Kamis, 02 Juli 2020
Ilustrasi (Dok. Istock)
04 Juni 2020 11:25 WIB

Punya Nama Susah Dieja dan Ditulis, Buah 'Kreatifitas' Orang Tua ke Anak

Suka duka punya nama unik
Bagikan :


Jakarta, era.id - Saat orang tua memberi nama pada anak biasanya sudah dipikirkan secara matang dengan mempertimbangkan arti sebuah nama dari sisi agama, budaya, dan kemudahan dalam penyebutannya.

Belakangan, nama anak dari pebisnis Elon Musk menjadi perbincangan karena memberi nama putranya dengan nama tak biasa yakni X Æ A-Xii. Nama yang cukup unik bukan?

Nama-nama unik juga banyak di Tanah Air. Setidaknya kami merangkum beberapa nama di sekitar kami yang punya ejaan dan penulisan unik.

Xhaxhya Rana Bennink Philia Nan Jingga, begitulah nama lengkap seseorang yang memiliki arti perempuan tersayang tempat teduhnya jiwa secantik hingga akhir masa, yang lahir pada tahun 1999. Walaupun susah dan tak biasa di telinga orang Indonesia, nama itu sengaja diberikan oleh ayahnya tanpa ada maksud apa pun alias iseng.


Baca Juga : Aksi Cabul Karyawan Starbucks Sorot Dada Pelanggan Pakai CCTV

“Nama itu diberikan oleh Ayah ku, aku enggak pernah menanyakan alasannya, tetapi Ayah memang suka memberikan nama yang unik,” katanya saat dihubungi, Rabu (3/6/2020).

Meski sulit disebutkan, nama Xhaxhya ini bisa dilafalkan dengan kata 'Saksya'. Selain itu, ada juga pengalaman pahit ketika Jingga menerima ijazah. “Waktu SD ijazah aku ada kesalahan tulis, ketinggalan satu huruf, harusnya Xhaxhya, eh jadi Xhaxha, dan itu ngurusin ijazahnya lama banget,” lanjutnya.
 


Bukan cuma dia, nama unik juga disematkan kepada kedua adiknya yang bernama Zedala Murti Birahi Lancah Saba Bestari dan Yaxhara Bungina Aruma Cahyana Mardika.

Ayahnya, Sutaryo juga menularkan nama unik dan panjang ke dua orang sepupu Jingga, mereka dinamai Xitra Luigi Tantramartalabaya dan Xilanasati Pirumi Regi Gilang Rahmini.

Selain Jingga ada pula Wardhany Tsa Tsia. Wanita yang akrab disapa Tasya ini bilang kedua orang tuanya memberi nama agar tak biasa di telinga orang Indonesia dan permainan huruf ala kedua orang tuanya. 

"Tsatsia-nya itu Tasya sebenarnya. Cuma nyokap (ibu) enggak mau tulisannya Tasya biasa karena sudah banyak kan tuh, jadi dia tulis Tsatsia. Lagian kayak bahasa Rusia kata dia, cuma permainan huruf saja," katanya.

Tasya mengaku tak ada masalah dari lingkungan sekitarnya selama ini. Namun, saat duduk di bangku sekolah ia sendiri yang kerap kesulitan menulis namanya. "Zaman SD, SMP, gue benci banget nama gue susah ditulis. Kalau lagi mendikte atau mencongak, gue belum selesai nulis nama, gurunya sudah mulai duluan," sambung wanita yang berprofesi sebagai jurnalis ini.

Jumlah orang tua yang memberikan nama tidak lazim atau unik untuk anaknya semakin meningkat. Sebuah penelitian dilakukan pada 2010 oleh Jean Twenge, profesor psikologi di San Diego State University, mengkaji 325 juta nama bayi yang lahir antara 1880 dan 2007, dia menemukan bahwa nama-nama umum telah menurun popularitasnya sejak 1950.

"Nama merupakan inti dari identitas dan juga terkait dengan identitas legal yang penting, bagaimana kita dikenali oleh negara dan pemerintah," kata Jane Pilcher, seorang sosiolog dari Universitas Leicester seperti dikutip dari BBC, Rabu (3/6/2020).

Sebagai contoh, ketika lebih dari 30 persen anak laki-laki diberi nama yang masuk dalam 10 besar terpopuler pada 1950, kurang dari 10 persen anak laki-laki yang namanya diambil dari 10 daftar terpopuler pada 2007. Faktor pergeseran budaya diebut menjadi salah satu penyebabnya.

"Itu juga merupakan bagian dari identitas sosial budaya. Nama menandai siapa kita dari hubungan gender, etnis dan juga lainnya," lanjut Jane.

Setidaknya ada alasan tertentu orang tua saat memeberi nama anak. "Orang tua ingin memberikan sesuatu bagi anak yang bisa membedakan dari anak-anak lainnya. Orang tua juga ingin anaknya bisa menonjol dibanding anak-anak lain termasuk masalah nama, jelas Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psikolog, kepada era.id, Kamis (4/6/2020).

Yang jelas, pemberian nama juga sangat berpengaruh dalam kehidupan sang anak di masa depan. Maka dari itu, orang tua juga jangan egois saat memberi nama sang anak. "Nama yang unik bisa membuat anak berpandangan positif tentang dirinya, tapi bisa juga negatif tergantung pengalaman anak tersebut atas reaksi orang-orang terhadap namanya," kata psikolog dari Klinik Brawijaya Kemang ini.

Jangan sampai anak merasa minder atau tidak percaya diri karena namanya dianggap aneh, atau bisa menjadi bahan olokan orang-orang sekitarnya. "Anak juga bisa mempertanyakan mengapa ortu menamainya sedemikian hingga bisa saja muncul sentimen negatif pada orang tua," ucapnya.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Nurul Tryani
Editor : Ervan Bayu Setianto
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Lifestyle
02 Juli 2020 12:05 WIB

Maniak Filler, Wajah Wanita Ini Berubah jadi Aneh

Waduh, bisa bahaya nih
Vistory
02 Juli 2020 12:01 WIB

Sejarah Singkat dan Unik RSHS Bandung

Jejak kolonial Belanda dan Jepang
ide
02 Juli 2020 12:00 WIB

Yamko Rambe Yamko dan Ancaman Kepunahan Bahasa Asli Papua

Bahasa-bahasa di Papua terancam punah.
Lifestyle
02 Juli 2020 11:45 WIB

Aksi Cabul Karyawan Starbucks Sorot Dada Pelanggan Pakai CCTV

Starbucks langsung minta maaf