Sabtu, 24 Agustus 2019
PPSU saat membersihkan jalan (Instagram/DinasLHDKI)
13 Agustus 2019 12:24 WIB

Melindungi Pasukan Oranye dari Tragedi Tabrak Lari

Sejumlah kasus gambarkan bahayanya pekerjaan. Sampai mana negara melindungi mereka?
Bagikan :


Jakarta, era.id - Lina (37) meregang nyawa di depan Gedung UpperHills Convention Hall, Jalan Metro Tanjung Bunga, Kecamatan Mariso, Kota Makassar. Ia jadi korban tabrak lari saat mengerjakan tugas hariannya: menyapu jalan. Tragedi Lina harus jadi yang terakhir. Negara harus hadir untuk melindungi para pahlawan kebersihan.

Kisah Lina jadi viral, setelah sebuah video beredar. Dalam video itu, tampak anak Lina yang berusia sekitar empat tahun tak berhenti menangis memandangi jasad sang ibu yang terbujur kaku. Menurut cerita, sang anak selalu menemani Lina setiap kali ia bekerja di sepanjang jalan Metro Tanjung Bunga, Kota Makassar.

Sebelum Lina, tragedi ini juga sempat menimpa Naufal Rosyid (24). Ia adalah petugas prasarana dan sarana umum (PPSU) DKI Jakarta. Maret lalu, Naufal meninggal dalam tragedi serupa. Sekitar pukul 05.30 WIB, Naufal ditemukan terkapar di tepi jalan di bawah jalan layang Pasar Rebo, Jakarta Timur, masih dengan sapu dan seragam oranyenya.

Kasus ini menimbulkan keresahan. Bagi para pengemudi, keberadaan PPSU atau pasukan oranye di jalanan jadi semacam rintangan. Dewo (28) menuturkan pada kami pengalamannya hampir celaka karena PPSU. Suatu hari, pagi buta sekitar pukul 05.00 WIB, Dewo menyetir mobil dengan kecepatan sekitar 80 kilometer per jam.


Baca Juga : VIDEO: Kata Anies soal PPSU Cantik yang Ditubruk

Seperti hari-hari biasanya, di waktu tersebut, orang-orang kerap menyetir dengan kecepatan tinggi. Pada jam-jam itu juga, seringkali lampu jalan sudah mati. Dewo bercerita, kondisi jalanan saat itu gelap. Saat melewati jalan Lenteng Agung Raya ke arah kantornya di Rasuna Said, Dewo hampir menyerempet seorang PPSU yang menyapu di lajur kanan jalan.

Mobil Dewo sempat oleng ketika ia membanting setir ke arah kiri. Dewo juga hampir mencelakai pengendara motor di sebelahnya akibat gerakan mendadak itu. “Dekat banget (tabrakan). Jalanan gelap banget. Tahu kan, menyetir di jam-jam segitu gelap banget buat mata. Sama rasanya seperti menyetir di sore menjelang malam,” tuturnya kepada era.id, Selasa (13/8/2019).

“Tak ada masalah (keberadaan PPSU) sebenarnya. Siang hari atau sore hari itu oke saja. Tapi, pagi hari ketika orang berangkat ngantor, itu riskan banget. Jam-jam itu lebih bahaya dari tengah malam. Mata gelap. Mungkin karena (mata) adaptasi terhadap (cahaya) matahari yang mulai muncul.”


Dekat dengan bahaya

Dari sisi para pasukan oranye, keresahan jelas lebih besar. Hendrawan (38), pasukan oranye dari Kelurahan Kemanggisan, Jakarta Barat menuturkan keresahannya bekerja dalam bahaya, terutama di jam-jam pagi buta. Menurut Hendrawan, ia biasa berangkat pukul 04.30 WIB dari rumahnya ke area kerjanya di Tugu Manggis hingga pertigaan Jalan Kemanggisan Utama.

Menurut Hendrawan, rata-rata para petugas diwajibkan memulai pekerjaan pada pukul 05.30 WIB. “Kalau sudah beres, boleh istirahat. Nanti sekitar jam 13.00 WIB kita mulai lagi menyisir jalan. Jam 15.00 WIB sudah boleh pulang,” kata Hendrawan, saat ditemui di Jalan Raya Kemanggisan, Jakarta Barat, Selasa (13/8/2019).

“Saya kan berdua, saya sisi kiri dan teman saya sisi kanan ... Soalnya kalau siangan dikit jalanan di sini macet banget. Susah nyapunya. Berangkat lebih pagi, selesainya juga lebih cepat. Jadi bisa istrirahat lebih cepat juga. Kalau berangkat jam 05.30 WIB, jalanan sudah ramai, nyapu juga susah.”


Hendrawan (Mery/era.id)
 

Hendrawan turut bercerita soal pengalamannya bersinggungan dengan bahaya. Menurut Hendrawan, ia sering diserempet sepeda motor saat membersihkan jalan utama. “Padahal, kadang sudah saya kasih plastik sampah di dekat saya nyapu ... Teman saya pernah lagi nyapu, hapenya dijambret ... Ada juga yang sering banget keserempet.”

Lebih lanjut, Hendrawan menuturkan harapannya: Saya cuma berharap, pengguna jalan tidak semena-mena. Kita sama-sama kerja. Lebih sedikit peduli lah. Toh, juga saya kerja untuk kepentingan bersama. Jalanan jadi bersih kan enak juga dilihat. Kalau ada petugas PPSU yang lagi nyapu jalan, ya bawa motor atau mobilnya pelan-pelan.

Terkait dengan banyaknya rekan seprofesi yang meregang nyawa saat bertugas, Hendrawan berharap ada solusi yang dapat melindungi mereka. Hendrawan juga berharap pemerintah dapat memerhatikan kesejahteraan para pasukan oranye. Tak cuma untuk hari ini, tapi juga di hari tua.

“BPJS ada. Kesehatan sama ketenagakerjaan aja. Tapi kalau tunjangan hari tua itu yang enggak ada ...  Yang nabrak itu harus bertanggung jawab. Jangan kabur gitu aja. Kita kan kerja jelas.”


Melindungi penyapu jalan

Terkait dengan berbagai kisah di atas, kami menghubungi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta yang bertanggung jawab atas kerja para pasukan oranye. Menurut mereka, pasukan oranye sejatinya memiliki alat pelindung diri berupa seragam scott light. Seragam itu diberikan sebagai upaya perlindungan bagi petugas oranye.

"Jadi, ada scott light-nya tuh. Di baju, di celana. Jadi, kalau disorot lampu mobil dalam kegelapan akan kelihatan sebenarnya," kata Humas DLH DKI Jakarta, Yogi Ikhwan, Senin (12/8).

Soal berbagai tragedi ini, DLH DKI Jakarta mengaku telah melakukan kajian. Benar memang, bahwa jam-jam dini hari dan pagi buta, terutama di Jumat dan Sabtu malam sebagai waktu-waktu paling riskan bagi pekerjaan pasukan oranye. Menurut Yogi, kesalahan biasanya timbul dari sisi pengemudi.

"Paling banyak statistiknya saat itu ketika orang begadang atau dari hiburan malam, pulang nyetir sempoyongan ya gitu kejadiannya."

Pengamat transportasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Muslich Zainal Asikin berpendapat, berbagai tragedi yang menimpa pasukan oranye harus jadi evaluasi besar-besaran, terutama terkait pelaksanaan SOP.

"Bukan salah petugasnya sih, tapi SOP-nya. Petugas kebersihan itu di setiap kota ditingkatkan ... Kemudian seragam itu enggak boleh berubah-ubah warnanya, biar pengemudi mengenali kalau itu petugas kebersihan," tutur Muslich, Senin (12/8).

Bagikan :

Reporter : Diah Ayu Wardani , Mery Handayani
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
23 Agustus 2019 21:33 WIB

Kunjungi Festival Indonesia Maju, Megawati Nostalgia Saat Jadi Presiden

Acaranya masih ada sampai 25 Agustus, ke sana yuk mblo~
Nasional
23 Agustus 2019 21:01 WIB

OPM Diduga Tunggangi Kerusuhan di Papua

"OPM itu amat merugikan bagi masyarakat Papua itu sendiri"
Nusantara
23 Agustus 2019 20:17 WIB

Satu Anggota KKB Tewas dalam Kontak Senjata di Pasar Wamena

Polisi dan masyarakat juga ikut terluka~
megapolitan
23 Agustus 2019 19:11 WIB

Komisi Impian Tina Toon di DPRD

Tina Toon akan tempati DPRD DKI Jakarta. Apa yang ideal buat Tina?
Nasional
23 Agustus 2019 18:15 WIB

Banyak Masalah Kesenjangan di Papua yang Ditutupi

"Ada kesenjangan ekonomi, HAM, dan keamanan yang harus kita evaluasi"