Rabu, 26 Juni 2019
Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi (Diah/era.id)
31 Mei 2019 19:14 WIB

Pemilu Sudah Selesai Mari Kita Maaf-memaafkan

Sudahi persaingan, yuk tegor sapa lagi
Bagikan :


Jakarta, era.id - Momen Lebaran identiknya dengan kegiatan untuk saling memafkan satu sama lainnya. Apalagi Pemilu 2019 juga telah usai. Ini saat paling tepat untuk kembali merajut tali silaturahmi.

Kita memang sempat merasakan panasnya situasi perpolitikan yang terjadi. Coba lihat saja grup WhatsApp keluarga atau sekolah kalian, malah jadi tempat perdebatan antarpendukung. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang menghapus pertemanan karena berbeda pandangan politiknya. 

Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi bilang, di penghujung bulan Ramadan ini, jadi waktu tepat untuk kembali memperbaiki hal-hal yang telah renggang kemarin.

"Momen lebaran tahun ini, kita harapkan bisa menjadi wahana untuk merekatkan kembali ikatan persaudaraan yg kemarin sempat terkoyak karena berbeda pilihan politik pemilu kemarin," kata Pramono di Kantor KPU RI, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Jumat (31/5/2019).


Baca Juga : Sambil Selesaikan Pemilu 2019, KPU Bersiap Hadapi Pilkada 2020



Memulihkan kembali suatu hubungan seperti semula atau konsiliasi, kata Pramono, tak hanya menyasar masyarakat biasa. Kalangan elite politik sudah seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat untuk membangun kembali jarak yang renggang karena pemilu.

"Jangan hanya secara simbolik, tapi betul-betul rekonsiliasi yang tulus. Di samping persoalan politik yang tersisa itulah harus diselesaikan melalui koridor hukum yang disediakan oleh Undang-undang," ucap Pramono. 

Yang kedua, rekonsilisasi dalam tataran akar rumput atau masyarakat pendukung masing-masing kubu. Pada level inilah mereka yang sebenarnya mengalami imbas dan terpengaruh oleh konflik politik. 

Ditambah lagi dengan adanya narasi penyebaran hoaks yang berkembang di masyarakat, konflik politik ini sudah bukan lagi menjadi sebuah strategi seperti yang dianggap para elite, melainkan sudah menjadi perang bagi masyarakat. 

"Masyarakat kita itu konfliknya bukan hanya dianggap sebagai permainan, tapi ini jadi seperti perang total atau jihad bagi mereka," ungkap dia.



Dengan demikian, rekonsilisasi di dua level ini harus berjalan beriringan. Karena, lanjut Pramono, rekonsiliasi di tingkat masyarakat ini bisa dimulai jika ditingkat elitenya memberi contoh dulu.

"Ketika di tingkat elitnya sudah memberi contoh, maka jauh lebih mudah di tingkat masyarakat melakukan rekonsiliasi. Tapi, kalau di tingkat elitenya masih menunjukkan narasi provokatif, maka akar rumput ini akan susah untuk membangun rekonsiliasi yang mendalam," pungkasnya. 


 
Bagikan :

Reporter : Diah Ayu Wardani
Editor : Aditya Fajar
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
megapolitan
25 Juni 2019 21:57 WIB

Mungkin ini Penyebab LRT Velodrome-Kelapa Gading Belum Beroperasi

Ada bau yang tak sedap sepertinya...
 
Nasional
25 Juni 2019 19:15 WIB

TKN Gelar Nobar Putusan Sidang Gugatan Prabowo

Daripada turun ke jalanan dan demo mending nonton di TV
Nasional
25 Juni 2019 18:48 WIB

Bakal Ada Demo di MK, Wiranto: Apa yang Diperjuangkan?

Apa yang kalian cari, wahai ferguso?
Nasional
25 Juni 2019 18:10 WIB

Ahok yang Terseret Kala Denny Indrayana Sindir Eddy Hiariej

Semua karena Ahok....
Nasional
25 Juni 2019 18:05 WIB

VIDEO: Palsukan Ijazah, Pelawak Qomar Ditahan

Qomar telah ditahan sejak Senin malam