan tertancap panah di tangannya saat Perang Khandaq. Rasulullah pun menyuruh orang-orang untuk membawanya ke Rufaidah. 

Di tenda Rufaidah itu, kesembuhan Sa'ad dipantau setiap pagi dan sore. Bahkan menurut riwayat, Rasulullah kerap menjenguk Saad setiap pagi dan sore. Atas jasanya itu, Rasulullah memberinya bagian ganimah (harta rampasan perang) sama seperti bagian laki-laki untuk Rufaidah, meskipun keterlibatannya dalam peperangan hanya sebagai perawat.

Dalam keseharian, ia membantu orang-orang sakit yang membutuhkan pertolongan. Ia juga merawat anak-anak dan membantu anak yatim, kaum difabel, dan orang miskin.


Pintu depan rumah sakit kuno Salé di Maroko dirancang oleh arsitek Islam dan dikelola oleh dokter Islam kuno. (Foto: Commons Wikimedia) 

Rufaidah juga mendidik perempuan yang berminat menjadi perawat. Perempuan yang meninggal pada usia 65 tahun itu mengelola sendiri keuangan dengan sistem pengelolaan rumah sakit yang kita kenal hingga sekarang. Tak hanya itu, ia pun turut mendanai semua kegiatan medis itu dengan harta pribadi.

Karier Rufaidah di bidang keperawatan ternyata memantik pergeseran kultural dalam memandang peran perempuan sebagai pemimpin di dunia medis. Ia juga mencatatkan unit perawatan mobile untuk memenuhi kebutuhan medis masyarakat. Sejarah peradaban Islam mencatat pengabdiannya di dunia keperawatan dengan tinta emas. Bahkan, ia dinobatkan sebagai perintis keperawatan modern.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Ahmad Sahroji
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU