Jumat, 21 Februari 2020
Ilustrasi (Pixabay)
31 Agustus 2019 15:29 WIB

Stunting dan Bahayanya Bagi Perkembangan Otak Anak

Stunting paling umum terjadi dalam rentang usia 0 hingga 2 tahun
Bagikan :


Purwokerto, era.id - Masalah kekerdilan atau stunting dapat menyebabkan perkembangan otak anak menjadi tidak maksimal. Demikian dikatakan Dokter Spesialis Anak dr. Agus Fitrianto, Sp.A.

Agus menjelaskan, stunting merupakan indikator kekurangan energi dan protein dalam waktu lama atau malnutrisi kronik. Dokter yang berpraktik di RSUD Prof Dr Margono Soekarjo, Kabupaten Banyumas, ini bilang stunting paling umum terjadi dalam rentang usia 0 hingga 2 tahun.

"Padahal rentang usia tersebut adalah periode penting di mana otak sedang berkembang secara pesat sehingga kalau anak stunting dipastikan perkembangan otaknya juga tidak maksimal. Sehingga anak harus sembuh dari stunting," katanya di Purwokerto, Banyumas, seperti dikutip Antara, Sabtu (31/8/2019).

Dia mengatakan dirinya mengapresiasi program pemerintah yang tengah fokus untuk menciptakan SDM unggul. "Untuk menciptakan SDM unggul dan berdaya saing berarti harus mengatasi masalah stunting atau kekerdilan," katanya.


Baca Juga : Kenali Sifilis, Penyakit Kelamin yang Bisa Menular pada Bayi

Orang tua yang memiliki anak dalam rentang usia 0 hingga 2 tahun, lanjut dia, harus memastikan tumbuh kembang buah hati mereka terpantau secara berkala.

"Pastikan menilai tumbung kembang anak balita secara teratur bisa melalui posyandu atau periksa rutin ke dokter. Pastikan tumbuh kembangnya dipantau dan didokumentasikan di buku kesehatan anak," katanya.

Sebelumnya, akademisi dari Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto Kavadya Syska mengatakan sosialisasi mengenai pangan sehat perlu terus ditingkatkan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sekaligus mencegah kekerdilan atau stunting.

"Sosialisasi dan promosi mengenai pangan sehat melalui pangan fungsional perlu terus-menerus disampaikan kepada masyarakat," katanya.

Kavadya Syska yang merupakan Koordinator Program Studi Teknologi Pangan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto mengatakan pangan fungsional adalah pangan yang kandungan komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan di samping manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya.

Dia mengatakan para pemangku kepentingan perlu turut andil memberikan pemahaman mengenai pangan yang sehat.

"Yaitu pangan yang bergizi, pangan yang higienis dengan sanitasi yang baik, serta pangan fungsional yang dilakukan sejak mulai kehamilan sampai anak terlahir hingga usia dua tahun," katanya.
Bagikan :

Reporter : Diah Ayu Wardani
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
20 Februari 2020 22:22 WIB

What's On Today, 20 Februari 2020

Podcast berita Indonesia terkini yang disajikan dengan cara berbeda
Nusantara
20 Februari 2020 21:08 WIB

Tak Bisa ke Indonesia, Mahasiswa Unpad Asal China Kuliah Online

Gara-gara COVID-19
Lifestyle
20 Februari 2020 20:32 WIB

Riki Rhino, Film Animasi Karya Anak Bangsa

Ridwan Kamil 'jadi' Elang Jawa
Lifestyle
20 Februari 2020 19:38 WIB

Eddies Adelia yang Belum Siap Berhijab Syar'i

Yang penting tertutup dulu