Kamis, 24 Januari 2019
Ilustrasi Rahmad M Arsyad (era.id)
22 April 2018 06:47 WIB

Pak Amien, Apakah Tuhan Berpolitik?

Agama dan Tuhan, terlalu agung untuk sekadar berpartai 
Bagikan :


Jakarta, era.id - Saya tidak habis pikir, sejak kapan Tuhan memiliki partai, apalagi ikut berpolitik? Sesungguhnya, apa yang disampaikan Amien Rais adalah pengerdilan Tuhan yang sangat nyata. Karena seolah-olah yang Maha Kuasa, sangat butuh partai politik untuk bisa eksis.

Begitu rendah Tuhan di mata seorang Amien Rais, sampai harus ikut-ikutan dalam urusan politik negeri ini. Penjelasan tentang maksud Amien, bahwa makna partai sebagai 'hizb', seperti keterangan Drajad Wibowo yang mengutip Al Maidah 56, yang dimaksud adalah 'kelompok', 'pengikut agama Allah', juga terkesan retoris semata.

Karena Ayat dalam Al-Maidah 56 itu sendiri, sesuai tafsir Alquran; "Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang" dari teks Alquran tersebut, jelas yang dimaksud adalah pengikut 'Agama Allah'. 

Pertanyaannya, bisakah 'pengikut agama Allah' lantas pemaknaannya disempitkan menjadi partai, apalagi sekadar partai politik?


Baca Juga : Mungkinkah Seorang Pencuri Korek Bisa Dijerat Hukum?

Ketika mengacu pula pada kata agama yang berasal dari bahasa sansekerta, dimana A berarti (tidak) gama (kacau) secara ilmu etimologi, berarti kehidupan yang tidak kacau. Dari sisi kebahasaan bermakna jelas, mereka yang menjadi pengikut agama Allah adalah mereka yang pandangan dunianya selaras dengan kehendak Tuhan.

Mendikotomikan kehadiran Tuhan dalam dua polarisasi, layaknya pendukung calon presiden antara partai Allah dan partai setan atau pendukung presiden Allah atau pendukung presiden setan juga adalah cara pandang yang bermasalah. Karena, siapakah yang punya otoritas dalam menetapkan dan memberikan kategori hizballah dan hizbasy-syaithan? Amien Rais?

Saya kurang paham, apa yang terjadi dalam logika agama dan politik seorang Amien Rais dan mereka yang coba membangun kategori yang begitu tajam antara partai Allah dan partai setan. Apakah ada, sebuah partai yang mencantumkan ideologinya sebagai partai setan?

Jika pertanyaannya kita bawa pada arena yang lebih kritis, apakah partai politik yang berasaskan partai Islam atau partai yang pernah dipimpin oleh Amien Rais benar-benar adalah partai Allah? Lantas, mengapa kader-kader mereka yang mengaku-ngaku partai Islam dan membawa-bawa Tuhan itu, masih melakukan serangkaian hal terlarang? 

Seperti berita yang banyak tersebar, mantan kader partai Amien Rais, Gubernur Zumi Zola dan mantan Gubernur Sultra Nur Alam tersandung korupsi. Pantaskah karena peristiwa tersebut, kita langsung melakukan over-generalisasi bahwa partai Islam salah dan anggota partai Allah korupsi?

Demikian pula, fakta politik yang senantiasa terjadi di mana partai Islam senantiasa kalah dalam pemilu, apakah itu menunjukkan partai Allah kalah? Padahal janji Tuhan sendiri, sebagaimana logika yang dikutip Amien Rais dalam surah Al-Maidah 56 bahwa partai Allah, pasti menang.



Berhenti Menjual Agama dan Tuhan

Semakin lama, saya semakin kagum dengan pikiran Cak Nur empat puluh tahun silam. Saya akhirnya mengerti, mengapa guru bangsa itu mengeluarkan istilah 'Islam Yes, Partai Islam No'. Karena memang banyak yang mengatasnamakan agama dan Tuhan, sekadar sebagai jualan politik. Cara untuk meraup dukungan suara pemilih.

Lewat jebakan-jebakan simbol dan label yang mereka ciptakan sendiri, justru telah mengerdilkan agama yang begitu mulia menjadi kehilangan keagungan, kemulian dan kejernihan. Padahal Islam sebagai sebuah agama penuh dengan kemuliaan, harusnya menjadi Rahmatan lil alamin bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan malah dijadikan sebagai sarana pertentangan, apalagi sekadar hanya sebuah jualan politik.

Sudah waktunya perdebatan yang disajikan elite politik negeri ini, mengarah pada hal-hal yang lebih substansi. Misalnya saja, bagaimana melawan para pendusta agama yang diancam oleh Allah, yakni mereka yang tidak memberikan hak-hak fakir miskin dan anak yatim. Menghadapi para Qurun yang menguasai hajat hidup orang banyak dan suka berbuat semena-mena. 

Jika mereka elite partai Islam dan benar-benar ingin menjadikan asas Islam sebagai sarana perjuangan, harusnya mereka tampil menjadi juru damai seperti Rasulullah mendamaikan pertentangan sengit antara Bani 'Aus dan Bani Khazraj di Madinah, bukan malah menjadi juru sumber pertikaian sesama anak bangsa. 

Sudah waktunya kita menjadikan ajaran Islam sebagai spirit politik untuk mewujudkan kebaikan dan kesejahteraan seluruh rakyat, bukan malah menjadi jualan politik. Biarlah politik menjadi arena adu gagasan bukan tempat menjual agama dan Tuhan. Karena agama dan Tuhan, terlalu agung untuk sekadar berpartai apalagi masuk partainya Pak Amien. 

Ah, Pak Amien, sudahlah…

Dr. Rahmad M Arsyad
Direktur Indonesia Development Engineering Consultant


Era ide adalah kumpulan tulisan dari para pemikir negeri ini. Kami mau era ide bisa memberikan pemahaman baru bagi pembaca media ini. Jika ada opini kamu mengenai sebuah peristiwa politik, hukum atau apapun, silakan kirim tulisan ke redaksi@era.id.
Bagikan :

Reporter : ERA.ID
Editor : Moksa Hutasoit
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Lifestyle
24 Januari 2019 19:33 WIB

Betapa Mulianya Seorang Roger Waters

Pendiri Pink Floyd ini mempertemukan seorang ibu dengan dua anaknya yang diculik
Nasional
24 Januari 2019 19:09 WIB

Kubu Prabowo Memaknai Salam Tiga Jari Ahok

Ini pertanda tidak ingin terlibat Pilpres 2019
Nasional
24 Januari 2019 18:44 WIB

Hottest Issue Malam, Kamis 24 Januari 2019

Ada berita tentang doa Ahoker, kemunculan Bripda Putri dan OTT Bupati Mesuji 
Olahraga
24 Januari 2019 18:21 WIB

Cedera Kaki Neymar Kambuh Lagi

Tuchel pun pusing tujuh keliling
Peristiwa
24 Januari 2019 17:53 WIB

Temui Kubu Jokowi, Dubes Asing Bantah Berpihak di Pilpres 2019

Enggak ada keberpihakan, ini demokrasi negara orang cuy