Kamis, 09 Juli 2020
Teror di Riau (Foto: Istimewa)
17 Mei 2018 16:39 WIB

Usul DPR Melawan Propaganda Al Fatihin

Melawan propaganda dengan propaganda
Bagikan :


Jakarta, era.id - Versi digital edisi kesepuluh surat kabar Al Fatihin beredar luas di masyarakat. Selain digunakan sebagai propaganda terkait aksi-aksi terorisme, surat yang sejatinya diedarkan terbatas itu juga berisi ujaran kebencian terhadap kelompok-kelompok bertentangan.

Berdasarkan penelusuran tim era.id, surat kabar 14 halaman tersebut beredar dalam bentuk file berekstensi PDF. Di dalamnya terdapat pemberitaan mengenai serangan Mako Brimob di Kelapa Dua, Depok dan serangan bom bunuh diri di Surabaya, pada Minggu (13/5).

Baca Juga : BIN Telusuri Surat Kabar Al Fatihin Pro ISIS

Terkait itu, anggota Komisi I DPR, Bobby Rizaldi mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah terkait propaganda para teroris itu. Caranya, pemerintah harus membentuk sebuah tim kontra narasi di dalam struktur institusi penegak hukum, baik itu polisi, TNI, BNPT atau bahkan BIN.


Baca Juga : 7 Anak Teroris Diserahkan ke Kemensos

Tim tersebut, kata Rizaldi sangat penting untuk melawan propaganda para teroris. Apalagi, di era perkembangan media yang begitu pesat, sebaran propaganda dapat dilakukan dengan cara lebih mudah, cepat, dan luas.

"Tim yang bertugas melakukan kontra narasi terhadap propaganda negatif," kata Rizaldi saat dihubungi era.id di Jakarta, Kamis (17/5/2018).

"Jadi, bukan hanya deteksi, tutup situs, bredel pencetaknya, tapi upaya kontra naratif yang konsisten, beragam format, agar mempersempit gerakan-gerakan radikal tersebut," tambahnya.

Menurut Politikus Golkar itu, langkah pemerintah membentuk cyber monitoring sejatinya sudah tepat. Namun, dukungan tim kontra narasi itu akan mengoptimalkan langkah pemerintah dalam menanggulangi terorisme.

"Ini memerlukan upaya khusus, terorganisir dengan kemampuan intelektual tinggi," tuturnya.

Baca Juga : Mencegah Islamophobia Pasca Serangan Teror

Rizaldi mengatakan, dalam praktiknya, propaganda manipulatif jadi cara utama kelompok-kelompok teroris untuk melakukan perekrutan anggota, hingga memobilisasi gerakan-gerakan teror yang bertujuan menggoyang stabilitas negara.

"Ini dilakukan dengan propaganda di beberapa segmen masyarakat, dengan doktrinasi pemahaman yang salah tentang agama, pemerintahan, isu ketidakadilan, dan ujaran-ujaran kebencian," jelasnya.
Bagikan :

Reporter : Mery Handayani
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
09 Juli 2020 11:15 WIB

Sama-Sama Punya Kadar Alkohol, Mengapa Tape Halal dan Bir Tidak Halal?

Ini jawaban ilmiahnya mengikut fatwa
Ekonomi
09 Juli 2020 10:53 WIB

Jokowi 'Sentil' Lagi Menteri yang Kerja Biasa-Biasa Saja

Harus lebih cepat
 
Nasional
09 Juli 2020 10:30 WIB

Jokowi 'Sentil' Menteri Lagi: Tiga Bulan WFH Malah Kayak Cuti

Harus kerja keras
 
Ekonomi
09 Juli 2020 09:42 WIB

Kemenkes: Anggaran Insentif Nakes Jadi Rp1,9 Triliun

Semoga bisa jadi pelipur lara