Sabtu, 24 Agustus 2019
Masjid roboh di Desa Lading-Lading, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. (Twitter @Sutopo_PN)
06 Agustus 2018 16:04 WIB

Gempa Lombok, 'PR' Bagi Konstruksi Bangunan di Indonesia

Banyak bangunan di Indonesia tidak tertib membangun bangunan tahan gempa
Bagikan :


Jakarta, era.id - Satu keluarga di Tembobor, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) ditemukan tewas tertimpa reruntuhan bangunan beton. Alimun, Reni, Elsa, Linda, dan Fauzan merupakan lima dari 91 korban yang tewas akibat gempa yang mengguncang Pulau Lombok, kemarin.

Posisi Indonesia yang berada di tengah-tengah daerah Cincin Api Pasifik seringkali disebut sebagai penyebab Indonesia langganan gempa. Untuk itu, seharusnya bangunan tahan gempa diaplikasikan secara menyeluruh di Indonesia. 

Tapi apakah saat ini bangunan tahan gempa sudah banyak dibangun di Indonesia? Jawabannya adalah tidak. Ketua Asosiasi Tenaga Ahli Konstruksi Indonesia (ATAKI) Manahara R Siahaan bilang, saat ini banyak bangunan di Indonesia tidak tertib membangun bangunan tahan gempa. 

"Kemarin itu, gempa 7 Skala Richter harusnya (bangunan) masih mampu. Tapi kalau melihat sekarang, kita masih banyak yang tidak tertib (membangun bangunan tahan gempa). Masih ada yang tidak tertib," kata Manahara kepada era.id melalui sambungan telepon, Senin (6/8/2019).


Baca Juga : Gempa Landa Wilayah Bogor, Tak Berpotensi Tsunami


(Data dan infografis BNPB)

Untuk kasus gempa di Lombok, Manahara mengakui bahwa wilayah NTB merupakan pertemuan lempeng gempa. Sehingga untuk membangun sebuah bangunan, diperlukan konstruksi bangunan yang tahan gempa.

"Harusnya pemerintah daerah waktu memberikan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) harus benar-benar diperhitungkan. Apalagi kalau konstruksinya beton seperti ini. Kalau kayu, ya tidak terlalu begini lah bahayanya," jelas dia.

Kami sempat berpikir, jangan-jangan kendala biaya yang menyebabkan masyarakat tak mau membangun bangunan tahan gempa. Tapi, menurut Manahara, biaya bangunan biasa dan bangunan tahan gempa tidak terlampau jauh.

"Soal biaya saya kira enggak ke sana lah ya. Biaya tambah sedikit saya kira enggak masalah. Sebenarnya kemarin itu sudah diperingatkan waktu gempa pertama," ungkap Manahara.
 

"Ada aturannya, pasti ada juga perhitungan struktur untuk bangunan tahan gempa itu," sambung dia.

Selain membangun infrastruktur yang tahan gempa. Manahara bilang, seharusnya kesadaran masyarakat terhadap bencana gempa lebih ditingkatkan, khususnya untuk daerah dengan potensi gempa yang lebih besar.

"Mungkin yang perlu diingatkan adalah bagaimana menghadapi gempa. Fokusnya itu, bagaimana menyelamatkan diri di masyarakat dan mensosialisasikan ke masyarakat," tutupnya.
 
Bagikan :
Topik :

Reporter : Wardhany Tsa Tsia
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
megapolitan
24 Agustus 2019 17:35 WIB

Efek Medsos, Sentra Buku di Pasar Kenari Kembali Ramai

Medsos menunjukkan keajaibannya~
Lifestyle
24 Agustus 2019 16:44 WIB

Ada Deal Baru Disney-Sony Buat Spider-Man

 habis kongkow bareng sama Mr. Stark~
Lifestyle
24 Agustus 2019 15:25 WIB

VIDEO: Movie Update of the Week

Ada Film Angel Has Fallen dan Scary Stories to Tell in the Dark
Nasional
24 Agustus 2019 14:24 WIB

Mimpi Besar Gubernur Kaltara di PLTA Sungai Kayan

Dengan pengalaman dan pengetahuan, Irianto menyebut proyek ini berdampak baik bagi negara
megapolitan
24 Agustus 2019 13:56 WIB

Hidden Spot Belanja Buku di Tengah Ingar Bingar Jakarta

Adanya di Pasar Kenari ya gaes~