Senin, 16 September 2019
Atlet muda binaan PB Djarum (Foto: PB Djarum)
09 September 2019 14:56 WIB

Melihat Kisruh KPAI dan PB Djarum dari Tengah-Tengah

Sulit cari siapa yang salah. Dari tengah, kami mencari siapa yang jadi korban
Bagikan :


Jakarta, era.id - Perselisihan antara PB Djarum dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berbuntut pada penghentian beasiswa dan audisi tahunan klub bulu tangkis terbesar di Indonesia itu. Kami ogah berdiri di pihak PB Djarum ataupun KPAI. Tak ada yang pantas dibela. Mengambil posisi tengah membuat kami dengan mudah melihat siapa yang jadi korban perselisihan ini. Atlet muda dan masa depan bulu tangkis itu sendiri, pastinya.

Ini bermula dari pernyataan KPAI yang menyebut adanya unsur eksploitasi anak dalam audisi tahunan bulu tangkis PB Djarum. KPAI pun melakukan koordinasi dengan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Hasil rapat seluruh lembaga itu menyepakati enam poin. Salah satunya mendesak Djarum Foundation segera menghentikan penggunaan anak sebagai brand image perusahaan, termasuk dalam ajang audisi bulu tangkis. Rapat memandang penyematan merek Djarum dalam atribut peserta audisi sebagai eksploitasi terselubung.

Menurut hasil rapat itu, audisi melanggar Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Pasal 47 Ayat 1 dalam beleid itu mengatur: Setiap penyelenggaraan kegiatan yang disponsori oleh produk tembakau dan atau bertujuan untuk mempromosikan produk tembakau dilarang mengikutsertakan anak di bawah usia 18 tahun.


Baca Juga : VIDEO: Menengok Kembali Konflik KPAI Vs PB Djarum

"Kami sepakat bahwa pengembangan bakat dan minat anak di bidang olahraga bulu tangkis harus terus dilakukan. Tetapi tidak boleh ada eksploitasi anak," ujar Ketua KPAI Susanto ditulis Antara, usai rapat awal Agustus lalu.

Salah siapa?

Hasil rapat itu direspons PB Djarum dengan mengubah nama audisi menjadi 'Audisi Umum'. Mereka juga menghapus logo sponsor di baju peserta dalam sesi audisi yang berlangsung di Purwokerto pada 8-10 September. Namun, di tengah audisi itu, Djarum mengumumkan keputusan untuk menghentikan sementara program audisi mulai 2020. Sebagai gantinya, Djarum akan menjaring talenta dengan mengandalkan pemandu bakat.

"Pada audisi kali ini juga saya sampaikan sebagai ajang untuk pamit sementara waktu, karena di 2020 kami memutuskan untuk menghentikan audisi umum. Memang ini disayangkan banyak pihak, tetapi demi kebaikan bersama kami hentikan dulu, biar reda dulu, dan masing-masing pihak agar bisa berpikir dengan baik," ungkap Direktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, dikutip laman resmi PB Djarum.

"Tetapi bulu tangkis harus tetap semangat, PB Djarum akan berada di garda terdepan untuk pembibitan-pembibitan usia dini dengan segala upaya. Tetapi audisi sementara dihentikan dulu. Jadi nanti kalau ada yang nangis, saya minta maaf," tambah Yoppy.


Pembukaan di GOR Sudirman (Foto: PB Djarum)


KPAI sendiri merespons sikap PB Djarum. Mereka membantah disebut tak terbuka terhadap pencarian solusi dari permasalahan ini. Dalam rilis yang diterima era.id, KPAI mengaku telah mengagendakan audiensi dengan pihak-pihak terkait, termasuk Djarum Foundation, untuk melanjutkan audiensi yang sebelumnya digelar pada 4 September lalu. Namun, menurut KPAI, pihak Djarum Foundation sangat sulit dihubungi.

Setelahnya, KPAI juga sempat mengundang Djarum Foundation secara formal untuk melakukan audiensi bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA). Namun, pihak Djarum Foundation tak juga memenuhi undangan tersebut dengan alasan sedang ada kegiatan di luar daerah.

"Dengan demikian, tidak benar statement pihak Djarum yang mengatakan KPAI tidak mau mengambil jalan tengah karena pihak Djarum yang tidak hadir dalam pertemuan lanjutan ... Bahkan sebelum itu KPPPA sudah membuka diri untuk mengambil jalan tengah persoalan ini sesuai rekomendasi rapat, termasuk niat baik KPPPA mengundang Djarum pada Maret 2019, juga tidak digubris oleh Djarum," tertulis.

Sebelumnya, KPAI juga menyatakan pihaknya tak bermaksud menghentikan audisi atlet bulu tangkis yang dilakukan PB Djarum. Pernyataan yang bertolak belakang dengan surat yang KPAI layangkan beberapa waktu lalu. Dalam salinan yang kami dapat, surat itu dengan jelas meminta pimpinan Djarum Foundation untuk menghentikan kegiatan audisi Djarum Badminton.


Salinan surat KPAI


Korbankan anak dan bulu tangkis

Penghentian audisi ini ditanggapi pemerhati anak, Seto Mulyadi. Ketua Lembaga Anak Indonesia (LPAI) itu menyebut sikap PB Djarum kekanak-kanakan. Buat Seto, apa yang dilakukan KPAI bagaimanapun adalah hal benar yang memang harus dilakukan oleh lembaga yang bertanggung jawab melindungi kepentingan anak. "Saya melihat ini (PB Djarum) kok kayak anak kecil yang sedang ngambek," kata Seto kepada Kompas, Minggu (8/9).

Buat Seto, yang harus dipertanyakan sesungguhnya adalah semangat PB Djarum. Baginya , sederhana. Larangan iklan seharusnya tak memengaruhi kegiatan pembinaan atlet oleh PB Djarum. Sikap ini dinilai Seto justru mengorbankan anak dan bulu tangkis. "Lha, terus kemurniannya dan ketulusannya bagaimana untuk membina anak-anak? Bila memang serius, seharusnya tidak menghentikan audisi," tambah Seto.

Di sisi lain, legenda bulu tangkis nasional, Susy Susanti justru menyayangkan sikap KPAI. Menurut Susy, kisruh ini akan berdampak pada regenerasi atlet bulu tangkis. Susy yang kini menjabat Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) mengatakan: Pastinya bakat-bakat yang terjaring tidak akan sebanyak seperti sekarang dan tahun-tahun sebelumnya.


Atlet binaan PB Djarum (Foto: PB Djarum)



"Selain itu, penghentian audisi juga akan menghambat pembinaan atlet usia dini. Kita kan ada kategori usia dini (< 11 tahun), anak-anak (11-13 tahun), pemula (13-15 tahun), remaja (15-17 tahun), dan taruna (17-19 tahun) ... Hal ini sebetulnya mereka (KPAI) hanya melihat di 'atas' nya saja. Tetapi, jika di bawah (pembinaan usia dini) itu kosong, maka akibatnya bisa sampai putus satu generasi," tambah Susy.

Tak mungkin memungkiri peran PB Djarum dalam pengembangan bulu tangkis nasional. Sejarah panjang bertabur prestasi itu dimulai pada 1970, ketika karyawan PT Djarum mengubah fungsi brak --tempat karyawan melinting rokok-- di Jalan Bitingan Lama Nomor 35, Kudus, Jawa Tengah menjadi tempat berlatih bulu tangkis di setiap sore.

Seiring waktu, lapangan itu tak cuma jadi milik karyawan PT Djarum. Sejumlah pemain dari luar turut meramaikan. Mereka yang ikut dalam pelatihan itu kemudian menamai diri sebagai Komunitas Kudus. Dari sana, lahirlah Liem Swie King, salah satu legenda bulu tangkis termasyhur di dunia. Gelar juara Piala Munadi di sektor ganda putra tahun 1972 jadi prestasi pertama Liem bersama Komunitas Kudus.


Liem Swie King (PB Djarum)


Sejak itu, CEO PT Djarum, Budi Hartono --yang juga menggemari bulu tangkis-- memutuskan untuk mengembangkan Komunitas Kudus menjadi organisasi yang lebih besar. Terbentuklah PB Djarum. Di tahun 1974, organisasi ini diresmikan dan diketuai Setyo Margono. Sejak itu, PB Djarum tak pernah berhenti mencetak atlet-atlet unggulan dengan segudang prestasi mendunia.

Liem jadi pembuka jalan itu. Tahun 1978, ia menjadi pemain pertama PB Djarum yang berhasil menjuarai All England di sektor ganda putra. Kesuksesan yang dilanjutkan Liem di tahun selanjutnya. Nama Kartono dan Heryanto jadi catatan manis PB Djarum berikutnya. Kombinasi keduanya berhasil menyusul kesuksesan Liem. Setidaknya, dua trofi All England di tahun 1981 dan 1984 berhasil disabet ganda putra ini.

Kesuksesan Liem, Kartono dan Heryanto mendorong PB Djarum mengembangkan organisasi ke Jakarta pada 1985 dan di Surabaya pada 1986. Hingga hari ini, sederet atlet memperpanjang kisah sukses PB Djarum. Mereka yang berhasil menjuarai Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis dan Olimpiade, seperti Mohammad Ahsan, Kevin Sanjaya Sukamuljo, hingga Praveen Jordan dan Tontowi Ahmad.


Harapan di klub lain

Meski PB Djarum memegang peran vital dalam pengembangan bulu tangkis nasional, sejatinya kita tak bisa menutup mata pada kehadiran klub-klub bulu tangkis lain di negeri ini. PB Tangkas, misalnya. PB Tangkas adalah klub bulu tangkis tertua di Indonesia. PB Tangkas berdiri pada 21 Februari 1951, hanya beberapa bulan setelah berdirinya Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Sebesar apapun nama Tontowi Ahmad di bawah PB Djarum, pasangan Liliyana Natsir ini sejatinya adalah atlet yang ditemukan PB Tangkas, sebelum memutuskan pindah ke PB Djarum pada 2005 lalu. Dilansir dari situs resmi, Tontowi berdiri bersama sejumlah nama besar peraih gelar Juara Dunia.

Sebut saja, Ade Chandra/Christian Hadinata (1980), Verawaty (1980), Icuk Sugiarto (1983), Joko Suprianto (1993), Ricky Soebagdja/Gunawan, Rexy Mainaky (1993, 1995), Hendrawan (2001), hingga Liliyana yang berhasil bersama Nova Widianto di tahun 2005, 2007 dan bersama Tontowi sendiri di tahun 2013.

Selain PB Tangkas, ada juga PB Jaya Raya. Klub ini didirikan tahun 1975 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Dalam perkembangannya, klub ini dipegang oleh pengusaha properti, Ciputra. Sederet nama besar bahkan menjadi pionir berdirinya klub. Sebut saja, Rudy Hartono dan Retno Kustiyah. Di masa-masa selanjutnya, klub ini juga menelurkan sejumlah bakat, misalnya Marcus Fernaldi Gideon, Hendra Setiawan, hingga Greysia Polii.

Klub bulu tangkis yang juga tak boleh terlewat dari daftar adalah SGS PLN Bandung. Berdiri sejak 1987, klub ini berhasil mencetak atlet-atlet kelas dunia, mulai dari Anthony Sinisuka Ginting, Fajar Alfian, serta Richi Puspita Dili. 
Bagikan :

Reporter : Mery Handayani , Yudhistira Dwi Putra
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
15 September 2019 20:31 WIB

Wawancara: Masa Depan Perjuangan Habibie Center

Bagaimana Habibie Center melanjutkan perjuangan selepas kepergian Habibie?
Internasional
15 September 2019 19:44 WIB

Wabah Ebola Seret Menteri Kesehatan Kongo ke Penjara

Kini sang menteri harus bertanggung jawab atas perbuatannya
Nasional
15 September 2019 16:39 WIB

Habibie: Bapak Teknologi Penggila Diskusi

Wawancara kami dengan Wakil Ketua Habibie Center
Lifestyle
15 September 2019 14:49 WIB

VIDEO: Movie Update of the Week

Ada film Gemini Man dan SIN: Saat Kekasihmu adalah Kakakmu Sendiri
Lifestyle
15 September 2019 13:49 WIB

Berprakarya dengan Limbah Daur Ulang Styrofoam

Manfaatkan limbah plastik jadi karya seni~