Jumat, 21 Februari 2020
Ilustrasi (pixabay)
09 Oktober 2019 09:00 WIB

Twin to Twin Transfusion Syndrome yang Hantui Bayi Kembar

Tetap waspada ya, Bunda
Bagikan :
Jakarta, era.id - Media sosial beberapa hari belakangan diramaikan oleh kabar meninggalnya anak kembar dari pasangan aktris Irish Bella dan Ammar Zoni. Menurut dokter, bayi Irish meninggal karena mengalami kondisi Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS).

Apa sebenarnya TTTS ini? Dikutip dari Hopkins Medicine, Twin-to-Twin Transfusion Syndrome adalah kondisi komplikasi kehamilan yang terjadi pada kembar identik di mana anak kembar berbagi satu plasenta dan jaringan pembuluh darah yang memasok oksigen dan nutrisi untuk perkembangan di dalam rahim. Kehamilan ini dikenal sebagai monochorionic.

Sindrom ini tergolong langka karena terjadi ketika pembuluh darah dalam plasenta tak terbagi secara merata sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam pertukaran darah antara si kembar. Hal ini menyebabkan salah satu janin menerima terlalu banyak darah yang membuat kerja jantung berlebihan serta memicu komplikasi jantung. Di sisi lain, kondisi ini juga membuat salah satu janin kekurangan gizi dan kegagalan organ. 

Berdasarkan American Pregnancy Association, sindrom ini merupakan komplikasi serius dengan presentase sebesar 15 persen terjadi pada kembar identik, sementara itu kembar fraternal tidak berisiko mengalami sindrom ini karena mereka tak berbagi plasenta.

Baca Juga: Mereka yang Bertanggung Jawab Jika Anak Kecil Terpengaruh Joker

Sebagai infromasi, kembar identik terjadi ketika satu sel sperma membuahi satu sel telur yang kemudian membelah diri menjadi dua. Sedangkan, kembar tidak identik atau fraternal terjadi ketika dua sel telur dibuahi oleh dua sel sperma, demikian dikutip Alodokter.

Mendeteksi TTTS

Seorang dokter mungkin mencurigai Twin-to-Twin Transfusion Syndrome berdasarkan hasil USG prenatal rutin. Dokter dapat mengkonfirmasi diagnosis TTTS dengan melakukan pengujian yang lebih rinci untuk mengukur volume cairan ketuban, pengisian kandung kemih, dan aliran darah pada kedua janin.

Ketika ada peningkatan yang cepat pada volume cairan ketuban, rongga rahim akan mengembang dengan kecepatan yang tinggi. Hal ini akan menempatkan ibu dalam risiko persalinan prematur dan pemendekan serviks. Karena alasan inilah, panjang serviks, dan aktivitas uterus sangat penting pada semua wanita yang diduga menderita TTTS.

Faktor penting lainnya adalah menentukan keadaan disfungsi kardiovaskular pada janin. Inilah sebabnya mengapa diagnosis TTTS akan mencakup pemeriksaan terperinci pada kedua jantung janin. Selain itu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melihat sindrom ini.

Dikutip dari American Pregnancy Association, pertama adalah melihat ukuran yang nyata pada janin dengan jenis kelamin yang sama. Lalu melihat perbedaan ukuran antara dua kantung ketuban, perbedaan ukuran tali pusar, serta melihat adanya plasenta tunggal. 

Baca Juga: Deretan Manfaat Minyak Alpukat untuk Kesehatan

Selain itu, bukti cairan menumpuk dalam kulit janin dan penemuan gagal jantung kongesif pada bayi kembar resipien juga bisa menjadi tanda. Serta melihat Polihydramnios (kelebihan cairan amniotik) pada bayi kembar resipien, dan Oligohydramnios (penurunan atau sangat sedikitnya cairan amniotik) pada bayi kembar pendonor.

Bukan hanya dilihat pada janin. TTTS ini juga bisa dilihat dari ibu dengan tanda-tanda seperti merasakan sensasi pertumbuhan yang cepat pada kandungan hingga rahim yang berukuran besar. Selain itu, sakit perut, sesak, atau kontraksi kerap dirasakan ibu hamil. Faktor lainnya adalah peningkatan berat badan secara drastis dan pembengkakan pada tangan dan kaki pada awal kehamilan.

Ibu dengan janin kembar yang menderita Twin to Twin Transfusion Syndrome memiliki potensi komplikasi seperti kelahiran prematur baik karena membran yang pecah atau induksi, cacat pernapasan, pencernaan, atau kelainan otak pada bayi kembar resipien karena kelebihan cairan, anemia yang dialami bayi pendonor, hingga menyebabkan kematian janin.

Jika sang ibu sudah didiagnosis mengidap sindrom ini direkomendasikan untuk melakukan USG mingguan setekah 16 minggu hingga akhir kehamilan untuk mengawasi perkembangan TTTS ini sekalipun tanda-tanda TTTS telah menurun, demikian menurut The Twin to Twin Transfusion Syndrome Foundation.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Noor Pratiwi
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
20 Februari 2020 22:22 WIB

What's On Today, 20 Februari 2020

Podcast berita Indonesia terkini yang disajikan dengan cara berbeda
Nusantara
20 Februari 2020 21:08 WIB

Tak Bisa ke Indonesia, Mahasiswa Unpad Asal China Kuliah Online

Gara-gara COVID-19
Lifestyle
20 Februari 2020 20:32 WIB

Riki Rhino, Film Animasi Karya Anak Bangsa

Ridwan Kamil 'jadi' Elang Jawa
Lifestyle
20 Februari 2020 19:38 WIB

Eddies Adelia yang Belum Siap Berhijab Syar'i

Yang penting tertutup dulu