Jumat, 10 Juli 2020
Ilustrasi (Pixabay)
13 Oktober 2019 15:26 WIB

Membebaskan Tetek, Mengenal No Bra Day

Tak ada hubungan antara bra dengan kanker payudara.
Bagikan :


Jakarta, era.id - Para perempuan di dunia mengkampanyekan hari tanpa bra atau no bra day, Minggu (13/10). Antusiasmenya, bahkan membuat kampanye ini menjadi trending topic di Twitter. Kampanye ini mengajak para perempuan tidak menggunakan bra dalam sehari.

Sebenarnya, tak ada hubungan antara penggunaan bra dengan kanker. Sejak 2014, para peneliti menemukan fakta bahwa kanker payudara tidak disebabkan oleh penggunaan bra. Hal tersebut tercantum dalam jurnal Cancer Epidemiology Biomarkers & Prevention.

Kampanye membebaskan tetek dari bra pertama kali dilakukan pada 13 Oktober 2011. Kegiatan yang kemudian menjalar ke media sosial ini, bertujuan untuk memberikan dukungan kepada para pengidap kanker payudara, serta memberikan pemahaman lanjutan mengenai penyakit tersebut, salah satunya tentang tanda-tanda.

Dilansir dari media Inggris The Sun, gerakan no bra day dicetuskan oleh seorang dokter operasi plastik bernama Mitchell Brown. Berdasarkan penelusuran, mulanya kampanye itu ada di Toronto, Canada.


Baca Juga : Khasiat Sayur Lodeh yang Ternyata Bisa Obati Kanker

Kampanye ini terus mendapat perhatian setiap tahun, kendati tidak ada hubungan langsung antara bra dengan kanker. Sebab, istilah no bra day mampu menjadi daya tarik. Walhasil, no bray day dianggap layak menjadi pintu masuk bagi banyak orang untuk mendapat pemahaman lanjutan tentang kanker payudara.

Baca Juga : Vitamin D Bisa Bantu Cegah Kanker Payudara Lho..

"Itu adalah sebuah kebebasan berpendapat ya. Dari CISC sendiri sebagai suatu institusi sangat menghargai karena awareness masyarakat tentang kanker payudara jadi semakin bertambah, dengan catatan perayaan ini harus sesuai dengan norma yang ada," ujar Aryanthi Baramuli Putri, Ketua Umum CISC (Cancer Information & Support Center), dilansir dari detik.com.

Laporan The Sun menyebut, ada lebih dari 50.000 kasus kanker payudara setiap tahunnya di Inggris. Ini penyakit yang terhitung sering muncul dalam diagnosa perempuan-perempuan di Inggris. Di sana, hampir 1.000 orang meninggal karena kanker payudara, setiap bulannya.

Sementara di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, angka kanker payudara menjangkit di payudara perempuan sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk. Yang diikuti kanker leher rahim, sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk.
Bagikan :
Topik :

Reporter : May Rahmadi
Editor : May Rahmadi
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU