Kamis, 24 Januari 2019
11 Januari 2019 15:15 WIB

Ternyata Ada Untungnya Juga Harga Karet Turun

Selalu ada kabar baik di tengah kabar buruk
Bagikan :


Jakarta, era.id - Daya tahan aspal dibanding beton untuk jalanan memang timpang jauh. Makanya mulai dikembangkan teknologi aspal karet yang diyakini bisa jauh lebih kuat. 'Beruntung' juga harga karet sedang terjun bebas. 

Jadi gini maksudnya, untuk menghadapi penurunan harga karet, pemerintah mengeluarkan kebijakan nasional pemanfaatan karet alam untuk berbagai sektor. Termasuk salah satunya dalam pembangunan infrastruktur PUPR.

Makanya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan terus meningkatkan penggunaan karet sebagai campuran beraspal atau aspal karet dalam penanganan jalan nasional. Penggunaan aspal karet selain kualitasnya lebih bagus dibanding aspal biasa, juga akan menyerap hasil karet yang lagi turun harganya.

Dilansir dari laman resmi PUPR, tahun 2018 lalu, kementerian ini sudah membeli aspal karet di Sumatera Selatan dan Jawa Barat total sebesar Rp7 miliar. Pembelian dilakukan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) V Sumsel dan BBPJN VI Jakarta, Jawa Barat dan Banten.


Baca Juga : Menhub: Bandara Baru Yogyakarta Tahan Tsunami

Tahun 2019, rencana pengadaan aspal karet yang sudah ditetapkan dengan Surat Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR adalah sebanyak 2.542 ton aspal karet (= 177 ton lateks pekat atau 354 ton lateks kebun dengan nilai sekitar Rp 3,15 miliar). Pengadaan dilakukan secara bertahap untuk menghindari penyimpanan dalam waktu lama yang dapat menyebabkan karet alam rusak.

Mekanisme pembelian karet dari petani dilakukan oleh pabrik atau koperasi yang memproduksi brown crepe. Kementerian PUPR nantinya akan mendapat suplai brown crepe dari pabrik. Syaratnya, pabrik wajib mencantumkan Surat Keterangan dan kuitansi pembelian dari petani atau KUD.

Keunggulan penggunaan karet alam pada campuran beraspal panas untuk perkerasan jalan diantaranya memiliki tingkat perkerasan lebih baik, tidak mudah meninggalkan jejak roda pada saat aspal basah, dan daya tahan lebih tinggi dibanding aspal biasa.

Untuk penggunaan aspal karet, pada tahun 2017-2018 diterapkan pada preservasi Jalan Muara Beliti – Tebing Tinggi – Lahat sepanjang 125 Km dengan anggaran sebesar Rp30,55 miliar. Dari total panjang tersebut, terdapat 4,37 Km yang menggunakan aspal karet dengan ketebalan 4 cm. Porsi bahan karet atau brown crepe yang digunakan adalah sekitar 7% atau 81 ton karet alam per km.

Seperti diketahui bahwa Indonesia merupakan salah satu produsen karet alam terbesar di dunia. Setiap tahun produksi karet alam Indonesia mencapai 3,2 juta ton, dan 0,6 juta ton diantaranya dimanfaatkan industri dalam negeri, sementara 2,4 juta ton lainnya di ekspor ke mancanegara.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Moksa Hutasoit
Editor : Moksa Hutasoit
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
24 Januari 2019 09:51 WIB

Ahok di Balik Jeruji: Membaca Sampai Membuat Buku

Bukunya berjudul Kebijakan Ahok dan diluncurkan pada Agustus 2018
Teknologi
24 Januari 2019 09:14 WIB

Ahok Bebas, Subscriber Youtube BTP Meroket Dalam Semalam

Apakah ini artinya BTP akan menjadi seorang Youtuber?
Nusantara
24 Januari 2019 09:12 WIB

Asyik, Kirim Buku ke Seluruh Indonesia Gratis

 Kebijakan ini berlaku kalau ngirim lewat Pos Indonesia, di tanggal 17 setiap…
Nasional
24 Januari 2019 09:10 WIB

VIDEO: Penantian Ahokers Hingga Menginap di Mako Brimob

Selain bernyanyi mereka juga berdoa untuk Ahok
Nasional
24 Januari 2019 08:41 WIB

Mencari Tahu Makanan Kesukaan Ahok

Pisang, ayam ketumbar, dan mie goreng seafood Bangka adalah makanan favorit…