Sabtu, 24 Agustus 2019
Diskusi Ilmiah ALMI (Aditya/era.id)
15 Mei 2019 07:39 WIB

Membedah Teori Kuantum di Film Avengers: Endgame

Ternyata sains dan film itu bisa berkolaborasi dengan baik~
Bagikan :
Jakarta, era.id - Sudah hampir sebulan sejak Avengers: Endgame dirilis dan tayang di bioskop Indonesia serta dunia. Tapi kesan dari babak penutup dari saga Marvel Cinematic universe itu masih begitu melekat di kepala penggemarnya.

Entah ada yang sampai beberapa kali menonton Avengers: Endgame untuk memastikan tiap scene ceritanya. Menariknya film berbasis komik Marvel ini ternyata juga menarik untuk dibedah secara keilmuan.

Sebagaimana diketahui, time travel alias perjajalan waktu jadi plot utama dalam Avengers: Endgame. Para pahlawan super itu bisa kembali ke masa lalu untuk mengambil infinity stone dan mengembalikan bumi setelah setengah populasinya menghilang gara-gara jentikan jari Thanos.



kebetulan era.id mengikuti diskusi ilmiah soal The Science Behind The Avenger Endgame di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (14/5). Persoalan time travel atau time heist yang dilakukan Avengers, ahli fisika yang juga Guru Besar Fakultas Matematika dan IPA Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Husin Alatas, punya jawabannya.

"Dalam dunia fisika kuantum, dua partikel bisa berada di dua tempat yang sama secara bersamaan. Bahwa kemungkinan ada alam semesta (paralel universe) yang berbeda dalam teori Kuantum itu bisa saja terjadi," kata Prof. Husin dalam diskusinya.

Menurutnya, sains dan art sangat memengaruhi satu sama lainnya. Dalam contoh kasus film Avengers: Endgame, dirinya mengutip ungkapan fisikawan Albert Einstein yang bilang 'Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited, whereas imagination embraces the entire world, stimulating progress, giving birth to evolution'.

"Secara sederhana Einstein bilang kalau imajinasi itu penting daripada pengetahuan, karena pengetahuan terbatas sedangkan imajinasi mencakup seluruh dunia yang mampu merangsang kemajuan hingga melahirkan suatu evolusi," ungkap Prof Husin.

Hal ini yang menjadi landasan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) untuk membedah secara sains film Avengers: Endgame. Secara singkat Prof Husin membaginya dalam tiga teori fisika lanjutan terkait yakni Teori Kompleksitas, Teori Relativitas dan Teori Kuantum. 

Katanya, jika berbicara kompleksitas dan pemahaman arah waktu tentu, hukum kedua termodinamika hanya mengizinkan waktu untuk bergerak ke satu arah, yaitu menuju ke masa depan. Tapi jika membicarakan dalam Teori Relativitas umum dan struktur ruang waktu, mungkin saja perjalanan waktu bisa terjadi. 

"Berangkat dari 'Einstein-Rosen bridge', ruang waktu juga mengizinkan kehadiran Close Timelike Curves (CTC) yang menghubungkan dua waktu yang berbeda, sehingga memungkinkan perjalanan waktu (time travel) ke masa lalu," paparnya.

Namun sayangnya, CTC tidak bisa realisasikan secara serius, tentunya untuk saat ini. Karena hal itu akan berbenturan dengan hukum kedua termodinamika, secara fisika tak memungkinkan kita untuk melakukan perjalanan waktu ke masa lalu. Selain itu juga akan berbenturan dengan The Grandfather Paradox atau bahasa kerennya, kalian tidak bisa mengubah masa lalu, karena berpengaruh dengan masa depanmu saat ini.

Meski demikian, perjalanan waktu bukannya tidak mungkin di dunia kuantum atau istilah kerennya setelah film Avengers adalah Quantum Realm. Fisikawan Richard P. Feynman bilang, "akan aman untuk mengatakan bahwa tidak ada orang yang mengerti teori kuantum.' Perkataan itu bukan tanpa sebab. Fisikawan Robbert Dijkgraaf mengatakan, kalau teori kuantum memiliki lanskap yang terlalu luas untuk sekadar dideskripsikan.


Pemaparan Prof Husin soal perdebatan Albert Einstein dengan Neils Bohr (Aditya/era.id)

Pandangan singkatnya, ada penjelasan soal Copenhagen Interpretation yang menjabarkan kita alur waktu yang memiliki banyak cabang. Jadi saat kalian melakukan perubahan kecil di masa lalu akan berdampak pula dengan dimensi lainnya yang disebut splitting or branching off of multiple timelines atau dalam ilmu fisika, gagasan ini disebut Many Worlds Theory,

"Jadi benar ketika Hulk ketemu Ancient One (gurunya Doctor Strange) yang bilang kalau mengambil satu infinity stone akan merusak alur waktu. Tapi kalau mengacu Copenhagen Interpretation, saat Hulk bisa mengembalikan semua infinity stone sebelum alur waktu rusak, maka hal itu sangat dimungkinkan karena banyak alur waktu di alam semesta yang berjalan beriringan atau paralel," papar Prof Husin.

Itu sebabnya, kita bisa melihat Tony Stark melakukan serangkaian percobaan menggunakan hologram mobius strip untuk melihat berbagai kemungkinan terjadinya perjalanan waktu bisa dilakukan. Setelah menemukan rumusan yang tepat itulah, sang Iron Man kembali menemui Steve Rogers alias Captain America di markas Avengers yang murung karena percobaan time travel-nya gagal. Di situlah Tony bilang soal EPR atau Einstein-Podolsky-Rosen yang menyebabkan si Ant-Man alih-alih melakukan perjalanan waktu, malah terperangkap dalam tubuh tua, remaja dan balita.


Avenger kala menjajal time travel (Foto © Marvel Studios via IMDB)

"Waktu di dunia kuantum itu enggak punya arti. Terkait dengan aktualitas sebab dan akibat, sebab terjadi lebih dulu dari akibat. Jadi dua kejadian yang punya kausalitas yang sama tidak akan terjadi atau meaningless," imbuh Prof Husin.

Makanya Prof Husin meyakini, kalau basis film Avengers: Endgame soal perjalanan waktu berdasarkan makalah dari fisikawan David Deutsch. Terlebih dengan spekulasi pada skala kuantum, perjalanan waktu ke masa lalu dimungkinkan melalui teori CTC.

Apalagi soal Grandfather Paradox dari film-film terkenal berbasis perjalanan waktu, macam Hot Tube Time Machine, Back to The Future dan lainnya dapat dihindari karena adanya prinsip ketidakpastian dan eksistensi alam semesta yang paralel. Jadi bukannya tidak mungkin melakukan perjalanan waktu, hanya saja tidak dengan ilmu pengetahuan saat ini karena alih-alih bisa kembali ke masa lalu, kalian malah bakal terjebak di wormhole.

"Basic David Deutsch adalah realitas alur waktu yang baru. Makanya Avengers bisa melakukan perjalanan masa lalu tanpa mengubah alur waktunya, sebab para superhero itu cuma melakukan copy paste reality dan tidak akan merusak jalan cerita yang sudah ada," jelasnya.

Prof Husin percaya, kalau film merupakan bentuk relevansi dari sebuah pemikiran imajiner para ilmuwan yang kemudian mendorong berkembangnya ilmu sains di kemudian hari. Dirinya kembali mengutip ucapan Einstein soal teori kelengkungan waktu dibuatnya hanya berdasarkan imajinasi semata. 
 


Di mata Prof Husin, sains bukan hanya pemikiran eksak yang memerlukan kalkulasi dan hitung-hitungan semata, tapi juga memerlukan sebuah imajinasi. Dan hal imajinatif itu berhasil ditangkap para sineas perfilman, yang kemudian bisa menjadi ide segar para ilmuwan dalam mengembangkan sains di kemudian hari.

"Science Art of Thinking. Jadi tetap menonton film agar berfikir imajinatif, tapi juga pelajari dengan hal-hal realistis dalam sains," tutup Prof Husin.
 
Bagikan :

Reporter : Aditya Fajar Indrawan
Editor : Aditya Fajar
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Lifestyle
24 Agustus 2019 16:44 WIB

Ada Deal Baru Disney-Sony Buat Spider-Man

 habis kongkow bareng sama Mr. Stark~
Lifestyle
24 Agustus 2019 15:25 WIB

VIDEO: Movie Update of the Week

Ada Film Angel Has Fallen dan Scary Stories to Tell in the Dark
Nasional
24 Agustus 2019 14:24 WIB

Mimpi Besar Gubernur Kaltara di PLTA Sungai Kayan

Dengan pengalaman dan pengetahuan, Irianto menyebut proyek ini berdampak baik bagi negara
megapolitan
24 Agustus 2019 13:56 WIB

Hidden Spot Belanja Buku di Tengah Ingar Bingar Jakarta

Adanya di Pasar Kenari ya gaes~
Teknologi
24 Agustus 2019 12:41 WIB

Inikah Desain Penerus PS4?

Ini beneran jadi PS5 kah?