Selasa, 19 Februari 2019
Edy Rahmayadi (Sumber: Instagram/@edy_rahmayadi)
26 November 2018 20:23 WIB

Tenang Pak Edy, Masyarakat Tak Membencimu

Desakan mundur Edy Rahmayadi, kebencian terhadap Edy atau kecintaan terhadap sepak bola?
Bagikan :


Jakarta, era.id - Edy Rahmayadi.  Salah satu nama paling disoroti masyarakat. Desakan agar Edy mundur dari jabatan Ketua Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) bergaung. Banyak yang menghujat Edy. Tapi, enggak banyak yang merenungi, ini semua terjadi karena masyarakat terlalu membenci Edy atau begitu mencintai sepak bola?

Untuk merenungi ini, kita perlu melihat sumber kemarahan publik sepak bola terhadap Edy. Kami menghubungi Tengku Sufiyanto, penulis literasi sejarah sepak bola nasional. Menurutnya, kegagalan timnas sepak bola dalam Piala AFF 2018 adalah puncak yang melatarbelakangi resistensi keras terhadap kepemimpinan Edy. Kemarahan ini mulai menanjak lewat gerakan 'Kosongkan GBK' yang bertransformasi sempurna dalam gerakan 'Edy Out'.

Saat itu, seruan agar enggak menonton pertandingan timnas di stadion disuarakan sebagai wujud kekecewaan mereka terhadap buruknya permainan timnas pascapemecatan Luis Milla yang hengkang akibat masalah kontrak dan gaji. Tentu saja, PSSI di bawah Edy jadi pihak paling bertanggung jawab. Bukan apa-apa, sebab permasalahan kontrak itu berdampak langsung pada persiapan timnas menghadapi AFF 2018.

"Ini kan kalau masalah Luis Milla adalah masalah kontrak. Seharusnya nih ya, kalau yang benar itu, ketika ada permasalahan seperti ini (kontrak), PSSI harus bisa antisipasi, sejak jauh-jauh hari menyiapkan nama (pengganti). Untuk mengantisipasi persiapan timnas (jelang AFF)," kata Tengku, Senin (26/11/2018).


Baca Juga : Ketika Edy Rahmayadi Ingatkan PSK Buat Rajin Ibadah

Jika kamu pikir ini adalah kemarahan pertama publik sepak bola terhadap PSSI, kamu jelas salah. Menurut Tengku, kemarahan publik sepak bola nasional sejatinya telah lama bergolak. Dan kegagalan timnas di AFF 2018 adalah kemarahan berulang untuk kesalahan berulang federasi sepak bola. Sebab, berbagai masalah di tubuh federasi selalu berujung pada kegagalan timnas meraih prestasi.

"Ini sebuah kritik terhadap federasi, PSSI. Terhadap prestasi timnas. Nah, kita tahu timnas gagal total di AFF. Karena federasi ini sudah mengulang kesalahan beberapa tahun lalu ... Persiapan minim, timnas AFF 2018 persiapannya hanya enam hari sebelum kickoff."

Intinya sih, menurut Tengku, resistensi ini bukan didasari pada kebencian terhadap Edy, namun bergolak dari kecintaan terhadap sepak bola dan timnas serta kerinduan terhadap prestasi. Indikatornya jelas, sekeras apapun gerakan 'Kosongkan GBK' disuarakan, toh masyarakat akhirnya tetap hadir ke stadion untuk mendukung timnas.

"Jadi, kritikan ini lahir bukan untuk timnas, tapi untuk PSSI yang dipimpin Edy Rahmayadi. Ditambah lagi, Edy ini sedang merangkap jabatan sebagai Gubernur Sumut ... Masyarakat ini bertanya, Edy mampu enggak sih menjabat dua jabatan ini berbarengan. Dan kenyataannya, prestasi timnas memang jeblok."


Ilustrasi dipersembahkan Mahesa/era.id

Edy cuma simbol

Lebih lanjut, kami menghubungi Tomy Welly, pengamat sepak bola yang juga mantan Direktur Kompetisi PSSI. Menurut dia, gerakan protes 'Edy Out' ini adalah simbol kegeraman masyarakat terhadap kinerja PSSI secara keseluruhan. Jadi, memang bukan perkara Edy seorang.

Makanya, Bung Towel --sapaan akrab Tommy Welly-- bilang, evaluasi harus dilakukan secara lebih menyeluruh, bukan hanya terhadap Edy. Jika Edy mundur, maka seluruh anggota exco yang ada di bawah Edy harus ikut mundur. 

"Oleh sebab itu, keterpurukan PSSI saat ini bukan semata-mata harus Edy. Edy ini kan simbol. Jadi, ketika 'Edy Out', itu dianggap bahwa kepengurusan yang ini dianggap gagal. Itu paket dalam konteks exco," tutur Bung Towel.

"Jadi, saya memaknainya bahwa bukan cuma sekadar Edy. Karena jika cuma Edy yang lengser, itu tidak menyelesaikan masalah. Masalah fundamentalnya bukan cuma Edy. Banyak persoalan yang belum beres. Melaksanakan sepak bola pada treknya," tambahnya.

Baca Juga : Menyoal Teori Kisruh Suporter ala Edy Rahmayadi

Kepengurusan PSSI di bawah Edy dan jajaran exconya jelas gagal. Indikatornya, mudah saja. Bicara sepak bola, prestasi timnas dan kompetisi adalah dua dasar penilaian utama. Prestasi timnas di bawah Edy dan Exco-nya jelas bobrok. Lihat saja, target-target yang diusung dalam tiap kompetisi enggak ada yang terpenuhi.

"Timnas, secara target, kepengurusan Edy Gagal. Sea Games 2017 tidak berhasil emas, Asian Games target semifinal tidak terwujud juga. Juara AFF yang sudah sangat dinantikan juga tidak terwujud, bahkan lolos semifinal pun tidak."

Soal kompetisi pun begitu. Kegagalan PSSI menumbuhkan integritas dalam kompetisi sepak bola nasional jadi sorotan Bung Towel. Menurutnya, isu soal pengaturan skor masih jadi indikasi kuat yang mewarnai kompetisi sepak bola nasional. Belum ada bukti, memang. Tapi, indikasinya tercium kuat.

"Lalu, tingkat kepercayaan publik terhadap PSSI ini rendah. Tentang organisasi yang punya utang terhadap pihak lain. Kompetisi, isu paling sensitif kompetisi soal integritas sepak bola. Terkait pengaturan skor. Memang tidak ada bukti, sebab bukti itu kan harus dicari oleh otoritas terkait (termasuk PSSI sendiri)."

Baca Juga : Meneladani Kemandirian dan Keteguhan Edy Rahmayadi

Maka, jika PSSI serius ingin ambil langkah, Januari adalah waktunya. Waktu untuk melengserkan Edy dan jajaran exco-nya. Pada Januari mendatang, PSSI akan menggelar kongres tahunan. Dalam kongres yang mengagendakan pertanggungjawaban kinerja dan keuangan itu, forum dapat mengusulkan agenda tambahan berupa Kongres Luar Biasa (KLB) ataupun perombakan struktur. Menurut Bung Towel, sudah enggak ada kata lain untuk Edy dan jajarannya, selain mundur.

"Kongres tahunan Januari. Biasanya agendanya adalah pertanggungjawaban kinerja dan keuangan. Tapi, member bisa mengajukan satu agenda lain, jika agenda itu disetujui forum 2/3 kalau tidak salah. KLB misalnya, memilih yang baru atau meminta mundur."

Dan untuk Pak Edy, bapak enggak perlu khawatir. Segala desakan mundur ini bukan bentuk kebencian masyarakat terhadap bapak, tapi bentuk kecintaan masyarakat terhadap sepak bola nasional.
Bagikan :

Reporter : Yudhistira Dwi Putra
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
19 Februari 2019 15:55 WIB

Karhutla Masih Terjadi, Tapi Asapnya Sudah Jauh Berkurang

Datanya enggak bohong kok
Internasional
19 Februari 2019 15:45 WIB

Bebas Berkunjung Plus Mantai di St Kitts dan Nevis

Kini, WNI bebas berlibur ke St Kitts dan Nevis. Yuk cari tahu, ada apa saja di sana?
Internasional
19 Februari 2019 15:31 WIB

Palestina-Jordania Kecam Penutupan Masjid Al-Aqsa oleh Israel

Penutupan itu dilakukan Israel dengan menggunakan rantai dan gembok
Olahraga
19 Februari 2019 15:12 WIB

Mercedes Khawatir Terganggu Brexit

Soalnya, pabrik dan fasilitas operasi mesin Mercedes ada di Inggris
Suara-Milenials
19 Februari 2019 15:05 WIB

VIDEO: Jelang Pilres Pelajar di Jakarta Utara Rekam e-KTP

Pelaksanaan pencetakan e-KTP dilakukan bagi para pelajar SMA yang sudah berusia 17 tahun
POPULER
18 Februari 2019 14:22 WIB

Robben Sebut Anfield Stadion Terburuk

18 Februari 2019 07:25 WIB

Kita Semua Wajib Tanggung Jawab

21 Juli 2018 16:30 WIB

Asia Juga Punya Anak Muda 'Berbahaya'

PODCAST

LISTEN
15 Februari 2019 19:22 WIB

NGEPOD: Buzzer Baik, Memang Ada? (Part 1)


LISTEN
14 Februari 2019 17:09 WIB

PODCAST: Sendiri Tak Melulu Sepi


LISTEN
04 Februari 2019 19:22 WIB

NGEPOD: Merangkai Kata Mendulang Rezeki


LISTEN
01 Februari 2019 19:50 WIB

NGEPOD: Mendarat di Galaksi Palapa


LISTEN
30 Januari 2019 15:11 WIB

NGEPOD: 'Stand Up' untuk Ekonomi Kreatif

FITUR