Sabtu, 24 Agustus 2019
Ilustrasi (Ilham/era.id)
12 Juli 2019 10:00 WIB

Cara Akun 'Garis Lucu' Meredam Sensitivitas Agama

Mari bergembira dalam agama
Bagikan :


Jakarta, era.id - Aksi menggalang dana untuk membeli karpet baru Masjid Al-Munawwaroh di Sentul, baru dimulai 3 Juli lalu melalui laman kitabisa.com. Inisiatornya, seorang mahasiswa bernama Muhamad Habibillah dan komunitas follower akun Katolik Garis Lucu (@KatolikG). Tujuh hari berikut, Rp4,2 juta berhasil terkumpul.

Tanpa komando, mereka memang sengaja membuat penggalangan dana. Semuanya buntut dari peristiwa seorang ibu yang membawa anjing, masuk ke dalam masjid sambil mencak-mencak. Pemerintah ketakutan. Semua pihak diminta menahan diri dan menyerahkan persoalan ini kepada polisi. Ibu tadi kini sudah jadi tersangka meski terbukti mengidap schizophrenia paranoia atau skizofrenia paranoid.

@KatolikG, @NUgarislucu dan @MuhammadiyahGL, juga ikut meredam supaya tensi tak meninggi. Namun cara mereka unik, bukan sekadar imbauan. Admin @KatolikG langsung merilis permintaan maaf yang tak biasa.

"Memasuki rumah ibadah tanpa membuka sepatu, dan membawa anjing adalah kebodohan. Sebagai sesama katolik, kami malu dan memohon maaf atas kebodohan ini," tulis adminnya sambil mencolek akun garis lucu lainnya seperti @NUgarislucu dan @MuhammadiyahGL. 


Baca Juga : Timpal-timpalan Kocak Akun Garis Lucu

Terasa sejuk karena kicauan yang mendapat lebih dari 10.000 likes itu dibalas juga dalam bentuk permintaan maaf dari umat muslim. Pemilik akun @dimzy1010 misalnya, ia meminta maaf karena dalam video itu ada seorang pria meladeni ibu-ibu pembawa anjing dengan marah-marah.


Tangkap layar akun Katolik Garis Lucu

"Saya juga mohon maaf sebagai muslim, karena bapak memakai peci berbaju merah harus meladeni dengan marah marah serta mendorong seorang wanita. Seharusnya juga tidak ikut marah. Cukup dengan ketenangan melawan seseorang yang sedang marah." tulisnya. 

Munculnya tenggang rasa, hadirnya dialog saling memaafkan, membuat situasi terlihat lebih sejuk. Alih-alih saling menghujat, para warganet yang berinteraksi di bawah unggahan akun @KatolikG itu, justru menyebar rasa saling menghargai, cinta kasih, dan yang terpenting, menjunjung nilai-nilai toleransi. Kicauan itu lumayan berhasil meredakan konflik.

Bahasan soal agama di era sekarang ini memang semakin sensitif. Salah-salah dikit, dampaknya bisa sebesar bukit. Fenomena ini bikin banyaknya bermunculan akun-akun bergenre "garis lucu" yang ingin bisa bikin suasana lebih adem. 

Bisakah kehadiran mereka menjadi oase di tengah panasnya gesekan antar agama? Bagaimana cara mereka meredam polemik tersebut?



Tangkap layar akun Katolik Garis Lucu


Sekitar seminggu sebelum kasus anjing masuk masjid ramai, ruang publik riuh membicarakan Deddy Corbuzier menjadi mualaf. Pesulap yang sekarang menjadi pewara itu berpindah agama dari Katolik menjadi Islam. 

Kabar kepindahan agama Deddy dikemas dengan jenaka oleh akun @KatolikG. Akun itu menyerahkan Deddy kepada akun @NUgarislucu layaknya upacara serah terima. 

"Hari ini kami serahkan @corbuzier ke @NUgarislucu untuk selanjutnya silahkan disunat dan diarahkan," tulis akun @KatolikG. 

"Siap, ndan. Ajaran-ajaran baik dari sampean tetap kami pertahankan," timpal admin @NUgarislucu.

Aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Guntur Romli setuju kalau akun-akun bergenre "garis lucu" bisa jadi oase di tengah panasnya konflik soal agama. Mereka, kata Guntur Romli, mencoba membawa kembali aura kegembiraan dalam beragama. 

"Tujuannya ya itu, kita kan selera humor dalam keagamaan kita hilang karena juga politik, persaingan politik, juga karena radikalisme keagamaan. Itu yang dulu, zaman Gus Dur lakukan, beragama dengan rileks," katanya kepada era.id.

Romli bercerita, kemunculan akun NU Garis Lucu sebenarnya sebagai bentuk perlawanan terhadap NU garis lurus. Menurut Romli,  orang-orang yang mengaku sebagai NU Garis Lurus cenderung lebih radikal, suka mengkafir-kafirkan orang. NU Garis Lucu jadi antitesis dari NU garis lurus.

"Itu sebagai bentuk protes lah terhadap orang yang beragama terlalu serius," pungkasnya. 
 
Di era digital seperti sekarang ini, media sosial memang bisa menjadi salah satu sarana penyebaran agama yang cukup efektif.  Ada sebuah penelitian yang membuktikan kalau akun garis lucu seperti NU Garis Lucu adalah salah satu platform yang cukup berhasil dalam menyebarkan informasi keagamaan khususnya untuk anak muda.

Jadi ada sebuah penelitian yang coba merumuskan bagaimana melakukan upaya deradikalisasi agama pada generasi milenial melalui pemanfaatan situs web dan akun sosial media. Hasilnya, memang sosial media cukup memberikan dampak terhadap deradikalisasi tersebut.

Riset itu diawali dari penelitian Nielsen Company pada Juli 2017 yang menyebut generasi milenial berusia 20-34 tahun lebih menyukai internet dan media bioskop untuk mendapatkan konten. Oleh karena itu menurut penelitian Sari Hernawati dalam Atlantis Press (2019), melihat salah satu variabel penelitiannya, akun Twitter @NUgarislucu, punya andil besar terhadap proses deradikalisasi. 

Selain karena keterjangkauan platformnya itu sendiri, @NUgarislucu bisa menghibur para generasi muda. Faktor menghibur itu, menjadi salah satu alasan mengapa banyak generasi milenials yang menyukai akun tersebut.

Buktinya, masih menurut penelitian Hernawati (2019) sebanyak 1.828 responden pengguna Twitter, sebanyak 72 persennya mengaku merasa terhibur oleh akun tersebut. Selain itu, penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa “akun media sosial yang lucu, kemungkinan akan lebih banyak mendapat simpati dari para pengikutnya". 

Tangkap layar akun Muhammadiyah Garis Lucu
Bagikan :

Reporter : Ramdan Febrian Arifin
Editor : Moksa Hutasoit
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
23 Agustus 2019 21:33 WIB

Kunjungi Festival Indonesia Maju, Megawati Nostalgia Saat Jadi Presiden

Acaranya masih ada sampai 25 Agustus, ke sana yuk mblo~
Nasional
23 Agustus 2019 21:01 WIB

OPM Diduga Tunggangi Kerusuhan di Papua

"OPM itu amat merugikan bagi masyarakat Papua itu sendiri"
Nusantara
23 Agustus 2019 20:17 WIB

Satu Anggota KKB Tewas dalam Kontak Senjata di Pasar Wamena

Polisi dan masyarakat juga ikut terluka~
megapolitan
23 Agustus 2019 19:11 WIB

Komisi Impian Tina Toon di DPRD

Tina Toon akan tempati DPRD DKI Jakarta. Apa yang ideal buat Tina?
Nasional
23 Agustus 2019 18:15 WIB

Banyak Masalah Kesenjangan di Papua yang Ditutupi

"Ada kesenjangan ekonomi, HAM, dan keamanan yang harus kita evaluasi"