Sabtu, 24 Agustus 2019
Praktik dukun pada masa lalu. (Koleksi Tropen Museum/Wikimedia)
13 Agustus 2019 20:19 WIB

Praktik Perdukunan, Dibenci Tapi Dicari

Manusia memang tak pernah puas
Bagikan :


Jakarta, era.id - Dua bulan lalu, nasib apes menimpa Kudori (51) warga Kecamatan Banjar Agung, Tulang Bawang, Lampung. Uang Rp50 juta miliknya, raib. Dia kena tipu dukun palsu yang mengiming-iming kekayaan.

Wiraswasta ini diiming-imingi emas batangan yang ditarik dari dalam tanah secara gaib oleh dukun palsu bernama Sukijantoro (44). Tapi ada syarat. Kudori kudu memberi 'mahar' sebesar Rp50 juta.

Sebelum mendapatkan emas batangan, dukun palsu itu meminta Kudori melakukan ritual khusus. Setelah semua ritual dilakukan, Sukijantoro meminta waktu selama 40 hari. Namun, hingga tulisan ini dibuat, emas batangan yang dijanjikan tak kunjung tiba.

Uang Rp50 juta milik Kudori raib entah ke mana rimbanya. Dia sudah melaporkan penipuan ini ke Polsek Banjar Agung, 25 Juni 2019, seperti kami kutip dari kompas.com.


Baca Juga : VIDEO: Membongkar Trik-Trik Dukun Palsu

Akhir cerita, si dukun palsu ditangkap. Mapolsek Banjar Agung menciduk Sukijantoro dan menjeratnya dengan Pasal 378 KUHP tentang Penipuan, dengan ancaman pidana paling lama empat tahun penjara.

Kasus penipuan berkedok praktik klenik semacam ini memang sering terjadi di Indonesia. Pada 2015 silam, masyarakat Indonesia dibuat heboh oleh kasus penggandaan uang yang menelan banyak korban. Aktor utamanya adalah Taat Pribadi atau lebih intim disapa Dimas Kanjeng.



Dari Padepokan yang terletak di Dusun Sumber Cengkelek RT 22/RW 08, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, lelaki berperawakan tambun itu melancarkan aksi tipu-tipunya. Korbannya tersebar bukan cuma dari Pulau Jawa, tapi ada yang dari Sulawesi dan wilayah lain.

Namun, sepandai-pandainya menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga. Satu per satu pengikut Dimas Kanjeng mulai mundur teratur. Mereka sadar ternyata sudah kena tipu muslihat.

Diperangi tapi digemari

Kendati kasus penipuan berbalut praktik klenik terus terjadi dan menelan banyak korban, toh masih banyak masyarakat Indonesia kena bualan itu. Padahal, kata budayawan Jakob Sumardjo dalam tulisannya di kompas.com, praktik klenik sudah sejak lama diperangi. Tak hanya oleh golongan rasionalis, tetapi juga para pemeluk agama.

Jakob menjelaskan ada alasan mendasar mengapa praktik klenik ini tetap ada. Dia menilik dari sisi sejarahnya. Menurutnya, seperti dijelaskan dalam kitab Negarakertagama, dikisahkan bagaimana raja besar Majapahit, Hayam Wuruk, mengelilingi negaranya dengan ziarah ke candi-candi nenek moyangnya.

"Dari situ kekuasaan raja besar dihubungkan dengan kekuatan transenden (di luar segala kesanggupan manusia) yang sedikit banyak mutlak. Kekuatan manusia yang terbatas perlu kekuatan lain yang tidak terbatas," tulis Jakob.

Jadi, menurut Jakob dunia klenik itu memang berakar pada budaya primordial bangsa. Budaya klenik muncul ketika kekuatan manusia yang terbatas ini membentur masalah-masalah berat yang dihadapi manusia. Sehingga memerlukan kekuatan di luar kemampuan manusia atau Jakob menyebutnya dengan alam transenden yang lebih mutlak.


Praktik dukun pada masa lalu. (Koleksi Tropen Museum/Wikimedia)

Dasarnya klenik, kata Jakob, adalah religius. Dia membedakan menjadi dua jenis manusia religus. Pertama, manusia modern religius yang akan berlutut di rumah-rumah ibadah, langsung berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Jenis ini masih percaya daya transenden mutlak itu ada dan dapat membantunya untuk mendapatkan kekuatan.

Sedangkan jenis yang satu lagi yakni manusia religius modern yang butuh mediasi untuk memperoleh daya-daya transenden ini. Jenis ini juga sudah tua usianya di Indonesia. Mediasinya lewat guru-guru spiritual. Namun, guru-guru spiritual zaman kuno itu tidak minta imbalan apa pun.

Para guru menjadi mediator ke alam transeden dengan sikap penuh kasih sayang, tulus, ikhlas, dan senantiasa ingat kalau Tuhan yang menentukan, bukan dirinya. Makanya, para guru-guru spiritual kuno biasanya tetap miskin karena memang enggak minat ke kehidupan duniawi.

Sayangnya, guru-guru spiritual itu kini bertransformasi menjadi dukun, paranormal, atau orang pintar dengan degradasi makna. Mereka tak jarang malah memasang tarif atau setidaknya menantikan balas budi jasa spiritualnya.

"Karena pikiran zaman sekarang, segala hal dapat dibeli dengan uang," kata Jakob.

Hal itu sejalan dengan munculnya oknum paranormal seperti yang dilakukan Dimas Kanjeng. Kemurnian religius primordial disalahgunakan dalam hedonisme dan materialis modern.

Senada dengan Jakob, Sosilog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Tantan Hermansyah mengatakan fenomena klenik sebetulnya hal lumrah yang terjadi di masyarakat kita. "Sebab, dalam kehidupan sehari-hari kita tetap membutuhkan ruang lain dalam sistem hidup," katanya kepada era.id.

Mungkin bagi orang-orang yang mengedepankan rasionalitas dalam cara berpikir, percaya terhadap hal klenik sudah ketinggalan zaman. Apalagi kita sudah menikmati bukti dari perkembangan ilmu pasti: teknologi.

Namun, orang yang "ketinggalan zaman" itu tak peduli. Sebab menurut Tantan, budaya klenik masih ada karena budaya sehari-hari yang positivistik itu terasa kering bagi subjek. Dia bilang, perbedaan antara mereka yang masih menganggap penting budaya spiritual dengan budaya rasional tidak perlu dikotomikan sebagai budaya kota atu budaya desa. Sebab itu adalah budaya manusia.

"Sampai kapan pun, manusia tidak akan lepas dari budaya seperti ini. Sebab budaya rasionalitas tetap harus bergandengan dengan budaya spiritual," kata Tantan.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Ramdan Febrian Arifin
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
23 Agustus 2019 21:33 WIB

Kunjungi Festival Indonesia Maju, Megawati Nostalgia Saat Jadi Presiden

Acaranya masih ada sampai 25 Agustus, ke sana yuk mblo~
Nasional
23 Agustus 2019 21:01 WIB

OPM Diduga Tunggangi Kerusuhan di Papua

"OPM itu amat merugikan bagi masyarakat Papua itu sendiri"
Nusantara
23 Agustus 2019 20:17 WIB

Satu Anggota KKB Tewas dalam Kontak Senjata di Pasar Wamena

Polisi dan masyarakat juga ikut terluka~
megapolitan
23 Agustus 2019 19:11 WIB

Komisi Impian Tina Toon di DPRD

Tina Toon akan tempati DPRD DKI Jakarta. Apa yang ideal buat Tina?
Nasional
23 Agustus 2019 18:15 WIB

Banyak Masalah Kesenjangan di Papua yang Ditutupi

"Ada kesenjangan ekonomi, HAM, dan keamanan yang harus kita evaluasi"