Rabu, 08 April 2020
Sultan Hamid II dan lambang negara Garuda Pancasila. (Foto: Istimewa)
24 Februari 2020 14:33 WIB

Keseriusan Sukarno Soal Lambang Negara hingga Tunjuk Menteri Zonder Portofolio

Dia adalah Sultan Hamid II si perancang lambang Garuda Pancasila
Bagikan :


Jakarta, era.id - Sepucuk surat berisi 3.300 kata dari Sultan Hamid II dialamatkan kepada Presiden Sukarno. Warkat itu berisi penjelasan rinci soal pembuatan lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. 

Sejak memproklamirkan kemerdekaan pada tahun 1945 hingga terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS) pada 1949, Indonesia memang belum memiliki lambang negara. Sang proklamator Bung Karno pun tampak serius perihal zonder lambang negara ini. Dia lantas mengangkat Sultan Hamid II sebagai Menteri Negara Zonder Portofolio (tanpa bidang tugas khusus) dalam Kabinet RIS. Tujuannya, untuk merancang lambang negara dan menyiapkan gedung parlemen RIS.

"Selaku Menteri Negara Zonder Portofolio, karena memang tidak ada tugas lain untuk saja sebagai Menteri Negara selain merentjanakan lambang negara dan menjiapkan gedung parlemen RIS," kata sultan bernama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, melalui suratnya yang ditujukan kepada wartawan Solichim Salam, 15 April 1967.


Bung Karno sedang berbincang dengan Bung Hatta dan Sultan Hamid II. (Foto: Istimewa)


Baca Juga : Belanda Minta Maaf Atas Kekerasan Setelah Proklamasi

Surat Sultan Hamid II ini dibacakan kembali oleh para aktivis muda di Bandung yang tergabung dalam Geostrategy Club (GSC), dalam acara "Peringatan Hari Lahir Lambang Negara: Elang Rajawali Garuda Pancasila 11 Februari 1950-11 Februari 2020", di Kaka Kafe, Jalan Sultan Tirtayasa, Bandung.

Hamid menjadi Menteri Negara RIS sesuai perintah Konstitusi RIS tahun 1949. Presiden Sukarno menugaskan Hamid membuat lambang yang merepresentasikan ide Pancasila. Lambang tersebut harus berisi gambar yang mengangkat simbol-simbol yang ada pada peradaban bangsa Indonesia. 

Alasan Sukarno memilih Hamid karena dirinya pernah bersama Sukarno mengambil jurusan teknik sipil satu tahun di T.H.S Bandung (kini ITB), walaupun akhirnya Hamid diterima di K.M.A Breda Negeri Belanda. Sukarno yakin Hamid paham dalam hal menggambar struktur lambang.

Hamid kemudian membentuk kepanitiaan teknis lambang negara RIS yang diketuai oleh Mr.M.Yamin dengan anggota Ki Hadjardewantara, M.A.Pellaupessy, Moh.Natsir, dan R.M.Ng. Purbatjaraka. Hamid sendiri sebagai Koordinator Panitia Lambang Negara yang tugasnya melakukan seleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah untuk ditetapkan oleh Parlemen RIS secepatnya. 

"Karena memang selama 5 tahun sedjak negara R.I merdeka 17-8-45 sampai dengan terbentuknja negara RIS 1949 belum ada memiliki lambang negara."

Pembuatan lambang negara juga melibatkan sayembara. Namun tidak ada satu pun hasil sayembara yang memenuhi kriteria. Dalam merancang sketsa lambang negara, Hamid mendapatkan banyak masukan dari anggota panitia. Ki Hadjar Dewantara mengusulkan agar lambang negara menggunakan figur garuda. Tokoh pendidikan ini mendapatkan figur garuda dari mitologi yang hidup di Nusantara.


Perubahan lambang negara Garuda Pancasila dari masa ke masa (Foto: Istimewa)

Hamid juga melakukan riset terhadap lambang negara-negara lain yang memakai figur burung elang yang mendekati burung Garuda. Setelah mendapatkan figur burung, Hamid membuat sketsa tameng/perisai yang menempel pada figur burung garuda, mengingat lambang-lambang pada negara lain yang memakai figur burung selalu menyertakan perisai di bagian tengah figur. 

Lalu dia meminta anggota dalam Panitia Lambang Negara untuk menyumbangkan pemikiran yang berhubungan dengan simbol-simbol ide Pancasila seperti pesan Sukarno. Perisai tersebut akan menampung sila-sila yang ada pada Pancasila. 

Panitia Lambang Negara ada yang menyarankan simbol keris, banteng, hingga padi kapas. Hamid sendiri membuat simbol bintang bersegi lima yang berarti "nur" atau cahaya atas masukan M Natsir. Bintang merupakan simbol sila pertama Pancasila. 

Panitia lain, R.M Ng Purbatjaraka, memberi masukan simbol pohon astana, sejenis pohon beringin yang hidup di depan istana sebagai lambang pengayoman dan perlindungan untuk melambangkan sila ketiga. Pohon astana dimaknai sebagai simbol bersatunya rakyat di bawah naungan istana.

Simbol selanjutnya, tali rantai bermata bulatan melambangkan perempuan dan bermata persegi melambangkan laki-laki yang sambung menyambung berjumlah 17 mata rantai. Rantai sebagai simbol regenerasi yang terus menerus. 



Lambang lainnya, kepala banteng sebagai sila keempat yang merupakan sumbangan dari Mr. M Yamin sebagai lambang dasar kerakyatan/tenaga rakyat dan padi-kapas lambang sila kelima sumbangan dari Ki Hajardewantara, sebagai perlambang ketersedian sandang dan papan yang berarti kemakmuran.

Hamid merumuskan lambang tersebut di Hotel Des Indes, Jakarta, pada tahun 1950. Lambang hasil rancangannya kemudian disetujui parlemen dan pemerintah pada 11 Februari, 70 tahun lalu. 

Surat ini sekaligus membantah pemahaman bahwa lambang negara buatan M Yamin. Memang saat itu M Yamin juga mengajukan lambang negara dengan simbol burung, namun yang disetujui pemerintah dan Parlemen RIS sebagai Lambang Negara adalah desain yang dibuat Hamid.
Bagikan :

Reporter : Iman Herdiana
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
07 April 2020 21:10 WIB

What's On Today, 7 April 2020

Podcast berita Indonesia terkini yang disajikan dengan cara berbeda
Lifestyle
07 April 2020 21:01 WIB

Kiat Sukses Sinetron Ramadan Tahun 90an

Jadi pengen kembali ke masa-masa itu, saat korona belum menyerang
megapolitan
07 April 2020 20:35 WIB

Manfaat dari Penerapan PSBB di Jakarta

Kurangnya kerumunan orang
megapolitan
07 April 2020 20:01 WIB

Siap-Siap, Polisi 'Razia' Suhu Tubuh di Jalanan

Pakai drone mendeteksi suhu tubuh
Kuliner
07 April 2020 19:09 WIB

Khasiat Sayur Lodeh yang Ternyata Bisa Obati Kanker

Beruntunglah kalian pecinta sayur lodeh~