Sabtu, 17 November 2018
Masjid roboh di Desa Lading-Lading, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. (Twitter @Sutopo_PN)
06 Agustus 2018 16:04 WIB

Gempa Lombok, 'PR' Bagi Konstruksi Bangunan di Indonesia

Banyak bangunan di Indonesia tidak tertib membangun bangunan tahan gempa
Bagikan :


Jakarta, era.id - Satu keluarga di Tembobor, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) ditemukan tewas tertimpa reruntuhan bangunan beton. Alimun, Reni, Elsa, Linda, dan Fauzan merupakan lima dari 91 korban yang tewas akibat gempa yang mengguncang Pulau Lombok, kemarin.

Posisi Indonesia yang berada di tengah-tengah daerah Cincin Api Pasifik seringkali disebut sebagai penyebab Indonesia langganan gempa. Untuk itu, seharusnya bangunan tahan gempa diaplikasikan secara menyeluruh di Indonesia. 

Tapi apakah saat ini bangunan tahan gempa sudah banyak dibangun di Indonesia? Jawabannya adalah tidak. Ketua Asosiasi Tenaga Ahli Konstruksi Indonesia (ATAKI) Manahara R Siahaan bilang, saat ini banyak bangunan di Indonesia tidak tertib membangun bangunan tahan gempa. 

"Kemarin itu, gempa 7 Skala Richter harusnya (bangunan) masih mampu. Tapi kalau melihat sekarang, kita masih banyak yang tidak tertib (membangun bangunan tahan gempa). Masih ada yang tidak tertib," kata Manahara kepada era.id melalui sambungan telepon, Senin (6/8/2019).


Baca Juga : Gempa Magnitudo 5,2 Kembali Guncang Mamasa


(Data dan infografis BNPB)

Untuk kasus gempa di Lombok, Manahara mengakui bahwa wilayah NTB merupakan pertemuan lempeng gempa. Sehingga untuk membangun sebuah bangunan, diperlukan konstruksi bangunan yang tahan gempa.

"Harusnya pemerintah daerah waktu memberikan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) harus benar-benar diperhitungkan. Apalagi kalau konstruksinya beton seperti ini. Kalau kayu, ya tidak terlalu begini lah bahayanya," jelas dia.

Kami sempat berpikir, jangan-jangan kendala biaya yang menyebabkan masyarakat tak mau membangun bangunan tahan gempa. Tapi, menurut Manahara, biaya bangunan biasa dan bangunan tahan gempa tidak terlampau jauh.

"Soal biaya saya kira enggak ke sana lah ya. Biaya tambah sedikit saya kira enggak masalah. Sebenarnya kemarin itu sudah diperingatkan waktu gempa pertama," ungkap Manahara.
 

"Ada aturannya, pasti ada juga perhitungan struktur untuk bangunan tahan gempa itu," sambung dia.

Selain membangun infrastruktur yang tahan gempa. Manahara bilang, seharusnya kesadaran masyarakat terhadap bencana gempa lebih ditingkatkan, khususnya untuk daerah dengan potensi gempa yang lebih besar.

"Mungkin yang perlu diingatkan adalah bagaimana menghadapi gempa. Fokusnya itu, bagaimana menyelamatkan diri di masyarakat dan mensosialisasikan ke masyarakat," tutupnya.
 
Bagikan :
Topik :

Reporter : Wardhany Tsa Tsia
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
17 November 2018 21:18 WIB

Gaet Milenial, Erick Thohir Luncurkan Jokowi App

Aplikasi khusus berisikan informasi menarik terkait pemilu dan Jokowi-Ma'ruf Amin
megapolitan
17 November 2018 20:46 WIB

Galang Dana, Tim Jokowi-Ma'ruf Amin Jual Merchandise

Pernak-pernik ini buat gaet pemilih milenial
Nasional
17 November 2018 20:20 WIB

Indonesia Bakal Alami Kemunduran Bila Berpolitik SARA

Indonesia akan mundur 90 tahun ke belakang kalau terus menggunakan isu SARA
Nasional
17 November 2018 19:24 WIB

Kubu Jokowi: Poster 'Jokowi Raja' Bukan Kebijakan Tim Kampanye

Timses tak pernah mengusulkan untuk membuat atribut kampanye seperti itu
Wisata
17 November 2018 19:22 WIB

Melihat Kembali Surat-Surat Tokoh Pendiri Bangsa

Kamu bisa melihatnya di Muesum Nasional Jakarta, sampai 22 November