Selasa, 17 September 2019
Monumen Nasional (Era.id)
22 Juni 2019 18:15 WIB

Yang Dirindukan Jika Jakarta Tak Lagi Jadi Ibu Kota

Gue si bakal kangen sama kerak telornya. Eh kerak telor ikut pindah gak sih?
Bagikan :


Jakarta, era.id - Jakarta berulang tahun ke-492. Di usianya yang hampir menginjak lima abad ini, Jakarta masih harus menanggung beban sebagai Ibu kota Negara Indonesia. Pembangunan terus terjadi, meski kesemerawutan tak bisa diatasi oleh Gubernur DKI Jakarta yang sudah berganti 17 kali.

Kemacetan, penurunan air tanah, kerusakan lingkungan terjadi di Jakarta, yang kemudian membuat pemerintah berpikir untuk memindahkan ibu kota dari Jakarta ke tempat lain.

Lantas perlu atau tidak sih, ibu kota dipindahkan ke kota lain? Menurut pengamat kebijakan publik, Trubus Rahadiansyah pemindahan ini bisa saja dilaksanakan. Tapi, masalahnya, pemindahan itu hanyalah bersifat memindahkan pusat pemerintahannya. 

"Sedangkan pusat bisnis tetap berada di Jakarta. Permasalahannya, sejak dulu Jakarta itu kan dibangun sebagai pusat pemerintahan bukan sebagai pusat bisnis," kata Trubus saat dihubungi oleh era.id, Sabtu (22/6/2019).


Baca Juga : Jakarnaval dan Gerak Roda Perekonomian Rakyat

Dia juga menilai, pemindahan pusat pemerintahan ke luar Jakarta terutama di luar Pulau Jawa terlalu jauh. Apalagi, pusat bisnis dan pusat pemerintahan harusnya tetap berjarak berdekatan.

"Kalaupun mau dipindahkan harus ke kota yang memang sudah siap secara infrastruktur. Bukan yang harus membangun infrastruktur dari awal," ungkap Trubus.

Akademisi dari Universitas Trisakti itu menyebut, Jakarta mampu menjadi pusat bisnis di Indonesia. Hanya saja, kota ini sudah terlalu padat penghuninya. Wilayah, menurut Trubus, sudah tidak cukup lagi menampung pembangunan yang bakal dilakukan untuk menjadi pusat bisnis. 

Kalaupun menjadikan Jakarta sebagai pusat bisnis, maka sistem integrasi antardaerah di sekitar Jakarta yaitu Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi harus bisa terlaksana dengan baik. 

Meski begitu, pemindahan ini, dinilai Trubus, harus tetap memperhatikan sejarah dari Jakarta. Sebab, dari sejarahnya setiap pergerakan penting selalu terjadi di kota yang punya luas sebesar 661,5 kilometer persegi ini.


Infografik oleh Ilham/era.id

Apa yang dirindukan kalau Jakarta tak lagi jadi ibu kota?

Meski hanya pindah pusat pemerintahan, tapi, Jakarta pasti tetap akan berbeda rasanya. Rizky (40), warga Jakarta Timur, bilang Jakarta bakal enggak macet lagi kalau pusat pemerintahan pindah ke kota lain. 

"Pastinya ya macet bakal berkurang, kan pegawai pemerintahan pusat bakal pindah juga dari Jakarta," kata dia saat berbincang dengan era.id, Sabtu (22/6/2019).

Sedangkan, Tea (23) warga Pancoran pun mengamini kalau Jakarta bakalan enggak seramai dulu kalau pusat pemerintahannya pindah. "Pasti kehilangan suasana ibu kotanya gitu, kan pusat pemerintahannya pindah. Jadi enggak bakal ramai banget," ungkapnya.

Sepertinya masyarakat di Jakarta memang mengalami situasi benci-tapi-sayang dengan kemacetan lalu lintas di kota ini. Sebab, ketika pertanyaan ini dilontarkan, banyak yang menjawab kemacetan Jakarta bakal sangat dirindukan.

Apalagi, berdasarkan The TomTom Traffic Index, Jakarta berada di peringkat ke-7 dari 403 kota dunia yang paling macet pada 2018. Angka ini memang sedikit menurun dibandingkan tahun 2017 yang lalu. Saat itu, Jakarta berada di peringkat ke-4 sebagai kota paling macet di dunia.

Rata-rata, level kemacetan Jakarta sepanjang 2018 mencapai 53 persen, turun 8 persen dari 2017. Adapun tingkat kemacetan terparah, berlangsung pada sore hari sekitar pukul 16.00 hingga 18.00 WIB atau ketika jam pulang kantor. 

Baik jalan umum maupun jalan tol tak lepas dari kemacetan. Level macet di ruas jalan tersebut tercatat di atas 50 persen.


Jakarta yang tak macet cuma kala libur lebaran (Anto/era.id)

Wacana pemindahan ibu kota Indonesia dari Jakarta ini, sebenarnya sudah digadang-gadang dilaksanakan sejak pemerintahan Soekarno. Tapi, kata Jokowi, menguapnya rencana itu karena enggak ada keputusan dari pemerintah pusat dan tak pernah ada rencana yang matang soal pemindahan tersebut.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro kemudian menyebut alasan mendasar kenapa pemerintahan Jokowi bakal memindahkan Ibu Kota dari DKI Jakarta. 

Salah satu alasan kepindahan Ibu Kota itu, karena Jakarta menjadi kota terburuk ke-4 berdasarkan kondisi lalu lintas. Pada tahun 2013 hanya karena macet, kerugian ekonomi yang dialami mencapai Rp56 triliun pertahun.

"kami perkirakan angkanya sekarang sudah mendekati Rp100 triliun per tahun dengan makin beratnya kemacetan di wilayah Jakarta,” jelas Bambang.

Enggak cuma itu, alasan banjir di DKI Jakarta juga menyebabkan wacana ini kembali dibahas. Soalnya, banjir ini enggak cuma banjir dari hulu tapi juga akibat penurunan muka tanah di pantai utara Jakarta. Padahal, lanjut Bambang, idealnya sebuah kota besar kerawanan banjirnya bisa minimum 50 tahunan.


Salah satu sudut Jakarta yang paling ramai, Bundaran HI (Anto/era.id)
 
Bagikan :
Topik :

Reporter : Wardhany Tsa Tsia
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
17 September 2019 19:43 WIB

Klaim Pembahasan RUU KPK yang Tak Buru-Buru

Kata mereka yang buat, ini bukan barang baru karena sudah lama dibahas
Nasional
17 September 2019 19:28 WIB

Pengesahan RUU KPK di Tengah Derasnya Arus Penolakan

Tok! DPR resmi sahkan RUU KPK yang dianggap melemahkan pemberantasan korupsi
Internasional
17 September 2019 19:02 WIB

Kisah Penyintas Kanker Pecahkan Rekor Renang di Inggris

Setahun lalu, ia menderita kanker. Hari ini ia jadi salah satu perenang terkuat di bumi
Internasional
17 September 2019 19:01 WIB

Vladimir Putin Kutip Ayat Alquran Serukan Perdamaian di Yaman

Karena berdamai itu indah mblo~
Nasional
17 September 2019 17:56 WIB

Dewan Pengawas KPK di Tangan Presiden

Presiden akan segera membentuk panitia seleksi untuk mencari anggota Dewan Pengawas