Sabtu, 24 Agustus 2019
Data penghuni Panti Sosial Werdha Budi Mulia I di kawasan Cipayung. (Wardhany/era.id)
17 Juli 2019 17:16 WIB

Menjadi Telinga untuk Para Lansia di Panti Wreda

Menjadi tua adalah sebuah kepastian, tapi terasing dari keluarga adalah kedukaan
Bagikan :
Jakarta, era.id - Siang tadi kami mengunjungi Panti Sosial Werdha Budi Mulia I di kawasan Cipayung, Jakarta Timur. Tempat ini seringkali jadi destinasi akhir para lansia yang tersisih dari keluarganya. Entah karena sengaja atau ada faktor lain.

Sayangnya, kami tak bisa menemui para lansia tersebut untuk sekadar berbagi kisah atau menjadi pendengar untuk keluh kesah mereka. Sebab ada beberapa prosedur yang harus kami penuhi untuk bertatap muka dengan para lansia. 

Beruntung kami bertemu Dani (40) salah seorang pegawai honorer yang mau berbagi tentang kehidupan para lansia di panti milik Pemprov DKI Jakarta ini. Dani bilang, lansia yang ada di panti sebenarnya bukan sekonyong-konyong dititipkan begitu saja oleh keluarganya. Mereka diambil dari jalan raya di sekitar Jakarta.

Sebetulnya mereka juga punya keluarga, kata Dani, hanya saja pihak keluarga enggan untuk mengurus dengan alasan repot dan ketidakmampuan ekonomi.

"Mereka (lansia) bukan ditaruh di sini langsung. Kadang mereka ditaruh sengaja di jalanan. Ini baru saja ada kejadian, baru tanggal 12 kemarin, ditaruh di jalan gitu saja," kata Dani kepada kami saat mendatangi panti, Rabu (17/7/2019).



Wajah Dani tampak gusar saat menceritakan itu. Dia tak habis pikir, kenapa ada anak tega meninggalkan orang tuanya. Kejadian pada tanggal 12 Juli 2019 itu pun dia ceritakan kepada kami. "Ini real, benaran ditaruh di jalanan. Bahkan, pas menaruh bapaknya di jalanan, dia videocall saya pakai nomor adiknya," ujarnya.

"Setelah itu dia tinggal, ibaratnya kami ambil ya syukur tidak diambil pun, ya, sudah," sambungnya lagi. 

Dani melanjutkan ceritanya, kata dia, bukan cuma lansia dari kalangan tak mampu yang ada di panti ini. Ada juga dari kalangan menengah, seperti bekas pejabat. Namun saat kami susul dengan pertanyaan siapa dan bagaimana mantan pejabat itu bisa berada di tempat ini, Dani enggan melanjutkan ceritanya.

"Anaknya diurusin biar jadi emas buat dia, dalam artian bisa merawat sampai tua. Tapi, malah enggak kejadian. Mereka dibuang (ditelantarkan) saja gitu," ungkapnya.

Namun dari cerita Dani, ternyata ada juga lansia yang sengaja kabur dari keluarga mereka dan datang ke panti dengan mengaku tak punya keluarga. Biasanya, hal ini terjadi karena mereka merasa tak cocok, tak nyaman, atau tidak betah tinggal bersama keluarganya, karena merasa diasingkan atau tak dianggap lagi.

"Ada yang begitu, terus pas sudah meninggal ada keluarga yang mencari ke sini."

Tak puas dengan cerita Dani, kami menemui Kasat Pelayanan Panti Sosial Tresna Werdha Budhi Mulia 1, Winda di ruangannya. Tak ada yang istimewa dengan ruangan ini, seperti kantor pada umumnya. Namun kekuatan magis menggiring pandangan pada sebuah foto kolase yang melekat pada diding menuju tangga.

Identitas 250 penghuni panti terpampang jelas di kolase foto itu. Semacam foto lawas, warnanya dibiarkan terlihat buram, mungkin untuk menciptakan kesan klasik dan tak tergantikan. 



Winda kemudian membuka ceritanya. Sebenarnya cukup banyak lansia yang diantarkan anaknya ke sini agar dirawat karena alasan ketidakmampuan ekonomi. Namun, kata Winda, pihak panti menolak. Sebab, jika mereka menerima permintaan itu sama saja mereka mendukung agar keluarga tak mengurus lansia.

"Kalau kita menerima mereka, itu sama saja kita mendorong mereka jadi enggak berbakti sama orang tuanya," kata Winda.

"Kita ingat saja, bagaimana ibu kita membawa kita selama sembilan bulan di kandungan dan merawat kita dari kecil sampai sebesar ini. Enggak pernah kan, merasa kerepotan? Padahal kita juga berantakin barang-barang di rumah, nyusahin, tapi tetap saja ibu kita merawat kita dari kecil," imbuhnya.

Menjadi telinga bagi mereka

Suka duka mengurus lansia di panti sosial itu sudah kenyang dirasakan Winda. Menurutnya, kesulitan merawat lansia karena biasanya sikap mereka kembali seperti anak kecil lagi. Sambil tersenyum, Winda bercerita terkadang lansia penghuni panti bertengkar satu sama lain seperti anak-anak.

"Kadang kan namanya sudah tua jalan, rabun ya. Nanti ada yang ketendang makanannya, terus ribut. Padahal memang tidak sengaja. Terus nanti yang satu enggak terima, terus ada yang kejadian dipukul pakai tongkat, bonyok deh," ungkapnya.

Winda yang baru pindah tugas ke panti ini selama 2 tahun mengaku ada ketenangan batin tersendiri saat bertugas. Dari sini, dia mengevaluasi kehidupannya. Bahkan, dengan berinteraksi dengan lansia yang ada di sini, dia jadi sadar betul soal kesehatan dan melatih kesabaran. 

"Ya, kadang-kadang ketika berhadapan dengan mereka kita berperan sebagai badut, sebagai anak-anak, orang tua. Misalnya, pas saya kontrol terus suka ada yang bilang, 'bu saya belum dicium' atau ada yang cerita, 'aku sudah pintar lho, bantu petugas nyuci piring'. Padahal pas kita lihat, nyuci piringnya cuma satu punya dia sendiri, itu pun enggak bersih atau malah berantakan," ujarnya sambil tertawa.

Bukan hanya soal sikap lansia itu, ada cerita lain juga ketika mereka dihinggapi rasa rindu rumah. Winda bersama jajarannya sudah beberapa kali mengantar para lansia ke keluarga mereka. Tapi, penolakan justru yang didapat. Alasannya, mereka tak mampu lagi mengurus karena keterbatasan ekonomi.


Ilustrasi (Pixabay)

"Ada kita antar ke daerah Kapuk, terus ternyata enggak diterima oleh keluarganya alasannya sudah tidak mampu mengurus," ungkapnya.

"Supaya enggak sedih, kadang saya bilang, 'sabar ya nek, doain anakmu dapat rezeki biar bisa bikin kamar buat nenek'. Terus kita ajak balik ke sini. Tapi baru sehari, dia sudah nanya, 'bu, gimana anak saya sudah jadi kamarnya?' Ya pelan-pelan kita kasih tahu."

Menderita HIV/AIDS 

Winda mengatakan, panti ini sebenarnya masih butuh banyak bantuan. Dari segi tenaga saja, menurut dia, untuk merawat 250 lansia hanya ada sekitar 25 perawat. Ini artinya, satu perawat, harus menjaga 10 lansia.

Selain itu, Winda menyebut, ada beberapa lansia yang terpaksa mereka rawat meski menderita penyakit HIV/AIDS dan Tubercolosis. Padahal, awalnya mereka tak punya ruang perawatan khusus. Sehingga dengan temuan semacam ini, mereka membuat ruang isolasi. 

"Lansia ini ada yang menderita HIV/AIDS dan ibu-ibu semua. 20 orang juga ada tubercolosis. Nah, ini kejadiannya mereka masuk kelihatan sehat, tapi batuk tidak sembuh-sembuh. Kita periksakan di rumah sakit. Ternyata, hasilnya begitu. Kan tidak mungkin kita kembalikan ke jalan, jadi kita rawat saja," kata Winda.

Untuk pengobatan lansia, Winda mengatakan obat-obatan maupun pemeriksaan dilakukan di rumah sakit dengan pembiayaan BPJS Kesehatan. Tapi, dia mengakui, pantinya sebenarnya tak punya kapasitas buat merawat lansia yang menderita penyakit itu. "Ini ranahnya Dinkes, tapi belum ada pendampingan dari sana ya sudah kita rawat saja."

Selain itu, Winda mengatakan kalau mereka membutuhkan ambulans untuk membawa lansia ini ke rumah sakit saat diperlukan.



Secara keseluruhan, Winda menyebut, lansia yang dirawat di sini semuanya terjamin. Untuk makan mereka mendapat jatah tiga kali setiap hari dengan menu yang berbeda. Tak hanya makan, mereka juga mendapat snack atau makanan ringan.

Untuk mengobati kejenuhan jauh dari keluarga, ada beragam aktivitas yang diadakan oleh panti sosial ini. Seperti panggung gembira setiap hari Rabu, di mana mereka dapat menyanyi bersama. Ada juga senam setiap hari Selasa dan Jumat. 

Tak hanya itu, setiap setahun sekali juga ada anggaran untuk rekreasi. Untuk tahun ini, rencananya para lansia akan diajak ke Taman Bunga, Bogor. Selain acara-acara tersebut, ada juga pemberdayaan bagi lansia agar mereka tetap punya aktivitas positif, seperti merangkai bunga dan menjahit. 

Nantinya, barang-barang kerajinan ini dijual dan hasilnya bakal dibelikan alat kerajinan yang baru. Sedangkan jika uangnya masih tersisa, para lansia bakal mendapat uang jajan.
Bagikan :

Reporter : Wardhany Tsa Tsia
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
23 Agustus 2019 21:33 WIB

Kunjungi Festival Indonesia Maju, Megawati Nostalgia Saat Jadi Presiden

Acaranya masih ada sampai 25 Agustus, ke sana yuk mblo~
Nasional
23 Agustus 2019 21:01 WIB

OPM Diduga Tunggangi Kerusuhan di Papua

"OPM itu amat merugikan bagi masyarakat Papua itu sendiri"
Nusantara
23 Agustus 2019 20:17 WIB

Satu Anggota KKB Tewas dalam Kontak Senjata di Pasar Wamena

Polisi dan masyarakat juga ikut terluka~
megapolitan
23 Agustus 2019 19:11 WIB

Komisi Impian Tina Toon di DPRD

Tina Toon akan tempati DPRD DKI Jakarta. Apa yang ideal buat Tina?
Nasional
23 Agustus 2019 18:15 WIB

Banyak Masalah Kesenjangan di Papua yang Ditutupi

"Ada kesenjangan ekonomi, HAM, dan keamanan yang harus kita evaluasi"