Senin, 16 September 2019
Christopher McCandless (Instagram/cinemamagic)
19 Agustus 2019 18:40 WIB

Mendalami Nilai 'Into the Wild' dalam Diri Christopher McCandless

27 tahun lalu, petualangan Chris selesai. Bagaimana nilai-nilainya pengaruhi banyak orang?
Bagikan :


Jakarta, era.id - Bus bercat hijau-putih bernomor 142 hampir membusuk di Jalur Stampede di sekitar Alaska, Amerika Serikat (AS), ketika Christopher Johnson McCandless menemukannya sebagai rumah yang hangat di tengah perjalanannya menuju kehidupan liar. Bus itu kemudian dikenal dengan magic bus. Sementara, perjalanan McCandless akrab dengan nama Into the Wild.

Hari ini, tepat 27 tahun yang lalu, McCandless meninggal di usia 24 tahun dalam petualangan besarnya di alam liar. Jasadnya ditemukan para pemburu di Jalur Stampede, tepat di depan magic bus pada 6 September 1992, beberapa hari setelah kematiannya. Jasad McCandless ditemukan dalam kondisi tubuh yang menyusut dengan berat sekitar 67 pon (30,4 kilogram).

Sebab kematian McCandless banyak dipertanyakan. Dalam sebuah catatan yang ditemukan, McCandless menulis bahwa benih kentang liar atau Kentang Eskimo (Hedysarum Alpinum) telah membuat tubuhnya lumpuh. Sementara itu, secara resmi otoritas menyebut kelaparan sebagai penyebab kematian McCandless.

Dalam penelitian yang digagas Jon Krakauer, penulis yang mengisahkan petualangan McCandless dalam buku Into the Wild (1996), mereka mengidentifikasi senyawa berbahaya L-canavanine dan asam amino yang berfungsi sebagai antimetabolit sebagai penyebab kematian McCandless. Dua senyawa itu ditemukan dalam biji kentang liar di sekitar lokasi perkemahan McCandless.


Baca Juga : Singgah di Perpustakaan Erasmus Huis yang Bikin Betah


Menuju alam liar

Perjalanan McCandless menuju alam liar dimulai pada Mei 1990. Tak lama setelah menerima gelar sarjana predikat cum laude dari Universitas Emory, ia menyumbangkan seluruh tabungan 24.000 dolar AS dan memutus seluruh komunikasi dengan keluarga serta teman-temannya. Saat itu, tujuan McCandless adalah Fairbanks, Alaska, di mana ia berencana menghabiskan waktu sendirian, menemukan kesejatian di dalam dirinya.

McCandless mengawali perjalanan dengan berkendara ke Arizona, sebelum mobilnya jadi tak berguna akibat banjir bandang di sekitar Danau Mead. Dari sana, McCandless melanjutkan petualangannya dengan berjalan kaki, menyusuri Amerika Serikat bagian barat dengan naik ke kereta barang dan menumpang kendaraan orang-orang asing, sesekali.

Dalam perjalanannya, McCandless bertemu begitu banyak orang dengan berbagai karakter. Termasuk Wayne Westerberg, seorang operator elevator biji-bijian di Carthage, Dakota Selatan. McCandless bekerja untuk Westerberg sebelum melanjutkan perjalanannya ke selatan, di mana McCandless dikisahkan harus mendayung kano di Sungai Colorado hingga Meksiko.

Setelah kembali memasuki wilayah AS pada tahun 1991, McCandless menghabiskan sebagian besar musim gugur tahun itu untuk bekerja di McDonald's di kawasan Bullhead City, Arizona. McCandless juga sempat tinggal di Salton City, California, sebelum menetap di Carthage, tempat ia menyusun rencana soal petualangannya di Alaska.

Selanjutnya, perjalanan ke Alaska benar-benar dilanjutkan. Perjalanan ditempuh McCandless dengan menumpang melewati Kanada hingga mencapai Fairbanks melalui jalan bebas hambatan Alaska pada 25 April 1992. Tiga hari di Fairbanks, McCandless melanjutkan petualangannya dengan menumpang ke Jalur Stampede.

Jim Gallen, salah satu warga lokal yang memberi tumpangan kepada McCandless bercerita, McCandless menyampaikan gagasannya untuk 'hilang' dan sepenuhnya menyatu dengan alam. McCandless bahkan memberikan arlojinya kepada Jim dan membuang seluruh sisa perbekalan, termasuk uang 85 sen dan peta. Menurut Jim, McCandless ingin menuju tempat di mana tak ada seorang pun.

Jim juga mengatakan, saat itu ia telah memperingatkan McCandless bahwa perbekalannya jauh dari cukup. Menurut Jim, McCandless saat itu hanya membawa 4,5 kilogram beras dan beberapa koleksi buku. Selain itu, tak ada yang lain kecuali pakaian dan senapan kaliber 22 yang menurut Jim bahkan tak layak untuk membunuh seekor rusa, apalagi melindungi dirinya dari serangan beruang.

Kepada Jim, McCandless menyebut Laut Bering sebagai tujuannya. Sayang, McCandless tak pernah betul-betul mencapai Laut Bering. Jalur Stampede dan magic bus jadi akhir dari perjalanannya. Kisah McCandless telah sejak lama jadi diskursus. Beberapa menyambut baik pemikiran McCandless, meski segelintir lainnya menyebut McCandless dan petualangannya sebagai hal tak berguna.


Foto Christopher McCandless (Instagram/cinemamagic)


Alexander Supertramp

Dalam sebuah manifesto yang ditulis di sebuah kayu lapis, McCandless menyebut dirinya sebagai ekstremis dan pengembara. Dalam manifesto itu, McCandless juga menyebut jalanan sebagai rumahnya. Manifesto itu kemudian ditandatangani McCandless dengan inisialnya yang baru: Alexander Supertramp. Sejak manifesto itu, McCandless juga dikenal sebagai Alex, Alexander Supertramp.

"Ini adalah pertempuran klimaks di dalam diri saya, untuk membunuh makhluk penuh kepalsuan di dalam (diri) demi mencapai kemenangan sejati lewat revolusi spiritual," tertulis dalam manifesto itu.

McCandless adalah atlet berprestasi sekaligus anak dengan catatan cemerlang di bidang akademis. McCandless dikenal sebagai orang yang pandai dalam ilmu sejarah dan antropologi. Selain itu, kehidupannya di universitas ia habiskan untuk menulis surat kabar kampus. Saat lulus dari Universitas Emory, McCandless telah mendapat tawaran untuk melanjutkan kuliah jurusan hukum di Harvard.

Lahir di El Segundo, California, AS pada 12 Februari 1968, McCandless lahir di tengah keluarga kaya raya. Ayahnya, Walter McCandless adalah seorang teknisi senior di NASA. Walter juga memiliki perusahaan konsultan di bidang teknologi. Sang ibu, Wilhelmina Johnson bekerja sebagai konsultan sukses di tempat tinggal mereka.

Meski dibalut segala kemapanan dan kecemerlangan, jati diri McCandless sejatinya tak di sana. Baginya, kedua orang tuanya adalah figur masyarakat kelas menengah yang hipokrit dan munafik. Kondisi inilah yang membawa McCandless ke dalam petualangan menuju alam liar, menuju perjalanan yang ia temukan sendiri.

Selain ditulis ke dalam buku oleh Krakauer, kisah McCandless ini telah diangkat ke dalam film berjudul sama: Into the Wild pada tahun 2007. Film ini disutradarai oleh Sean Penn (Dead Man Walking, Milk, Mystic River) dan dibintangi oleh Emile Hirsch (Speed Racer, The Girl Next Door, Milk) sebagai McCandless.

Di balik kontroversinya, perjalanan McCandless telah menginspirasi banyak orang. Ia disebut sebagai pengamal tradisi David Thoreau --seorang filsuf Amerika Serikat-- sejati. Bagi para pemujanya, petualangan McCandless diyakini sebagai penggerak pemikiran untuk menolak kacaunya sistem masyarakat lewat pencarian jati diri di alam bebas. Seperti kata-kata Thoreau yang dikutip McCandless dalam salah satu manifestonya.

”Rather than love, than money, than faith, than fame, than fairness… Give me truth.”

Bagikan :
Topik :

Reporter : Yudhistira Dwi Putra
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
15 September 2019 20:31 WIB

Wawancara: Masa Depan Perjuangan Habibie Center

Bagaimana Habibie Center melanjutkan perjuangan selepas kepergian Habibie?
Internasional
15 September 2019 19:44 WIB

Wabah Ebola Seret Menteri Kesehatan Kongo ke Penjara

Kini sang menteri harus bertanggung jawab atas perbuatannya
Nasional
15 September 2019 16:39 WIB

Habibie: Bapak Teknologi Penggila Diskusi

Wawancara kami dengan Wakil Ketua Habibie Center
Lifestyle
15 September 2019 14:49 WIB

VIDEO: Movie Update of the Week

Ada film Gemini Man dan SIN: Saat Kekasihmu adalah Kakakmu Sendiri
Lifestyle
15 September 2019 13:49 WIB

Berprakarya dengan Limbah Daur Ulang Styrofoam

Manfaatkan limbah plastik jadi karya seni~