Selasa, 07 April 2020
Ilustrasi (pixabay)
27 Maret 2020 08:31 WIB

Timbang-Timbang Mudik Dilarang

Untuk cegah penularan korona
Bagikan :


Jakarta, era.id - Mudik Lebaran pada tahun ini menjadi hajatan besar yang mutlak mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Di tengah pandemi COVID-19 dan dengan jutaan masyarakat yang akan terlibat nantinya, berbagai opsi seperti pembatasan dan pelarangan mudik ataupun kebijakan lainnya, akan diputuskan oleh pemerintah.

Bagaimana tidak, data tahun lalu ada sekitar 23 juta orang bepergian dari kota tempat mencari nafkah ke kampung halamannya. Dari Jakarta (yang menjadi kota dengan pasien korona terbanyak se-Indonesia) saja ada 14 jutaan orang yang mudik.

Saat ini, pemerintah tengah menyiapkan skema kebijakan Tidak Mudik, Tidak Piknik Lebaran 2020. Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari upaya pemerintah yang tengah fokus menangani pandemi COVID-19.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, kebijakan Tidak Mudik, Tidak Piknik Lebaran 2020 adalah ikhtiar bangsa Indonesia dalam memutus mata rantai penularan wabah korona.


Baca Juga : Ada 80.000 Orang yang Mudik ke Jawa Tengah

"Kami harus mempertimbangkan berbagai skenario, semua demi keselamatan dan keamanan bagi para pemudik dan juga untuk seluruh masyarakat. Segala kebijakan ini nantinya menunggu keputusan dari Ratas Kabinet yang akan dipimpin Bapak Presiden. Kami berharap nantinya kebijakan ini yang terbaik bagi kita semua," ujar Menko Luhut saat memimpin Rakor terkait Mudik 2020, di Jakarta, Senin lalu.

Senada dengan Menko Luhut, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Marves, Ridwan Djamaluddin yang juga ditunjuk sebagai koordinator bagi kementerian/lembaga terkait mengatakan, arah kebijakan ini masih akan dilaporkan kepada Presiden untuk mendapatkan keputusan resmi. 

"Berbagai skema itu kurang lebih seperti yang dinyatakan oleh Juru Bicara Kemenko Marves kemarin, hanya saja hal ini masih menunggu dan taat kepada keputusan pimpinan. Sambil menyiapkan keputusan Pemerintah, Kementerian/Lembaga tetap melaksanakan persiapan-persiapan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya," ujar Deputi Ridwan di Jakarta pada Rabu (25/3).

Ada sejumlah skenario kebijakan tidak mudik lebaran tahun 2020. Di antaranya skenario pembatasan mudik/meniadakan mudik gratis oleh perusahaan swasta maupun BUMN, hingga skenario pelarangan mudik.



Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah Untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto mengimbau kepada masyarakat yang pulang kampung agar tetap melaksanakan protokol keselamatan dengan metode yang benar sehingga tidak menulari atau tertular virus SARS-CoV-2. 

"Tidak apa-apa," kata Yuri di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Jakarta, Kamis (26/3).

Dalam hal ini Pemerintah mengingatkan segala aktivitas masyarakat, terutama yang sedang pulang kampung, agar tetap dapat melakukan physical distancing atau jaga jarak fisik satu sama lain sehingga menekan risiko penularan COVID-19. Hal itu menjadi penting mengingat orang sehat dapat menjadi pembawa virus SARS-CoV-2 ke kampung halamannya jika memang tidak menjalankan protokol keselamatan yang baik.

"Ya jangan dekat-dekat, 'physical distancing' itu pondasi dasarnya. Kalau 'kembangin' rumah pondasinya itu (jaga jarak), terserah mau pakai tembok, pakai bata, pondasinya itu," katanya merujuk perihal jaga jarak fisik.

Inti dari pondasi itu, adalah untuk menjaga agar mereka yang sehat tetap sehat tidak tertular. Dalam hal ini pondasi tetap harus terus dijaga karena tidak ada jaminan untuk daerah yang tidak terjangkit berarti tidak memiliki risiko penularan COVID-19.

"Jaga jarak pada setiap komunikasi jadi penting. 'Droplet' percikan ludah atau lendir saat bersin batuk bisa sejauh 1,5 meter menyebar. Jarak itu yang kita jaga. Kurang lebih itu kita pertahankan. Siapa pun mereka yang bawa virus ini tidak nampak sebagai orang sakit," sambungnya.

"Fokus kita jaga jarak. Di sini muncul bekerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah dari rumah. Tidak semua orang memiliki kekebalan tubuh yang baik. Kalau yang tertular orang tua, saudara punya penyakit kronis mendahului, maka dampaknya sangat berat fatal," kata dia.

Tidak lupa, Pemerintah juga selalu mengingatkan masyarakat untuk terus mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) misalnya dengan membiasakan mencuci tangan pakai sabun sebelum makan dan atau melakukan kontak ke area wajah.

Keselamatan dan keamanan seluruh masyarakat harus menjadi yang utama. Namun demikian masyarakat pun harus taat dan patuh dengan segala imbauan atau kebijakan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Rencananya Ratas ini akan dilaksanakan dalam waktu dekat.
Bagikan :
Topik :

Reporter : ERA.ID
Editor : Ervan Bayu Setianto
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
07 April 2020 21:10 WIB

What's On Today, 7 April 2020

Podcast berita Indonesia terkini yang disajikan dengan cara berbeda
Lifestyle
07 April 2020 21:01 WIB

Kiat Sukses Sinetron Ramadan Tahun 90an

Jadi pengen kembali ke masa-masa itu, saat korona belum menyerang
megapolitan
07 April 2020 20:35 WIB

Manfaat dari Penerapan PSBB di Jakarta

Kurangnya kerumunan orang
megapolitan
07 April 2020 20:01 WIB

Siap-Siap, Polisi 'Razia' Suhu Tubuh di Jalanan

Pakai drone mendeteksi suhu tubuh
Kuliner
07 April 2020 19:09 WIB

Khasiat Sayur Lodeh yang Ternyata Bisa Obati Kanker

Beruntunglah kalian pecinta sayur lodeh~