Kamis, 21 November 2019
Suasana di dalam Museum Tengah Kota. (Mery/era.id)
21 Juli 2019 19:11 WIB

Museum Tengah Kebun, Referensi Akhir Pekan Berfaedah

Sekali-kali ke museum jangan ke mall terus, apalagi cuma liat-liat doang tapi gak beli~
Bagikan :


Jakarta, era.id - Kalau bicara tentang Jakarta, yang terbayang di benak kita tentu kota yang padat penduduk dengan masalah polusi dan kemacetannya. Tapi, tahukah kamu kalau ibu kota Indonesia ini enggak cuma terkenal dengan hal-hal tersebut lho.

Kota ini punya banyak sekali destinasi yang menarik untuk dikunjungi. Mulai dari wisata sejarah, budaya, kuliner, belanja, hingga wisata alam tersedia di kota metropolitan yang tak pernah sepi ini. Berbagai tempat yang seru ini tentunya bisa jadi pilihan buat kamu menghabiskan waktu saat akhir pekan.

Tim era.id kali ini mencoba mengunjungi sebuah tempat yang asri, teduh, dan nyaman di Jakarta. Mungkin tak terbayangkan hadirnya tempat ini, mengingat letaknya berada di pusat gaya hidup ibu kota yaitu Kemang. Peribahasa yang tepat untuk menggambarkan Museum di Tengah Kebun ini: Semut di ujung lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tak tampak.

Untuk menuju tempat ini, kalian bisa menggunakan Moda Raya Terpadu (MRT) terdekat. Kemudian turun di halte Haji Nawi, lanjut menggunakan transportasi online ke Jalan Kemang Timur Raya No.66, Bangka, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.


Baca Juga : Melihat Kemegahan Kuil Sensoji Asakusa di Tokyo

Tempatnya memang agak tersembunyi, tapi jika kalian telah menumukan Masjid Jami Nurul Huda berarti kalian tidak tersesat. Museum ini letaknya di sekitar masjid itu.



Tidak ada sign board besar yang mencolok pandangan, tidak pula bangunan megah dengan arsitektur zaman Belanda atau arsitektur kuno ala museum kebanyakan. Tetapi, yang ada hanya pintu gerbang terbuat dari kayu yang besar, serta nama museum yang tertempel di tembok kanan dan kiri sebagai penanda.

Pengunjung tidak dikenakan biaya apa pun alias gratis untuk bisa memasuki Museum di Tengah Kebun ini. Tapi, untuk bisa masuk melihat-lihat koleksi museum kalian harus memiliki rombongan paling sedikit tujuh orang dan paling banyak 15 orang. Lebih lengkapnya kalian bisa cek di Instagram resmi milik mereka @museumditengahkebun.

Pertanyaan di benak saya sebelum mendatangi museum ini adalah: Apa yang membedakan Museum di Tengah Kebun dengan museum lain? Apakah ada kebun yang besar mengelilingi museum tersebut? Seperti apa bentuk museumnya?

Memasuki Museum Tengah Kebun

Siang ini, Sabtu (21/7/2019), setelah melakukan registrasi dan membuat janji jam kunjungan, saya berhasil mendapat kesempatan mengunjungi museum. Kesan pertama saya menginjakan kaki di depan gerbang ini seperti berada di perkarangan rumah seseorang yang hobi merawat tanaman.

Namun, setelah memasuki gerbang, suasananya berubah tidak seperti di Jakarta. Terlihat, ada bangunan utama menyerupai rumah terletak cukup jauh dari tempat saya berdiri. Sebelum mencapai bangunan utama, saya harus melewati kebun kurang lebih sepanjang 60 meter.

Semakin dalam memasuki museum ini saya semakin takjub, ternyata ada kebun tersembunyi di jantung ibu kota. Museum di Tengah Kebun ini benar-benar asri dan teduh dan lebih banyak ruang terbuka hijaunya, tidak seperti kebanyakan museum di Jakarta.

Suara seseorang memecah lamunan saya, dia adalah Afifah guide atau pemandu di Museum ini. Sebelum menjelajah lebih jauh, Afifah meminta saya meletakan tas di meja kayu dari daerah Cirebon yang juga memiliki sejarah. Kemudian, kalian akan diberikan sendal yang akan dikenakan selama di dalam maupun di area museum. Setalah itu, kalian akan diajak berkeliling selama 2 jam.

Di museum ini juga ada area yang tidak boleh diabadikan gambar, baik foto maupun video. Afifa menjelaskan, pengunjung hanya boleh melihat dan mengamati saja.

“Di area ini tidak boleh foto yah teman-teman. Kalian boleh lihat-lihat, saya akan jelaskan satu-satu benda-benda apa saja yang ada di sini,” ucapnya.



Sebenarnya, Museum di Tengah Kebun ini merupakan rumah tinggal Sjahrial Djalil, tapi pada tahun 2009 ia mengesahkannya sebagai museum di tangan notaris. Sejak saat itu, Museum ini terbuka untuk umum.

Museum ini berdiri di atas lahan seluas 4.200 meter, 80 persen dari luas tanahnya dibangun menjadi kebun atau ruang terbuka hijau. Selain itu, Museum ini memiliki sekitar 4.000 barang seni dan sejarah.

Afifa kembali mengajak saya dan beberapa pengunjung lainnya ke area hijau. Suasananya seperti sedang berada di daerah Jawa Tengah dan semakin jauh dari hiruk pikuk Jakarta.

Di area ruang terbuka ini, ada beberapa pendopo. Di sini pengunjung boleh mengambil gambar maupun video, termasuk memotret beberapa barang-barang peninggalan sejarah.

"Di sini ada yang kenal Geace Kelly?" tanya Afifa.

Semua pengunjung yang berjumlah 10 orang termasuk saya tidak ada yang menjawab pasti mengetahui siapa sosok yang ditanyakan pemandu kami. "Kalau kaula muda mungkin enggak kenal yah. Ini artis yang nikah sama pangeran Monako. Bapak (Sjahrial) punya cermin asli milik Grace Kelly, mari ikut saya," ucap Afifah.



Tidak hanya cermin asli milik Grace Kelly. Ada lukisan, patung, arca, wayang, keramik, topeng, kursi, meja, hiasan dinding, peti kayu, lemari, payung, dan tongkat. Ada juga tempat perhiasan, tempat manisan, peralatan makan, vas bunga, lampu, perhiasan, dan masih banyak lagi. Semuanya tertata dengan apik di setiap sudut rumah, dilengkapi dengan penamaan dan tahun barang itu dibuat.

Ada topeng, patung, sampai fosil pohon yang berasal dari Masa Triassic di Pulau Jawa, 248 juta tahun sebelum masehi. Ada juga fosil kerang dari Maroko, yang berasal dari Masa Jurasic, 230 juta tahun sebelum masehi.

Semua barang-barang bernilai sejarah itu dikumpulkan Sjahrial Djalil selama 42 tahun terakhir. Ia melakukan perjalanan keliling dunia sebanyak 26 kali. Selama perjalanan itu, ia banyak mengunjungi museum-museum di luar negeri dan merasa kecintaannya terhadap barang-barang sejarah semakin besar.

Sebanyak 90 persen barang-barang sejarah ia dapatkan di Balai Lelang di berbagai kota di Eropa, Amerika, Hong Kong, dan Australia. Semua koleksi yang dimiliki Sjahrial pun berasal dari 63 negara dan 21 provinsi di Indonesia.

Di area terbuka hijau ini, pengunjung diberi waktu selama 30 menit untuk bebas mengambil gambar maupun video. Di area ini juga terdapat kolam renang yang boleh digunakan pengunjung. Di sini lah akhir perjalanan saya menjelah Museum ini.



Setelah kembali ke tempat awal saya menaru tas dan sepatu, Afifa memberi saya buku yang tebalnya sekitar 200 lembar. Di situ jelas tertulis tujuan pemilik membuat rumah tinggalnya menjadi Museum.

"Dengan segala kerendahan hati, saya ingin membagi kesempatan kepada masyarakat. Terutama generasi muda sebagai tunpuan harapan peradaban kita yang lebih baik, apa yang saya miliki sekarang. Menjadi tugas setiap orang yang memiliki sesuatu berlebih untuk juga membagi kelebihannya kepada orang lain.  Museum di Tengah Kebun menjadi persembahan untuk memenuhi kewajiban itu," ucap Sjahrial Djalil dalam bukunya.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Mery Handayani
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
21 November 2019 19:45 WIB

PDIP Dapat Penghargaan dari Pemerintah

Sebagai parpol paling informatif
Nasional
21 November 2019 19:23 WIB

Kejanggalan Aset Sitaan First Travel yang Diambil Negara

DPR menilai, seharusnya hasil lelang aset sitaan First Travel diberikan kepadan korban
megapolitan
21 November 2019 19:03 WIB

Mulai Desember Naik LRT Bayar Goceng

Pihak LRT mulai menerapkan tarif angkutan kereta, seiring habisnya masa uji coba publik
Nusantara
21 November 2019 18:30 WIB

Chikenisasi di Bandung Cegah Anak Kecanduan Gadget

Rencananya 2.000 anak ayam bakal dibagikan
Nasional
21 November 2019 18:22 WIB

Mengenal Para Staf Khusus Muda Jokowi

Dari Putri Tanjung hingga CEO Ruang Guru