Jumat, 05 Juni 2020
Ilustrasi (Foto: advocate.com)
17 Mei 2020 09:28 WIB

Apakah Onani Bisa Membatalkan Puasa?

Berikut penjelasan ulama empat mazhab
Bagikan :


Jakarta, era.id - Banyak pendapat seputar hukum onani atau masturbasi saat berpuasa. Apakah hal itu dapat membatalkan puasa? Atau hanya mengurangi pahala puasa. Mari kita ulas menurut pendapat ulama empat mazhab.

Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia, onani adalah aktivitas pengeluaran mani (sperma) tanpa melakukan tanpa berhubungan kelamin atau sanggama. Onani disebut semakna dengan masturbasi, yaitu proses memperoleh kepuasan seks tanpa berhubungan kelamin.

Sebelum mengetahui hukum onani atau masturbasi, ada empat poin penting yang harus kita ketahui terkait pembahasan ini, yaitu onani/masturbasi (istimna’), orgasme yang ditandai dengan ejakulasi (inzal), kontak fisik laki-laki dan perempuan berupa sanggama/hubungan badan atau lainnya (mubasyarah), dan pembatalan puasa (ifthar). 

Dilansir dari NU Online, dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab karya Imam An-Nawawi ditemukan hukum berkaitan dengan onani saat berpuasa.


Baca Juga : Mengenal Rufaidah Al-Asalmiya, Perawat Kebanggaan Rasulullah

"Bila seseorang melakukan onani dengan tangannya –yaitu upaya mengeluarkan sperma– maka puasanya batal tanpa ikhtilaf ulama bagi kami sebagaimana disebutkan oleh penulis matan (As-Syairazi)."



Aktivitas onani yang dilakukan hingga ejakulasi dapat membatalkan puasa karena kesamaan ejakulasi yang disebabkan . Keterangan ini dapat ditemukan pada kitab Al-Majmu’ berikut ini:

"Jika seseorang beronani lalu keluar mani atau sperma (ejakulasi) maka puasanya batal karena ejakulasi sebab kontak fisik (mubasyarah) laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dengan ejakulasi sebab ciuman. Onani memiliki konsekuensi yang sama dengan kontak fisik pada selain kemaluan antara laki-laki dan perempuan, yaitu soal dosa dan sanksi takzir. Demikian juga soal pembatalan puasa."

Menurut pandangan mazhab Maliki, Syafi’i, Hanbali, dan mayoritas ulama Hanafi, onani membatalkan puasa. Bagi mereka, sentuhan kelamin laki-laki dan perempuan tanpa ejakulasi dapat membatalkan puasa. Tentu, ejakulasi dengan orgasme (penuh syahwat) lebih-lebih lagi membatalkan puasanya. 

Meski begitu, mereka yang membatalkan puasanya dengan onani tidak berkewajiban membayar kaffarah (denda yang dikenakan kepada orang-orang yang membatalkan puasa) atas pembatalan puasa tersebut, melainkan hanya meng-qadha (mengganti) puasanya pada bulan lain. 

Mazhab Syafi’i membedakan konsekuensi hukum atas inzal dari penyebabnya. Inzal atau ejakulasi yang disebabkan oleh sentuhan fisik dapat membatalkan puasa. Sedangkan inzal yang terjadi hanya semata pikiran jorok atau memandang dengan syahwat tidak membatalkan puasa.
Bagikan :
Topik :

Reporter : ERA.ID
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU