Rabu, 13 November 2019
Kota Medellin (Pixabay)
09 Juli 2019 10:25 WIB

Kala Anies Melawat ke Kota Bekas Kartel Narkoba Terbesar Dunia

Anies pergi ke Medellin, kota di mana Pablo Escobar pernah berkuasa dan jadi raja narkoba
Bagikan :


Jakarta, era.id - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berencana terbang ke Kota Medellin, Kolombia pada Selasa, 9 Juli 2019 malam. Dia pergi untuk menghadiri pertemuan pemerintah kota-kota sedunia dalam rangkaian acara World Cities Summit. 

"Saya ke Medellin, ada World Cities Summit. Itu pertemuan kota-kota di dunia yang mulainya hari Rabu. (Berangkat) besok malam," kata Anies di Balai Kota DKI, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019) malam.

Acara yang diikuti Anies ini akan digelar selama sepekan. Dia akan pulang ke Jakarta pada 16 Juli 2019. Selama itu, kerjaanya bakal dipegang oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DKI Jakarta Saefullah. Meski seharusnya, tugas Anies dikerjakan oleh cawagub, tapi jabatan itu kosong sejak ditinggal Sandiaga Uno yang maju jadi cawapres para Oktober 2018. 

"Pak Sekda akan jadi Plh. Nanti saya kasih detailnya, saya akan bicara di sana," bebernya.


Baca Juga : Pembangunan MRT Fase Dua: Lebih Pendek Tapi Lebih Susah

Sebagai informasi, World Cities Summit adalah pertemuan dua tahunan sebagai ajang bagi para pemangku kepentingan kota, pakar dan industri untuk mengatasi tantangan perkotaan, berbagi solusi, dan menjalin kemitraan untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.

Tahun lalu, DKI juga mengikuti kegiatan tahunan World Cities Summit di Marina Bay Sands, Singapura. Saat itu, yang mengikuti kegiatan ini adalah mantan Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno, ketika dirinya masih menjabat. Sandi berada di Singapura selama 2 hari yaknii 9 dan 10 Juli 2018.

Yang menarik adalah mendengar Kota Medellin. Ketika kita cari rujukan tentang kota ini, akan muncul nama Pablo Escobar, dan kartel narkoba.

Kota ini sempat terkenal perdagangan narkoba internasional pada 1980 hingga 1990, dengan organisasi berbasis rumahan Kartel Medellín yang dipimpin oleh Pablo Escobar. Perang antar geng narkoba, kematian polisi, hakim, politikus dan warga, menjadi hal yang biasa kala itu. 



Ilustrasi Ilham/era.id

Kota ini awalnya adalah kawasan kumuh. Namun, karena bisnis narkoba Pablo Escobar, pembangunan di kota itu mulai merata. Pablo Escobar pun didaulat jadi orang terkaya karena bisnis narkoba. Sebabnya, 80 persen pasokan kokain dunia, berasal darinya. 

Roberto Escobar, saudara Pablo Escobar, dalam buku berjudul The Accountant's Story: Inside the Violent World of the Medellín Cartel menceritakan, Pablo Escobar memiliki relasi yang natural dan harmonis dengan kaum miskin kota. 

Pablo Escobar disebut royal dan sering mendistribusikan kekayaannya untuk pembangunan kota. Termasuk soal kegemarannya terhadap olahraga, dia juga membangun fasilitas olahraga dan mensponsori tim sepak bola di kota ini.

Ini pula yang membuat Pablo Escobar mendapatkan dukungan dari seluruh warga kota. Dia pun jadi punya banyak anak buah yang rela mati buat menjaganya.

Laporan Bussines Insider menyebut, pada pertengahan 1980-an dan bagian dari puncak kejayaaannya, kartel Medellin meraup 420 juta dolar per minggu, dan berarti sekitar 22 miliar dolar per tahunnya.

Setelah kerajaan kartel narkoba ini makin meraja lela, Pablo Escobar jadi incaran banyak pihak, mulai dari pemerintah Kolumbia, Amerika Serikat hingga lawan bisnisnya. 

Dilaporkan Los Angeles Times, suatu ketika, geng narkoba bernama Los Pepes, intelijen Kolumbia dan pasukan khusus Amerika Serikat melakukan serangan ke kartel Medellin.

Akibat serangan itu, sejumlah rekan Pablo Escobar yang meliputi pengacara, kerabat tewas. Sementara, sejumlah besar properti dari kartel Medellin dihancurkan. 

Pablo Escobar juga dikabarkan kalah dalam baku tembak di Los Olivio, salah satu kampung di Medellin. Kala itu, Pablo Escobar ditemani pengawal pribadinya, Alvaro de Jesús Agudelo. 

Dalam kronologi penangkapan yang dirilis U.S Drug Enforcement Administration, kedua buronan ini berusaha melarikan diri dengan berjalan di atap rumah, di saat itulah keduanya ditembak polisi Kolombia. Dia terluka tembakan di kaki dan tubuh bagian atas, dan yang paling fatal adalah tembakan di telinga. 

Kontroversi yang meliputi penembakan mati Escobar adalah tidak ada yang mengetahui secara pasti siapa yang melepaskan tembakan hingga tepat di telinganya atau proses itu dilakukan setelah ia terjatuh. Beberapa kerabat Escobar percaya ia mengakhiri hidupnya dengan menembakkan diri tepat di telinga. 

Dalam buku Kenneth Robert berjudul Zero Hour: Killing of the Cocaine King memuat keterangan dari saudara Pablo Escobar, Roberto Escobar dan Fernando Sánchez Arellano yang menyebut bahwa raja kokain itu pernah mengutarakan ingin menembak dirinya sendiri melalui telinga. 

2 Desember 1993 menjadi akhir hidup Pablo Escobar. Selama hidup, dia jadi sosok Robin Hood bagi warga Medellin terutamanya kaum miskin kota banyak yang meratapi kematiannya.

Namun, kisah itu sudah tak ada setelah otoritas setempat melakukan pembenahan di berbagai sisi. Malahan, sekarang, tempat itu jadi lokasi wisata yang menarik.
Bagikan :

Reporter : Diah Ayu Wardani
Editor : Bagus Santosa
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nusantara
13 November 2019 18:43 WIB

Pengemudi Ojol Tak Terpengaruh Aksi Bom Medan

Pengemudi ojol bukan teroris!
megapolitan
13 November 2019 18:11 WIB

Duh, Skuter Listrik Bikin Rusak JPO Kekinian

Lantainya kan dari panel kayu, kena roda rusak dong..
Nasional
13 November 2019 17:48 WIB

Buntut Bom Medan, Rekrutmen Ojol Bakal Diperketat

Kemenhub minta ojek online review proses rekrutmen mitra pengemudi
Nasional
13 November 2019 17:27 WIB

Waspada Metode Penyamaran Baru Teroris

Mereka mengamati dan menyamar
Nusantara
13 November 2019 16:06 WIB

Edy Rahmayadi Minta Warga Sumut Tetap Tenang

Minta masyarakat tenang dan beri informasi