Kamis, 23 Mei 2019
Manggala Agni beraksi di pedalaman Riau (Istimewa)
11 Maret 2019 15:19 WIB

Kisah Manggala Agni: Terkepung Api, Mengumandangkan Azan

Tuhan bekerja di luar logika manusia
Bagikan :


Dumai, era.id - Kisah heroik berbau spiritual ini tak banyak yang tahu. Suatu waktu, sembilan tahun silam, di sebuah kawasan di Medang Kampai, Dumai. Ada enam personel Manggala Agni Daops Dumai yang sempat terjebak di tengah kebakaran lahan.

Cerita ini dikisahkan ulang oleh salah satu personel Manggala Agni, Azmi (40) yang ikut terjebak kala itu. Dia dan rekan-rekannya sedang memadamkan titik api yang bergerak mengarah ke pondok-pondok kayu yang ditinggali warga. Ada Ibu-ibu dan anak-anak juga. Mereka memang tinggal di lahan tersebut untuk berkebun.

"Mereka sudah berteriak minta tolong, dan Alhamdulillah berhasil kita selamatkan. Namun tak lama kemudian, kami dapat kabar kalau api berputar ke arah barak tempat kami tinggal," kenang Azmi.

Faktor angin membuat api begitu cepat berubah arah. Membakar apa saja yang menghadangnya. Mulai dari ilalang, rerumputan, hingga pepohonan. Jarak dari barak hanya tinggal 1,5-2 km. Tim dari Manggala Agni mulai panik. Soalnya di dalam barak itu tersimpan peralatan dan logistik. Mereka lantas berusaha memblokade jilatan api yang mengarah ke barak.


Baca Juga : Tobat Brazil untuk Hutan yang Gundul

"Tim yang bertugas menyelamatkan barak hanya 6 orang. Saya yang paling depan menghadang api dengan memegang kepala selang," kata pria yang sudah menjadi anggota Manggala Agni sejak tahun 2002 ini.

Sayang, yang tersedia cuma satu selang saja. Rasanya tak sebanding untuk melawan kobaran api yang makin membesar karena ditambah angin kencang. Azmi dan kawan-kawan pasrah. Langkah penyelamatan diri jadi opsi yang harus dipikirkan saat itu. Beruntung dia melihat ada kanal kecil tak jauh dari barak.

"Saya terus memandang ke arah api yang datang, lalu mandang ke belakang. Mandang ke depan, lalu mandang lagi ke belakang. Pokoknya kalau api tak bisa dihadang, kami harus lompat ke dalam kanal, dan hanya bisa pasrah apapun yang akan terjadi. Bisa dipastikan kami akan terbakar," tutur Azmi.

Api terus menjadi-jadi menderu ke arah mereka. Tak terbayangkan panas udara sekitar saat itu. Azmi yang sudah dipenuhi dengan kepasrahan, memilih mengambil air wudhu dari selang pemadamnya. Mungkin saja dia sudah terlampau berserah, pasrah. Ia berdiri ke arah jilatan api dan mengumandangkan azan.

"Subhanallah, tak sampai 5 menit api berbelok. Warga selamat, barak selamat, dan seluruh anggota juga selamat, Alhamdulillah," ujar Azmi penuh syukur.


Lahan yang terbakar di pedalaman Riau (Istimewa)

Sebuah kenangan pilu

Kisah yang ini adalah cerita sedih. Salah satu anggota tim, Fauzi (41) bercerita soal kenangan pahit mereka saat memadamkan api di lahan masyarakat yang berada di simpang pemburu, Kec. Tanah Putih, Rohil, tahun 2014 silam. 

Saat itu di lokasi tersebut awalnya tidak ada titik api. Seluruh tim Manggala Agni sedang berjibaku memadamkan lahan terbakar di Simpang Batang.

Api di lokasi ini sudah membara dan membakar apa saja di sekitar mereka. Ditambah faktor angin, membuat jalan tanah yang dilewati kendaraan mereka pun dikelilingi api.

"Kami sampai harus menyiram-nyiram kendaraan, khawatir kalau sampai terbakar saat lewat," kata Fauzi.

Meski harus melewati kepungan api, Fauzi dan rekan-rekannya tetap ke lokasi utama titik api, karena di dalam kebun ada beberapa pondok kayu yang dihuni banyak warga, termasuk perempuan dan anak-anak.

"Itulah yang coba kami selamatkan. Karena memikirkan nyawa warga di dalam kebun," kata Fauzi. 


Manggala Agni beraksi di pedalaman Riau (Istimewa)

Mereka berjibaku memadamkan titik api hingga sore hari. Saat pulang, mereka baru dapat kabar kalau ada lokasi lahan terbakar lainnya di Simpang Pemburu. Namun saat itu mereka tak bisa mengantisipasi titik api yang sudah terlanjur membesar.

"Ada suami istri yang lemas karena asap, lemas, dan meninggal. Kami semua merasa sedih dan bagi saya, rasanya sulit memaafkan diri sendiri," kata Fauzi mengenang dengan nada tertahan. Terlihat sekali kejadian itu sangat membekas di hatinya.

Ia dan rekan-rekannya saling menguatkan. Bagaimanapun mereka sudah berusaha semaksimal mungkin. Terlebih lagi, saat kejadian mereka juga sedang berjuang menyelamatkan empat Kepala Keluarga (KK) yang terkepung api di lokasi lainnya.

Saat tak ada titik api, merekapun melakukan sosialisasi mengajak sekaligus mengingatkan masyarakat untuk benar-benar menjaga hutan, lahan dan lingkungan sekitar.

Dikatakan Fauzi, hampir 98 persen penyebab karhutla adalah faktor kesengajaan manusia. Ada yang sengaja bakar untuk kebun, ada yang buang puntung rokok saat mancing, dan lainya. 

"Inilah yang terus kami sosialisasikan ke masyarakat, untuk sama-sama menjaga," katanya.


Manggala Agni beraksi di pedalaman Riau (Istimewa)
Bagikan :
Topik :

Reporter : Moksa Hutasoit
Editor : Moksa Hutasoit
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
23 Mei 2019 15:58 WIB

VIDEO: Jalan MH Thamrin Masih Tutup

Sejak pagi Barikade kawat berduri masih terpasang di persimpangan Sarinah
Nasional
23 Mei 2019 15:55 WIB

Kubu Prabowo Batal Menggugat ke MK Hari Ini

Tenang, tim masih rapat mengumpulkan dokumen
Lifestyle
23 Mei 2019 15:38 WIB

Blackpink Beri Penghormatan buat Korban Serangan Manchester

Ini dilakukan dalam pertunjukan pertama mereka di Manchester
Nasional
23 Mei 2019 15:16 WIB

2 Tersangka Unjuk Rasa 21 dan 22 Mei Berafiliasi ISIS

"Fix, ini sudah ditunggangi," katanya
megapolitan
23 Mei 2019 14:49 WIB

Anies: 8 Orang Meninggal pada Aksi 21-22 Mei

Turut berduka