Rabu, 12 Desember 2018
Riki Noviana (Ilustrasi Mahesa/era.id)
10 November 2018 08:00 WIB

Menapaki Momen Masa Muda Melalui Guns N' Roses

Kita tidak akan pernah bisa melupakan cinta pertama kita
Bagikan :


Jakarta, era.id - Hari raya itu akhirnya tiba, perjamuan agung itu akhirnya terlaksana. Guns N’ Roses membayar lunas utang mereka kepada para penghambanya di Indonesia lewat sebuah konser tak terlupakan bertajuk Not In This Lifetime Tour di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 8 November 2018.

Kilas Balik Guns N' Roses

Dua dekade lebih bukanlah rentang waktu penantian yang singkat. Di tengah tur Use Tour Illusion yang panjang pada 1992 silam, para pecinta musik rock Indonesia--termasuk saya yang saat itu duduk di kelas 2 SMP--mendambakan kedatangan band yang pernah dilabeli 'The Most Dangerous Band In The World' ini ke Tanah Air. Setahun kemudian, harapan itu memang sempat menganga. Tapi lantas sirna tatkala konser Metallica di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan berujung rusuh. Kabar kedatangan Guns N’ Roses yang kala itu diawaki Axl Rose (vokal), Slash (gitar), Gilby Clarke (gitar), Duff McKagan (bass), Dizzy Reed (kibord) dan Matt Sorum (drum) pun hilang tanpa bekas.

Beberapa tahun berselang, Indonesia berhasil menghapus citra buruk imbas dari kerusuhan tersebut, sekaligus membuka kembali gerbang bagi band-band rock mancanegara yang ingin menyambangi Tanah Air. Saya kembali berharap Guns N' Roses datang ke Indonesia. Tapi sayang, saat itu tubuh band ini sedang dalam kondisi sakit keras. Konflik panjang yang diawali dengan mundurnya Gilby Clarke pada 1994, berlanjut dengan Slash pada Oktober 1996, pemecatan Matt Sorum setahun berselang yang disusul pengunduran Duff McKagan pada tahun yang sama menempatkan posisi Guns N’ Roses di ujung tanduk. Dengan hanya menyisakan Axl dan Dizzy plus gitaris ritem baru Paul Tobias, Guns N’ Roses mati suri sekaligus menyisakan utang besar kepada seluruh rakyat rock Indonesia.


Baca Juga : VIDEO: One Direction Bakal Reuni Besar

Meski gitaris band rock industrial Nine Inch Nails (NIN), Robin Finck, kemudian masuk menggantikan Slash, harapan khalayak rock untuk melihat aksi 'gila' Guns N’ Roses seakan gagal total. Soalnya, Axl terlihat lebih nyaman ‘berperang’ dengan para mantan personel Guns N’ Roses ketimbang mempertahankan eksistensi bandnya. Apalagi, dua tahun kemudian Robin kembali ke pangkuan vokalis Trent Reznor (pentolan NIN) lantaran kontraknya dengan Guns N’ Roses habis.

Tapi, tanda-tanda kebangkitan Guns N’ Roses mulai terendus sebelum Robin mundur. Axl memugar puing-puing Guns N’ Roses yang luluh lantak bersama sejumlah musisi pilihannya. Tommy Stinson (bass), Chris Pitman (kibord), dan Josh Freese (drum) direkrut untuk menemani dirinya, Dizzy Reed (kibord), Paul Tobias (gitar), dan tentunya Robin Finck (gitar). Mereka lantas memulai proses rekaman album keenam pada 1997. Informasi ini saya dapatkan dari majalah HAI, yang saya beli di loper koran dan majalah di kawasan stasiun Bogor.

Untuk langkah awal, ‘The New Guns N’ Roses’ ini menceploskan single Oh My God ke dalam album soundtrack film End Of Days (yang dibintangi Arnold Schwarzenegger) pada 1999. Di lagu ini, Axl juga mengajak dua additional guitarist--Dave Navarro (Jane’s Addiction) dan guru gitar pribadi Axl, Gary Sunshine--untuk berpartisipasi. Berselang setahun, gitaris Buckethead direkrut untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Robin Finck yang ditindaklanjuti dengan penampilan pertama Guns N' Roses sejak vakum, pada 2001 di Las Vegas dan Rio De Janeiro (Rock in Rio). Pada periode ini, gitaris Robin Finck sempat kembali bergabung menemani Buckethead, dan drummer Bryan Mantia masuk menggantikan Josh Freese.

Memasuki tahun 2002, lantaran mengalami frustasi sepanjang tur, gitaris ritem Paul Tobias meninggalkan Guns N' Roses dan digantikan Richard Fortus. Atas saran Joe Satriani, dua tahun kemudian, Ron 'Bumblefoot' Thal juga masuk menggantikan Buckethead dan melakukan penampilan perdananya bersama band ini di Hammerstein Ballroom di New York City pada 12 Mei 2006. Sementara itu, penggarapan album baru Guns N' Roses terus digarap demi mencapai kesempurnaan. Dan saya, tak pernah berhenti berharap Axl Rose dkk singgah ke Indonesia.

Chinese Democracy baru benar-benar dirilis pada 2008. Sebuah album yang digarap paling lama (10 tahun) dan memakan biaya produksi paling mahal (13 juta dolar AS) dalam sejarah musik rock. Album ini pulalah yang akhirnya mendaratkan Guns N’ Roses di bumi Nusantara pada 16 Desember 2012 lewat gelaran konser akbar di MEIS (Mata Elang International Stadium) Ancol, Jakarta. Meski Axl datang bersama--lebih layak disebut--band pengiringnya, yakni Dizzy Reed (kibord, piano, perkusi), Tommy Stinson (bass), Chris Pitman (kibord), Richard Fortus (gitar), Frank Ferrer (drum), Ron 'Bumblefoot Thal (gitar), dan DJ Ashba (gitar) saya sudah cukup senang.

Not In This Lifetime Tour - Jakarta

Sepuluh tahun lalu, mentor saya--jurnalis dan pengamat musik senior--Kang Denny MR pernah menegur saya ketika tulisan saya di salah satu majalah tidak 'mencerminkan' profesi. Saya dianggap tidak objektif lantaran menempatkan diri sebagai penggemar ketika menulis reportase sebuah konser musik. Katanya, dengan menempatkan diri sebagai penggemar, sadar tak sadar kita 'hanya' akan menulis semua hal bagus tentang si artis/band. 

Saya berterima kasih kepada guru saya ini sehingga tulisan-tulisan saya berikutnya bisa menjadi lebih baik. Tapi, bagaimana jika yang tampil di depan mata adalah pahlawan masa remaja saya? Band yang membuat saya ingin menjadi rockstar (meskipun tidak pernah tercapai)? Vokalis yang membuat saya membentuk band (kampung) dan membuat saya berlarian di atas panggung ketika menyanyikan lagu-lagunya? Gitaris yang membuat saya merengek minta dibelikan gitar elektrik kepada ayah saya? Bassis yang membuat saya mengenakan kalung rantai bermata gembok saat SMA?  

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada Kang Denny MR, izinkanlah saya mengeluarkan segala hal yang saya lihat, cium, dengar, dan rasakan saat menyaksikan konser Guns N' Roses di Jakarta, 8 November kemarin. Seperti yang saya tulis di media sosial beberapa saat sebelum Axl dkk naik ke atas panggung, selama konser berlangsung saya tidak mengabadikan mereka dengan kamera telepon genggam saya. Saya memilih mematikan gadget dan menyimpan segala kenangan malam itu di dalam hati dan kepala saya. Karena buat saya, meski hanya tetesan keringat, jika itu milik para personel Guns N' Roses, sangatlah berharga.


Guns N' Roses Not In This Lifetime Tour - Jakarta (Foto: Budi Susanto)

Konser Guns N’ Roses yang diprakarsai Third Eye Management (TEM) bekerja sama dengan UnUsUal Entertainment ini dimulai pukul 20.10 WIB. Beberapa menit setelah mantan vokalis band Cokelat, Kikan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama seluruh penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno, lampu tiba-tiba mati. Tapi bukan karena gangguan teknis, melainkan tanda dimulainya konser. Dentuman bass Duff Mckagan yang ditimpali pukulan drum Frank Ferrer dalam lagu It's So Easy lantas menggelegar tanpa ampun!

Lautan manusia di area festival, atau lebih tepatnya Rock Zone A dan B, yang posisinya di depan panggung, bergoyang mengikuti setiap entakan musik yang menggema. Mereka bergoyang laksana ombak yang hendak menerjang pantai. Meski sejujurnya tidak sedikit pula yang sibuk mengabadikan mereka dengan kamera telepon genggamnya. Axl Rose, Slash, dan Duff McKagan; tiga personel yang kembali bersatu sejak 2016 benar-benar menjadi magnet yang mampu menyedot setiap sudut venue kepada satu titik.

Mr. Bownstone dan Chinese Democracy kemudian menyembur. Teriakan histeris dan haru pun membahana di setiap jengkal ruangan Stadion Utama GBK. Kendati sesungguhnya tidak semua penonton hafal lirik lagunya, mereka tidak peduli. Yang penting, idola sudah di depan mata!

Pesta sesungguhnya baru tersaji saat Axl Rose berteriak: “You know where you are? You’re in the jungle baby, you’re gonna die….!!!!” Lagu Welcome to the Jungle pun dengan serta merta menciptakan gempa lokal di sekujur venue. Double Talkin Jive, salah satu karya fenomena Izzy Stradlin kemudian mengangkasa di langit Jakarta, yang disusul Better, Estranged, Rocket Queen dan Live and Let Die

Saya ingin menggarisbawahi Estranged. Lagu ini benar-benar menyentuh sisi paling 'pop' dalam diri saya. Sejak Axl mengeluarkan kata-kata: "When you're talkin' to yourself, and nobody's home," saya memilih untuk tidak bernyanyi sedikit pun. Nyaris tak berkedip, saya khusyuk mendengarkan setiap lirik, setiap nada, bahkan setiap napas berat yang diembuskan idola masa remaja saya, William Bruce Bailey--nama asli Axl. 

Ketika mata saya mulai berkaca-kaca. Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, apa komentar istri saya saat melihat suaminya yang berambut gondrong ini 'cengeng'? Tapi ternyata, dia--yang berada di samping kanan saya--tidak berkomentar apa-apa dan (semoga) bisa memahami perasaan saya yang bertemu 'cinta pertamanya'. Memberi nama depan anak kedua kami, 'Gilby' (eks gitaris Guns N' Roses) saja sepertinya sudah cukup untuk membuktikan kalau istri saya tahu kadar cinta saya terhadap band ini. Ya, Guns N' Roses adalah alasan mengapa saya menyukai musik rock saat berusia 12 tahun.

Dan seperti enam tahun lalu di MEIS, malam itu Axl Rose dkk total menghidangkan tak kurang dari 30 lagu hits Guns N’ Roses mulai dari album Appetite For Destruction (1987), GN’R Lies (1988), Use Your Illusion I & II (1991), The Spaghetti Incident? (1993) hingga Chinese Democracy (2008). Termasuk solo gitar Slash dan beberapa nomor cover version seperti Slither (Velvet Revolver), Wichita Lineman (Glen Campbell), Wish You Were Here (Pink Floyd), Black Hole Sun (Soundgarden), dan The Seeker (The Who).

Selama sekitar tiga jam, Guns N’ Roses memberikan penampilan klimaks yang membuat para penonton mencapai orgasme. Penantian selama dua dekade lebih pun terbayar sudah. Meski saya masih berharap suatu hari mereka kembali ke Indonesia bersama dua personel formasi orisinal: Stevan Adler (drum) dan Izzy Stradlin (gitar ritem) atau dua anggota formasi album The Spaghetti Incident?: Matt Sorum (drum) dan Gilby Clarke (gitar ritem), tapi sampai titik ini saya nyatakan utang Guns N' Roses lunas!

Kelebihan dan Kelemahan Guns N' Roses

Mencari kelemahan dari penampilan Guns N' Roses malam itu bukan cara yang tepat bagi saya untuk menikmati sebuah penampilan band yang paling dinanti-nanti. Apalagi, usia mereka sudah tidak muda lagi. Sama seperti 80 persen penonton yang menjejali Stadion Utama GBK. Berikut adalah pandangan saya terhadap tiga personel orisinal Guns N' Roses yang kembali bersatu dalam tur ini; Axl Rose, Slash, dan Duff McKagan.

Kalau mau jujur, range vokal Axl sudah tidak seperti dulu lagi. Bahkan dalam lagu Coma, dia kesulitan mengatur napas dan kewalahan mengejar tempo lagu yang digelontorkan teman-temannya. Satu-satunya kualitas vokal Axl yang nyaris sempurna (ya, nyaris sempurna. Karena kalau mau sempurna beli saja CD albumnya) adalah dalam lagu Patience--kecuali bagian akhir lagu ini. Lalu, apakah Axl harus dicap tidak bisa mempertanggungjawabkan karya-karya yang dia ciptakan di masa lalu? Tentu saja tidak! Kita memang dipaksa memaklumi, tapi kita juga harus menyadari tidak ada yang bisa melawan hukum alam.

Lalu Slash. Para gitaris penghamba permainan cepat pasti berkomentar dengan cara bermain Slash yang sloppy (ceroboh) alias sering keserimpet. Misalnya dalam lagu Double Talkin' Jive. Tapi, inilah Guns N' Roses yang sesungguhnya. Bermain dengan semangat rock and roll murni, tidak takut salah, agak-agak rusuh, dan tidak textbook. Bandingkan dengan formasi tahun 2012 yang permainannya 'terlalu rapi' lantaran ada tuntutan memainkan setiap part solo sama seperti aslinya (versi kaset/CD). Ah, kurang rock and roll! Slash, buat saya, tetaplah guitar hero sejati yang bermain dengan soul dan pencipta image ikonik dengan rambut kriwil dan topi tingginya.

Bagaimana dengan Duff McKagan? Ini orang memang nyaris tidak berubah sedikit pun. Punker sejati!  Gayanya masih nyentrik, permainannya masih sangat asik, perutnya juga tidak buncit seperti Axl dan Slash. Yang membedakannya dengan dua dekade lalu, tentu saja guratan di wajahnya. Tapi itu tidak mengurangi kejantanan pria yang satu ini ketika beraksi di atas panggung. Bagaimana dia mengumandangkan lagu You Can't Put Your Arms Around a Memory (Johnny Thunders) dan Attitude (The Misfits), dan menjadi vokalis latar di sekujur konser, menunjukkan Duff adalah salah satu penjaga fondasi musik paling komplet dalam sejarah musik rock dunia. 

Intinya, bagaimanapun penampilan Axl Rose, Slash, Duff McKagan malam itu, band ini tetaplah Guns N’ Roses. Band yang wajib dilihat sebelum 'mati'!

Baca Juga : Berharap Adler dan Stradlin Ikut ke Indonesia

Era ide adalah kumpulan tulisan dan bukan sikap redaksi. Kami mau era ide bisa memberikan pemahaman baru bagi pembaca media ini. Jika ada opini kamu mengenai sebuah peristiwa politik, hukum atau apapun, silakan kirim tulisan ke redaksi@era.id.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Riki Noviana
Editor : Riki Noviana
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Review
12 Desember 2018 08:49 WIB

Berapa Harga ROG Phone di Indonesia?

Harganya mencapai belasaan juta
Lifestyle
12 Desember 2018 07:46 WIB

VIDEO: One Direction Bakal Reuni Besar

Ada kemungkinan mereka reuni saat liburan Natal
Lifestyle
12 Desember 2018 07:05 WIB

Instagram Saring Komentar Otomatis dalam Bahasa Indonesia

Bye bye bully dan hate speech~~
Lifestyle
12 Desember 2018 06:27 WIB

Samsung Kembangkan Jaringan 5G untuk Mobil Terhubung

Kerja sama ini dilakukan dengan Otoritas Keselamatan Transportasi Korea (KOTSA)
Lifestyle
11 Desember 2018 21:21 WIB

Kenapa Harus Iklan Blackpink?

Haruskan muncul petisi, atau hanya sekedar nasihat yang tak diinginkan warganet?