Senin, 16 September 2019
Simon McMenemy (Instagram/pssiofficial)
10 September 2019 16:23 WIB

Menjaga Asa Garuda di Tengah 'Guyuran' Problema

Mental adalah satu-satunya peluang hadapi Thailand. Pasca-Malaysia, mungkinkah?
Bagikan :


Jakarta, era.id - Timnas Indonesia akan menghadapi Thailand dalam lanjutan kualifikasi Piala Dunia Qatar 2022. Membangun psikologis pemain jadi peluang paling masuk akal untuk menang. Tak mudah. Apalagi, kekalahan kala menjamu Malaysia berdampak pada merosotnya dukungan pecinta sepak bola nasional. Tugas berat bagi Simon McMenemy dan seluruh penggawa skuad Garuda yang kini seakan 'you'll never walk alone'.

Siang tadi, redaksi berbincang dengan Tommy Welly, pengamat sepak bola nasional sekaligus mantan Direktur Kompetisi PSSI. Gambaran buruk soal pertandingan nanti malam langsung tergambar sejak memulai sambungan telepon. Ada dua hal yang ditekankan Bung Towel --sapaan akrab Tommy Welly-- saat membahas peluang Indonesia, yakni perkara teknis dan non-teknis. Sayang, Indonesia tak unggul di perkara manapun.

Dari sisi teknis, Thailand jelas memiliki skuat yang jauh lebih mumpuni. Sederhana saja. Secara individu, pemain-pemain Thailand telah membuktikan diri di level permainan yang lebih tinggi. Chanathip Songkrasin misalnya, yang langsung menggebrak J League sejak debut di Consadole Sapporo pada 2017 lalu. 'Menggantikan' posisi Irfan Bachdim di klub, Chanathip langsung jadi idola baru publik Consadole.

Dengan kemampuan dan potensinya, Chanathip bahkan dijuluki sebagai Messi dari Thailand. Kecemerlangan Chanathip bukan omong kosong. Di tahun 2018, pemain yang dipinjam dari klub Thailand, Muangthong itu terpilih sebagai MVP Consadole. Di seluruh liga, Chanathip masuk ke dalam sebelas pemain terbaik J League musim 2018. Consadole pun tanpa ragu mengunci jasa Chanathip dengan status permanen pada 1 Februari 2019.
 

Selain Chanathip, beberapa penghuni skuad Gajah Putih juga tercatat berhasil menembus J League. Sebut saja Theerathon Bunmathan dan Thitiphan Puangchan. Di sisi pelatih, keberadaan Akira Nishino juga membuat Thailand unggul di atas kertas. Catatan Nishino bersama Jepang di Piala Dunia 2018 adalah portofolio cerah pelatih berusia 64 tahun itu.


Baca Juga : Suporter Rusuh Indonesia dalam Lakon 'Kalah Kok Ngamuk'

Di sisi non-teknis, Indonesia juga tak terlihat lebih baik. Mengawali rangkaian laga kualifikasi dengan kekalahan atas Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) membuat Indonesia harus bekerja keras. Belum lagi kekecewaan penonton yang berdampak pada kericuhan dan berbuntut pada menurunnya jumlah penonton ke stadion malam nanti. Langkah Indonesia makin berat.

"Tentu, kalau bicara peluang, kita harus bicara teknis dan non teknis. Itu (keduanya) berat. Satu, mengawali dengan start buruk. Kalah dari Malaysia pula. Selalu ada goresan psikologis dalam setiap kekalahan melawan Malaysia. Kedua, secara teknis Thailand jelas lebih punya reputasi dibanding Malaysia. Thailand adalah rajanya di ASEAN," tutur Bung Towel, Selasa (10/9/2019).


Peluang di sisi psikologis

Meski berat, sisi non-teknis jadi satu-satunya peluang Indonesia memenangi pertandingan melawan Thailand. Lagi-lagi, ini bukan hal mudah. Menurut Bung Towel harus ada upaya luar biasa dari penghuni kamar ganti Indonesia untuk membangun kembali mental dan semangat pemain. Sayang, di mata Bung Towel, ia tak melihat ada satu pun pihak yang mampu menjalani peran itu. Baik itu pelatih, ofisial, ataupun federasi.

"Satu-satunya hal yang harus diupayakan untuk menaikkan peluang adalah sisi psikologis. Selain motivasi bertanding. Pertanyaannya adalah siapa yang akan melakukan. Mudah-mudahan ada. Saya belum lihat (sosok). Bukan soal leadership, ya. Leadership pasti ada. Saya tidak bicara leadership. Tapi, siapa yang bisa menaikkan moril pemain secara luar biasa."

Bung Towel mempertegas, upaya memotivasi pemain yang ia maksud bukan cuma urusan di ruang ganti, tapi juga urusan di meja federasi. Sayang, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dinilai Bung Towel masih tak cukup cakap mengelola sepak bola: menyelaraskan jalannya liga dan pematangan timnas sekaligus. PSSI juga dinilai gagal mengelola situasi pasca-kekalahan melawan Malaysia yang berujung pada ricuh suporter.

"Saya jujur tidak melihat yang (mampu) memberi motivasi. Bahkan, PSSI juga tidak ngomong apa-apa (usai laga). Ini event tertinggi. Paling ultimate. Ini event paling bergengsi. Kalau ada kelemahan sampai kemarin kalah di kandang, ini kaitannya dengan preparasi, dengan perhatian ... Insiden ricuh suporter sebagai buntut kekecewaan atas performa timnas."


Bung Towel (Istimewa)


Surut penonton di stadion

Jumlah penonton di SUGBK dipastikan menurun kala Indonesia menjamu Thailand malam nanti. Hingga berita ini ditulis pada 15.39 WIB, PSSI baru berhasil menjual 12 ribu tiket. Jumlah ini jauh di bawah laga perdana Indonesia lawan Malaysia pada Kamis (5/9) lalu. PSSI mengatakan, di antara seluruh kursi yang terjual, empat ratus di antaranya akan ditempati oleh suporter Thailand.

"Tiket terjual sekarang sudah 12 ribuan. Ada sekitar empat ratus suporter dari Thailand juga yang penjualan tiketnya diatur oleh Federasi Sepak Bola Thailand (FAT)," tutur Deputi Sekjen Bidang Pengembangan Bisnis PSSI Marsal Masita kepada CNN Indonesia, dikutip Selasa (10/9/2019).

Menurut catatan redaksi, penjualan tiket laga Indonesia melawan Thailand ini meningkat drastis sejak PSSI memutuskan memberi potongan harga. Redaksi mencatat, hingga kemarin sore, Senin (9/9) pukul 17.00 WIB --sebelum diskon-- PSSI baru berhasil menjual tujuh ribu tiket. Padahal mereka menyediakan setidaknya 60 ribu tiket. Dilaporkan Bola.com, diskon sebesar 20 persen itu meliputi kategori VIP Barat, Timur, 1, dan 2.


Ilustrasi foto (Instagram/pssi)


Sebagai perbandingan, dalam laga perdana menghadapi Malaysia, PSSI berhasil menjual 50 ribu tiket tanpa diskon. Kondisi ini jadi gambaran nyata menurunnya semangat pecinta sepak bola untuk mendukung langsung tim kesayangan berlaga.

Menurut Bung Towel, penurunan animo ini menunjukkan dua hal. Pertama, penonton Indonesia betul-betul mencintai sepak bola dan timnasnya. Sehingga, yang kedua, kekalahan atas Malaysia menimbulkan bekas yang benar-benar nyata bagi mereka.

"Kalau benar infonya seperti yang kamu bilang (cuma terjual tujuh ribu tiket), itu kan menunjukkan bahwa publik sepak bola kita tidak bodoh. Di satu sisi, mereka mencintai sepak bola dan tim nasionalnya. Tapi, di sisi lain, performa timnas kemarin melawan Malaysia menimbulkan kapok juga buat mereka (penonton)," kata Bung Towel.
Bagikan :

Reporter : Yudhistira Dwi Putra
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
15 September 2019 20:31 WIB

Wawancara: Masa Depan Perjuangan Habibie Center

Bagaimana Habibie Center melanjutkan perjuangan selepas kepergian Habibie?
Internasional
15 September 2019 19:44 WIB

Wabah Ebola Seret Menteri Kesehatan Kongo ke Penjara

Kini sang menteri harus bertanggung jawab atas perbuatannya
Nasional
15 September 2019 16:39 WIB

Habibie: Bapak Teknologi Penggila Diskusi

Wawancara kami dengan Wakil Ketua Habibie Center
Lifestyle
15 September 2019 14:49 WIB

VIDEO: Movie Update of the Week

Ada film Gemini Man dan SIN: Saat Kekasihmu adalah Kakakmu Sendiri
Lifestyle
15 September 2019 13:49 WIB

Berprakarya dengan Limbah Daur Ulang Styrofoam

Manfaatkan limbah plastik jadi karya seni~