Sabtu, 24 Agustus 2019
Stuber (IMDB)
17 Juli 2019 20:11 WIB

Ulasan Stuber-Evolusi Film Bergaya Buddy Cop

Film buddy cop selalu punya penggemar. Bagaimana dengan Stuber?
Bagikan :


Jakarta, era.id - Film komedi aksi bergaya buddy cop telah berevolusi mengikuti perkembangan zaman. Pada masanya, film yang berkisah tentang dua polisi dengan karakter bertolak belakang bersatu padu melawan kejahatan selalu memiliki penggemar. Lihat saja Starsky & Hutch, Rush Hour, atau Bad Boys yang dikagumi karena perpaduan aksi, komedi, dan dialog antara sepasang karakter yang mencoba akur untuk memberantas kejahatan. Namun, apakah konsep itu masih relevan di era sekarang? Tentu saja masih. Salah satu film yang mencoba kembali menghidupkan gaya tersebut adalah Stuber.

Berbeda dengan film buddy cop kebanyakan yang menceritakan dua perwira polisi pemberantas kejahatan, kali ini buddy cop ala Stuber memilih pasangan yang lebih luas. Tidak lagi hanya persahabatan dua aparat, tapi antara aparat dengan warga sipil. Dalam Stuber, warga sipil itu adalah seorang supir taksi online, Uber. Aplikasi transportasi online yang booming di era kekinian inilah yang menjadi wajah baru film bertema buddy cop tersebut.

Di bawah bendera 20th Century Fox, film yang disutradarai oleh Michael Dowse (Preacher, What If) tersebut memasang nama Dave Bautista (Guardian of The Galaxy, James Bond: Spectre) dan komedian keturunan Pakistan, Kumail Nanjiani (The Big Sick, Silicon Valley). Mereka adalah seorang polisi dan supir Uber yang bekerjasama menangkap penjahat. Yang menarik dari tokoh penjahatnya sendiri adalah seorang pengedar narkoba tengil dan jago bela diri yang diperankan oleh Iko Uwais. Ini adalah film kedua Iko Uwais berperan sebagai antagonis setelah sebelumnya juga tampil dalam The Night Comes For Us yang diproduksi Netflix.

Film ini bercerita tentang detektif polisi Vic Manning (Dave Bautista) yang berambisi untuk menangkap seorang pengedar narkobar bernama Oka Tedjo (Iko Uwais) yang sempat membunuh rekannya, Sara Morris (Karen Gillian). Saat mendapatkan informasi keberadaan Tedjo, tanpa ambil pusing ia langsung menuju lokasi. Namun karena matanya yang rabun, ia tidak bisa menyetir mobilnya ke lokasi tersebut. Adalah Stu (Kumail Manjiani), pegawai di sebuah toko perlengkapan olahraga yang menyambi sebagai supir Uber. Pertemuan keduanya sebagai sopir dan pelanggan menjadi awal petualangan mereka. 


Baca Juga : Tak Ada Waktu untuk James Bond Mati

Stu terjebak dalam posisi harus mengantarkan polisi pemberang macam Vic, sementara ia sudah berjanji dengan rekan wanitanya Becca (Betty Giplin), yang ternyata telah lama menjadi pujaan hati Stu. Sayangnya, kesempatan bertemu dengan wanita itu gagal setelah Vic memaksa untuk mengantarnya ke lokasi-lokasi kumuh seperti kelab gigolo sampai pemukiman orang Latin. Adu argumentasi saling dikeluarkan sampai akhirnya mereka berhasil menemukan Tedjo dan orang yang berada di belakangnya. Reaksi pertama yang keluar adalah tawa yang terbahak-bahak. Film bergenre action comedy memang perpaduan antara suguhan pemicu adrenalin serta rentetan dialog dan adegan slapstick pengundang tawa. Humornya pun mengandung sarkas, thrash talk (sumpah serapah), dan tentunya vulgar. 

Semua hal itu berasal dari dua karakter bertolak belakang tersebut. Seorang polisi bertubuh besar namun sudah mulai renta dan mengalami masalah pada penglihatannya. Sehingga ia membutuhkan penuntun, dalam artian supir Uber. Sementara Stu, adalah pemuda kecil keturunan India yang hidupnya membosankan. Impiannya adalah berkencan dengan rekan kerjanya dan sama-sama ingin membuka usaha bersama wanita yang sudah lama diidamkan. Namun semuanya berantatakan setelah Vic memesan kendaraan yang disewa. Dua karakter inilah yang membuat penonton terpingkal-pingkal. Vic yang salah membaca atau melihat tanda, termasuk salah menembak sasaran menjadi karakter jagoan yang konyol. Porsi terbesar komedinya berada di aktor Kumail Manjiani yang membawa semua penonton sakit perut karena tingkah laku dan kalimat-kalimat sarkasnya. 


Bukan yang pertama

Konsep seperti ini sebenarnya sempat juga terlihat di Central Intelligence (2016) di mana Dwyane ‘The Rock‘ Johnson dan Kevin Hart beradu akting. Ada pasangan bertolak belakang. Seorang petugas aparat bertubuh besar dan beringas bertemu dengan seorang akuntan biasa bertubuh kecil. Kedua karakter itu terus berargumen sepanjang cerita. Salah satu tokoh bahkan enggan terlibat dalam aksi-aksi penuh adrenalin. Hal itu juga terlihat di cerita Stuber, di mana keduanya sama-sama mengemas gaya buddy cop bernuansa kekinian. 

Untuk plot, Stuber terbilang ringkas karena sepertinya kejadiannya hanya terjadi kurang lebih 24 jam semenjak Vic mendapat kabar di mana sang antagonis berada. Setelah itu, keduanya bertemu dengan beberapa karakter unik lainnya. Obrolan Stu dengan seorang gigolo sekaligus gay dalam bar yang ia temui setidaknya menurunkan sisi maskulinitas dari film yang banyak aksinya. Sedangkan aksi sayang binatang juga ditunjukkan oleh Vic ketika ia menghajar para pemadat yang nekat menyembunyikan narkoba ke dalam tubuh seekor anjing. 

Sayangnya semua itu tidak dipertajam secara maksimal. Bahkan film ini sempat terasa ‘anyep’ di adegan permulaan atau prolog. Penonton baru terhibur setelah tokoh Stu masuk ke dalam kamera. Meski tampil memukau sebagai Drax di Guardian of the Galaxy, akting Dave dalam Stuber terbilang kurang oke. Sinarnya kalah dengan Kumail yang memang piawai mengundang tawa. Sebagai aktor, Dave tak menunjukkan kelihaiannya memainkan mimik dan emosi. Secara aksi pun begitu. Di pertarungan keduanya dengan Iko, terlihat betul bagaimana kemampuan bela diri Dave jauh di bawah Iko. 

Sebaliknya, Iko Uwais justru mengundang perhatian. Penampilannya sudah terkesan tengil. Rambutnya yang dipirang dan selalu mengenakan pakaian olahraga terlihat berbeda dengan penampilan Iko kebanyakan. Sayangnya, kemampuan aktingnya kurang terlihat dalam cerita ini karena minimnya dialog yang ia mainkan. Akting tertawa dan sinisnya juga kurang mumpuni. Bisa dibilang yang menonjol hanya dandanan dan jurus-jurus silatnya. 

Film ini seharusnya bisa menjadi hiburan karena benar-benar film untuk me-refresh otak yang jenuh dengan kesibukan. Jangan terlalu berharap dengan pesan atau tema yang akan di dapat dari cerita ini seperti ketika Central Intelligence menunjukkan pesan singkat mengenai traumatis akibat perundungan. Satu-satunya pesan yang bisa penonton dapatkan adalah bahwa kemajuan teknologi dapat membantu dan memudahkan manusia untuk bertahan dalam kehidupan, bahkan kehidupan ekstrim sekali pun.
 
 
Bagikan :
Topik :

Reporter : Maretian
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
23 Agustus 2019 21:33 WIB

Kunjungi Festival Indonesia Maju, Megawati Nostalgia Saat Jadi Presiden

Acaranya masih ada sampai 25 Agustus, ke sana yuk mblo~
Nasional
23 Agustus 2019 21:01 WIB

OPM Diduga Tunggangi Kerusuhan di Papua

"OPM itu amat merugikan bagi masyarakat Papua itu sendiri"
Nusantara
23 Agustus 2019 20:17 WIB

Satu Anggota KKB Tewas dalam Kontak Senjata di Pasar Wamena

Polisi dan masyarakat juga ikut terluka~
megapolitan
23 Agustus 2019 19:11 WIB

Komisi Impian Tina Toon di DPRD

Tina Toon akan tempati DPRD DKI Jakarta. Apa yang ideal buat Tina?
Nasional
23 Agustus 2019 18:15 WIB

Banyak Masalah Kesenjangan di Papua yang Ditutupi

"Ada kesenjangan ekonomi, HAM, dan keamanan yang harus kita evaluasi"