Senin, 14 Oktober 2019
Toko Musik Plus (Gabriella Thesa/era.id)
06 Oktober 2019 07:03 WIB

Senja Kala Toko Musik dan Akhir Hayat Album Fisik

Cuma generasi 80-90an yang tahu kalo toko musik adalah surga~
Bagikan :


Jakarta, era.id - Seorang pria muda asyik sendiri duduk di sofa berwarna hitam. Di hadapannya sebuah televisi LED 52 inchi memutarkan video konser Live at Luna Park dari band progessive rock Dream Theather. Terdengar sayup-sayup James LaBrie menyanyikan lagu Lost Not Forgotten. Dari sorot matanya, dia tampak larut dalam hentakan musik band asal Boston, Amerika Serikat itu. 

Momen itu redaksi era.id lihat saat mengunjungi salah satu toko musik di Sarinah Thamrin. Namanya Musik Plus. Record store itu bisa dikatakan segelintir yang masih bertahan di tengah gempuran digital music streaming platform atau layanan musik digital.

Keberadaan Musik Plus bisa dibilang langka, mengingat usaha mereka termasuk kategori toko musik mapan. Bukan sekadar gerai musik yang menjual CD, DVD, atau vinyl bekas yang kini juga mulai menjamur.

Barry namanya. Sudah 14 tahun dia bekerja di Musik Plus sebagai penjaga toko. Dia bercerita, saat ini penjualan album musik berbentuk fisik mulai lesu, tepatnya sejak tahun 2013. Biang keladinya tak lain karena menjamurnya layanan musik digital seperti Spotify, SoundCloud, YouTube, Apple Music, Joox, dan sebagainya. Imbasnya, minat pasar untuk mengoleksi lagu-lagu berbentuk fisik jadi anjlok.


Baca Juga : Kebangkitan Club Eighties dalam Cahaya

"Penjualan kelihatan menurun itu sejak tahun 2013, itu kalau enggak salah Joox sudah muncul, belum lagi ilegal download kaya Stafa. Jadi kita berpikir juga kayaknya sudah mulai susah," ungkap Barry.



Kesulitan dalam menjual album musik bentuk fisik semakin terasa saat beberapa label lokal mulai tak lagi memproduksi CD dari para musisinya. Namun, Barry enggan menyalahkan perkembangan zaman. Dia sadar adanya pergeseran minat dalam mendengarkan lagu bagi generasi milenial.

Barry lantas bernostalgia ketika Musik Plus berada di era kejayaannya. Dia mengaku tak bisa duduk santai seperti saat ini karena banyaknya pelanggan yang datang. "Apalagi kalau dulu pas hari kerja, enggak bisa saya duduk-duduk kaya begini. Ramai banget," katanya.

Diselamatkan penjualan album impor

Kini, kata Barry, Musik Plus masih tetap bertahan dari penjualan album band luar yang dimpor dan pesanan khusus dari pelanggannya. Memang jika dilihat, koleksi album musik di tempat ini tidak terlalu banyak, tapi untuk kondisi saat ini, sudah lebih dari cukup. Dan sesuai dengan slogan mereka, "The right place for music lover". 

Selain menjual album impor, record store macam Musik Plus tetap menadapat dukungan dari artis atau musisi top. Sejumlah artis papan atas seperti Soleh Solihun, Vincent Rompies, dan Ari Lasso pun diakui kerap mampir dan membeli CD dari toko ini. Bisa dibilang, tempat ini lumayan jadi rujukan jika kita sedang mencari album-album terbaru baik lokal maupun mancanegara.

"Masih banyak lah yang datang sebenernya. Apalagi kita ketolong sama, kalau misalnya ada barang impor datang kan banyak yang udah pesan dulu tuh, kita calling aja," papar Barry.

Barry juga mengakui ada beberapa anak muda yang menjadi pelanggan. Menurutnya, itu membuktikan layanan musik digital tak melulu digandrungi oleh generasi milenial. "Ini balik lagi ke masalah selera, orang kalau sudah nyaman denger CD biasanya kurang kalau denger Spotify, gitu juga kebalikannya," kata Barry.

Sebenarnya, kata Barry, para musisi tidak perlu takut untuk mengeluarkan dan menjual rekaman album fisik meski layanan musik digital lebih menjanjikan. Bukan tanpa alasan, dia melihat penjualan album fisik masih bagus, bahkan tak jarang sold out.



Dia lantas mencontohkan beberapa album fisik milik penyanyi solo Tulus dan Danilla, ataupun grup band Barasuara yang masih terus dicari oleh penggemarnya. "Kalau misalnya musisi itu bikin album bagus, saya yakin aja laku, contohnya banyak. Itu penjualannya bagus," kata Barry.

Beruntung saat ini, kata Barry, masih ada label rekaman yang tetap memproduksi album fisik saat rekan sesama label lain memilih mengikuti zaman. "Selama masih ada peminat, ya kita masih bertahan," pungkas Barry.

Selain Musik Plus, satu toko musik yang masih bertahan adalah Duta Suara yang terletak di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Duta Suara sudah berdiri sejak 40 tahun silam. Di masa keemasannya, mereka bahkan bisa membuka 14 cabang, tapi kini hanya tinggal satu yang masih bertahan.

Nasibnya tak jauh berbeda dengan Musik Plus, saat kami datang, tak ada pelanggan yang mampir. Hanya ada empat pegawai yang sibuk membersihkan rak-rak CD. Deretan album yang berada di rak juga terbilang lengkap baik itu kolekai lawas maupun baru, dari Duo Kribo sampai Danilla, dari Nat King Cole hingga Ed Sheeran pun tersedia.

Tak ingin melewati 'harta karun', kami sempat membali dua album musik milik gitaris Dewa Budjana berjudul Mahandini dan salah satu band indie asal Jogja I Know You Well Miss Clara.

Saat membayar, perempuan penjaga kasir sempat berucap toko musik Duta Suara ini mirip museum bagi pecinta musik. "Ini kaya museum, tutupnya saja tiap hari senin," ujarnya.


Foto-foto karya Gabriella Thesa Widiari/era.id.

Toko Musik Masih Dibutuhkan?

Aldo Sianturi, Chief Operating Officer (COO) Billboard Indonesia mengatakan keberadaan toko musik sudah tak terlalu dibutuhkan seperti dulu. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi para pebisnis industri musik untuk tidak lagi menggeluarkan album fisik. Salah satunya adalah perubahan model bisnis musik di Indonesia.

Penjualan album musik secara bundling di gerai restoran ayam goreng pun juga berandil dalam lesunya bisnis toko musik. "Itu lambat laun mereka jadi tergerus dan bertepatan juga dengan hadirnya digital streaming platform," kata Aldo.

Layanan musik digital, kata Aldo, menjadi lebih membatu dan menjanjikan karena lebih efisiensi dan digemari generasi muda. Sedangian dari segi musisi, Aldo mengakui jika dulu album fisik menjadi tolak ukur, tapi dengan adanya layanan musik digital akhirnya kini menjadi single market.

"Akhirnya setelah tujuh tahun ini, musisi jadi mengikuti arus yang ada, mereka tinggal switch button aja," ujarnya.

Menurut Aldo, toko musik atau record store saat ini hanya sekedar romantika bagi generasi 80-90an. "Romantika toko musik itu untuk generasi di atas generasi X, romantika itu enggak ditemui sama generasi milenial sekarang,"  ucapnya.

Jadi kira-kira toko musik bertahan sampai kapan? 
Bagikan :
Topik :

Reporter : Gabriella Thesa Widiari
Editor : Ervan Bayu Setianto
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Internasional
14 Oktober 2019 13:11 WIB

Mereka yang Tergerak Usai Jepang Dihabisi Topan Hagibis

Hats off to all volunteers!
Lifestyle
14 Oktober 2019 13:03 WIB

Melihat Gaya Alay Lora Fadil dan 3 Istrinya Main Tik Tok

Jangan bilang habis ini mau jadi YouTuber ya Mas
megapolitan
14 Oktober 2019 12:41 WIB

Hari Ini, Pengamanan di Sekitar Kompleks Parlemen Menurun

Tapi jalanan di depan kompleks parlemen, ditutup
Lifestyle
14 Oktober 2019 12:27 WIB

Mengenal Somantri Ahmad, Bapak-bapak dengan Lawakan yang Khas

Lawakannya sempat viral di sejumlah media sosial
Internasional
14 Oktober 2019 12:05 WIB

Mal di Hong Kong Jadi Arena Bentrokan Aparat Vs Demonstran

Orang-orang yang sedang berbelanja berteriak-teriak ketakutan dan beberapa luka-luka