Minggu, 21 Juli 2019
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang (Istimewa)
21 Februari 2019 08:10 WIB

Menjaga Pulau Bali Agar Tak Pernah Padam

Apa yang terjadi di Bali bisa cepat menyebar ke seantero dunia
Bagikan :


Jakarta, era.id - Bali adalah pariwisata kelas dunia. Jangan bayangkan kalau ada kejadian wisatawan Bali mengeluh pemadaman listrik atau lingkungan liburan mereka yang tak bersih. Beritanya bisa jadi garapan media internasional.

Menjaga Bali supaya terus terang benderang adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Jangan sampai wisatawan, apalagi dari mancanegara, merasakan Bali yang minim kekurangan energi listrik. Efeknya akan ganggu wajah Indonesia di tingkat internasional.

Tak heran, masa reses Komisi VII DPR RI khusus dipakai untuk meninjau ketersediaan pasokan listrik di Pulau Dewata. Mereka mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang, Jumat (15/2) lalu yang punya peran penting untuk membuat Bali bisa terus terang sepanjang hari.

Hasil kajian di akhir tahun 2018, beban puncak listrik di Bali pada sore hari bisa tembus 895 MW. Angka itu naik 15 persen pada akhir Januari 2019. PLTU Celukan Bawang sendirian memikul 42 persen dari kebutuhan listrik yang ada, sekitar 380 MW. Sisanya digarap oleh PLN. Tapi itu pun diambil dari berbagai pembangkit listrik yang tersebar, termasuk dari Pulau Jawa.


Baca Juga : Indonesia Butuh Pembangkit Listrik Tenaga Sambat

"Tak ada pembangkit listrik single yang memikul sebesar kita," kata Direktur PT General Energy Bali (GEB) Agus Darmadi, Jakarta, Selasa (19/2/2019).

Ketua Komisi VII Gus Irawan Pasaribu mengakui tingkat kebutuhan energi listrik di Bali sebenarnya sudah terpenuhi dengan baik. Dia minta PLTU Celukan Bawang dan PLN bisa berkoordinasi meningkatkan kebutuhan listrik di Bali yang terus naik. Tentu saja tetap mengutamakan menjaga lingkungan Bali dan pariwisatanya.

Agus Darmadi mengakui kedatangan anggota Dewan memang untuk memastikan kelistrikan Bali yang tetap terjaga. Sambil mengecek supaya tak ada polusi lingkungan yang malah membahayakan warga dan wisatawan. Soal menjaga lingkungan, Agus Darmadi sadar betul pihaknya jadi sorotan. Makanya mereka tak main-main dalam menerapkan berbagai SOP dan teknologi yang digunakan.

"PLTU Celukan Bawang dikembangkan dengan teknologi yang canggih. Dilengkapi peralatan untuk ramah lingkungan. Mulai dari FGD hingga ESP. Kita tak mau main-main," beber Agus.


Suasana kala Komisi VII DPR RI mengunjungi PLTU Celukan Bawang (Istimewa)

Flue Gas Desulphurisation (FGD) dipakai untuk menangkap sulfur demi menghalangi hujan asam, juga Electrostatic Precipitator (ESP). ESP ditugaskan untuk menangkap abu hasil proses pembakaran hingga 99,5 persen sebelum dikeluarkan melalui cerobong asap. 

Ada dua jenis abu yang dihasilkan dari pembakaran; fly ash dan bottom ash. Fly ash adalah abu yang berukuran cukup kecil. Sedangkan abu dari proses pembakaran yang biasanya menempel pada dinding-dinding pipa dan jatuh ke bagian bawah, disebut bottom ash. 

"Sisanya dari abu itu ditangkap oleh FGD," kata Agus.

Agus Darmadi bilang, penanganan dampak lingkungan sebagai akibat penggunaan batu bara di PLTU Celukan Bawang dilakukan secara maksimal. PLTU Celukan Bawang memanfaatkan teknologi canggih dalam penanganan limbah batu bara. 

Pasokan batu bara disimpan dalam kubah tertutup yang disebut sistem closed coal yard, dibekali dengan sistem pemadam kebakaran sendiri fire fighting sistem. Seluruh batu bara akan tersimpan rapat-rapat sehingga tidak ada yang terkontaminasi ke luar.

"Sistem tertutup ini satu-satunya yang ada di Indonesia saat ini," kata Agus.

Abu hasil pembakaran batu bara yang dihasilkan, secara teratur diangkut perusahaan pengelola limbah bahan berbahaya dan beracun.  "Ini setiap hari ada 10 sampai 12 unit truk kapsul yang mengangkut abu sisa pembakaran batu bara. Pengangkutan ini kami kerjasamakan dengan pihak ketiga yang sudah punya sertifikat," sambungnya.

Agus menegaskan, seluruh penanganan hasil pembakaran batu bara dipastikan sudah dilakukan sesuai peraturan dan perundang-undangan Lingkungan Hidup yang berlaku.

Kepada era.id, Wakil Ketua Komisi VII DPR Tamsil Linrung bilang perlu ada penambahan untuk memenuhi kebutuhan listrik Bali. Pihaknya dan PLN sedang mempertimbangkan jalan terbaik, salah satunya membangun pembangkit listrik baru di Bali. Kalau pun dibangun yang baru, Tamsil mengingatkan untuk menggunakan energi baru terbarukan.

Agus tak menyangkal kalau menggunakan energi terbarukan adalah solusi ideal. Namun yang perlu digarisbawahi, bentuk energi tersebut tidak stabil karena masih tergantung dengan kondisi cuaca dan alam. Jadi perlu diimbangi dengan pembangkit konvensional.

Bagi Agus, pemanfaatan batu bara sebagai bahan bakar, hingga saat ini merupakan alternatif yang paling efisien serta menekan biaya produksi sehingga tarif listrik sesuai dengan kemampuan daya beli masyarakat khususnya di Bali. Demikian pula ketersediaan batu bara masih mencukupi di Nusantara.

"Penggunaan bahan bakar gas untuk pembangkitan listrik meningkatkan biaya produksi secara signifikan (65%) dibandingkan penggunaan bahan bakar batu bara," tegasnya.
Bagikan :

Reporter : Mery Handayani , Ramdan Febrian Arifin
Editor : Moksa Hutasoit
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Lifestyle
21 Juli 2019 17:41 WIB

Tips Menabung untuk Modal Nikah

Metodenya disebut value based budgeting
Lifestyle
21 Juli 2019 15:25 WIB

VIDEO: Movie Update of the Week

Ada film Asterix The Secret Of The Magic Potion dan Dora and the Lost City of Gold
Nasional
21 Juli 2019 14:02 WIB

Kecanduan Game Bisa Bikin Gangguan Jiwa?

Kabar soal gawai bisa sebabkan gangguan jiwa tengah ramai, berikut penjelasannya...
megapolitan
21 Juli 2019 12:06 WIB

Tiga Lokasi Pelayanan SIM Keliling di Jakarta Hari Ini

Cuma sampai pukul 14.00 WIB, buruan mblo~
Lifestyle
21 Juli 2019 11:16 WIB

Bumilangit Menatap Masa Depan dengan Jagat Sinemanya

Memperkenalkan era jawara dan era patriot hanya di era dot id~