Jumat, 03 April 2020
Reynhard Sinaga (Ilham/era.id)
11 Januari 2020 15:58 WIB

Mengapa Reynhard Sinaga Digelari 'Predator Seksual Setan'

159 kasus perkosaan dan serangan seksual terhadap 48 korban pria dilakukan Rey
Bagikan :


Wajah Reynhard Sinaga terpampang di sejumlah surat kabar asing. Bukan karena prestasi melainkan karena perbuatan keji. 159 kasus perkosaan dan serangan seksual terhadap 48 korban pria dilakukan. Sebagai ongkos atas perbuatan tak terpujinya, Pengadilan di Manchester menyatakan Reynhard harus menjalani hukuman seumur hidup di penjara. Berikut kisahnya kami rangkum dalam edisi Ngulik pekan ini.

 

"(Dia adalah) predator seksual setan. Kalau bukan karena ibu saya, saya sudah bunuh diri," begitu petikan kata-kata saksi di Pengadilan Manchester, Inggris, yang dipimpin Hakim Suzanne Goddard, dikutip dari BBC.

Perbuatan keji itu dilakukan Reynhard Sinaga selama rentang waktu dua setengah tahun dari 1 Januari 2015 sampai 2 Juni 2017. Beberapa korbannya juga diperkosa berkali-kali. Hakim memutuskan bahwa Reynhard harus menjalani minimal 30 tahun masa hukumannya sebelum boleh mengajukan pengampunan.

"Dalam keputusan saya, kamu orang sangat berbahaya, licik, dan penuh tipu daya yang tidak akan pernah aman untuk dibebaskan," kata Suzanne.

Tak ada reaksi apa pun dari Reynhard usai mendengar putusan itu. Bahkan tak tampak raut penyesalan di wajahnya. Padahal, sejak awal persidangan, dia terus membela diri dengan mengaku bahwa hubungan seksual itu dilakukan atas dasar suka sama suka.

Baca Juga : Motion Perjalanan Kasus Reynhard Sinaga


Baca Juga : VIDEO: Perjalanan Kasus Reynhard Sinaga


Sketsa Pengadilan Reynhard Sinaga (Guardian)

Keluarga pria asal Jambi itu juga dikabarkan menyewa pengacara mahal untuk membela anaknya. Hal itulah yang membuat Reynhard percaya diri bisa lolos dari jerat pidana.

Bagaimana Media Asing Mewartakan Reynhard

Kasus pemerkosaan berantai yang dilakukan oleh Reynhard tentunya tidak hanya menghebohkan Inggris dan Indonesia, tapi juga menjadi sorotan dunia internasional. Kejahatan seksual yang dilakukan Reynhard, ramai menjadi headline oleh media-media asing. Media Inggris seperti BBC, The Guardian, The Sun, Telegraph ramai memberitakankan kasus ini sejak Senin (6/1).

Meskipun proses hukum atas kasus tersebut sudah berlangsung sejak Juni 2015, namun Hakim Pengadilan Manchester melarang media untuk memberitakan sebelum vonis dibacakan pada Senin, 6 Januari 2020.


Infografik (Ilham/era.id)

Dikutip dari BBC, proses hukum yang berlangsung secara tertutup dari publikasi dimaksudkan untuk melindungi korban dan juga menghadirkan persidangan yang adil tanpa intervensi. Hasilnya, nyaris seluruh media di Inggris hanya fokus pada tindak kejahatan Reynhard dan obat bius yang dia gunakan untuk melumpuhkan para korban.

Surat kabar harian Daily Mirror menghadirkan headline berjudul "Britain's Worst Ever Rapist", sementara The Guardian mengambil judul "UK's 'most prolific rapist' may have prayed on almost 200 young men."

Nyaris tidak ada yang menyinggung masalah lainnya seperti kewarganegaraan, kehidupan pribadi, maupun orientasi seksual dari Reynhard Sianaga di halaman muka surat kabar tersebut.

Baca Juga : Reynhard Sinaga si Anak Orang Kaya

Surat kabar Daily Mail yang mengambil judul headline 'How Many More He Rape?' pun tidak menggunakan sebutan 'Indonesia' di halaman muka, tapi menampikan kata "churchgoing" atau rajin ke gereja dalam lead. Hal ini pun ditulis karena sinis terhadap orang-orang sok alim.

Menariknya, di Inggris, kasus pelecehan seksual sangat memperbolehkan menampilkan wajah utuh tersangka tanpa sensor. Tapi indentitas korban perkosaan, termasuk nama tidak boleh diungkap seumur hidup kecuali korban memilih untuk membuka jari dirinya.


Reynhard Sinaga (Dailymail)

Hingga tanggal 8 Januari, beberapa media di Inggris --baik cetak maupun daring-- masih ada yang memberikan kasus kejahatan Reynhard yang berfokus pada kejahatannya. BBC misalnya, banyak menyoroti soal modus yang digunakan Reynhard untuk menjalankan aksinya. Sementara Daily Mirror dan Daily Mail membahas narkoba yang digunakan Reynhard untuk membius para korbannya.

Reaksi Atas Kejahatan Reynhard

Dari tanah air, organisasi dan lembaga masyarakat juga mengecam kejahatan Reynhard. Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (Kompaks) menyatakan mendukung setiap upaya kepolisian dan pengadilan Inggris dalam rangka penegakan hukum kasus kekerasan seksual apa pun jenis kelamin, orientasi seksual, dan identitas gender pelaku maupun korban.

Kompaks menegaskan kekerasan seksual bisa dilakukan oleh dan kepada siapa pun tanpa memandang kelas, tingkat pendidikan, agama, umur, jenis kelamin, dan orientasi seksual.

"Kekerasan seksual berupa perkosaan, percobaan perkosaan, pencabulan, dan serangan seksual lainnya yang dilakukan oleh Reynhard Sinaga merupakan suatu bentuk kekejian dan tindak kriminal. Kami mendukung hukuman berat terhadap Reynhard setimpal dengan perbuatannya," kata Ketua Arus Pelangi Ryan Korrbari yang juga tergabung dalam Kompaks.

Menurut Ryan, menyalahkan orientasi seksual untuk tindakan kriminal seseorang adalah suatu upaya membelokkan isu kekerasan seksual ini menjadi suatu kebencian terhadap kelompok rentan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender).

Dia menyebut, modus yang dilakukan oleh Reynhard adalah sebuah kejahatan. Kompaks juga mendorong dibentuknya layanan pengaduan kekerasan seksual dan disahkannya RUU Kekerasan Seksual (KS) oleh DPR RI sebagai perangkat hukum yang mencegah dan menangani kekerasan seksual serta memberikan pemulihan pada korban.

Baca Juga : Isi Percakapan Reynhard Sinaga Via Tinder

Mereka mencontohkan Universitas Manchester, tempat Reynhard mengambil gelar S2-nya di Inggris, ada layanan pengaduan melalui telepon yang menawarkan dukungan untuk korban kekerasan seksual ataupun bagi mereka yang terdampak. Selain itu, setiap civitas akademika yang merasa telah menjadi korban dari Reynhard Sinaga dapat melaporkan kasusnya melalui layanan pengaduan tersebut.


Infografik (Ilham/era.id)

"Kasus Reynhard Sinaga yang terjadi di Inggris dapat menemui titik terang dikarenakan adanya hukum yang mengakomodir penanganan kasus kekerasan seksual. Sedangkan di Indonesia, pemberitaan di media mengenai kasus kekerasan seksual pada umumnya cenderung menyalahkan korban (victim blaming), intimidasi, sampai dengan impunitas pelaku," paparnya.

Berdasarkan data Komnas Perempuan dalam Catatan Akhir Tahun 2019, kekerasan terhadap perempuan di Indonesia mencapai 406.178 kasus di tahun 2018, meningkat 14 persen dari tahun sebelumnya (348.446 kasus). Jumlah tersebut kian meningkat dikarenakan adanya kekosongan hukum atas penanganan kekerasan seksual.

Seharusnya, kata Ryan, kasus Reynhard Sinaga dapat menjadi pembelajaran, dan data Komnas Perempuan ini dapat mendorong pengesahan RUU KS yang berfokus pada penanganan kasus kekerasan seksual dan pemulihan korban, tanpa sekat-sekat biner.

Reaksi Heteroseksual dan Homoseksual soal kasus Reynhard

David, seorang laki-laki heteroseksual, menyebut kasus Reynhard tidak bisa disangkutpautkan dengan orientasi seksual, tapi harus dilihat sebagai kejahatan. "Sebenarnya kan pemerkosaan enggak cuma terjadi sama kaum-kaum homoseks aja, tapi kaum heteroseksual juga banyak," katanya.

Berkaca dari kasus Reynhard, membuat David merasa perlu berhati-hati. Dia bisa saja sewaktu-waktu menjadi korban predator seksual --baik perempuan maupun laki-laki-- sebab pemerkosaan tidak memandang gender dan orientasi seksual.

Jadi untuk ajakan minum (dari orang asing) mesti hati-hati.

Antoni, seorang lelaki homoseksual berpandangan bahwa masyarakat Indonesia masih tabu dan tertutup dengan LGBTQ serta pemerkosaan. Kasus ini, menurut gue tidak ada alasan tepat untuk kita membenarkan perlakuan si Rey (Reynhard) ini.

Dia menyebut perbuatan Reynhard lebih tepat jika disebut "penyakit". Artinya pelaku memiliki gangguan psikis yang mendorongnya melakukan kejahatan, sama seperti pelaku pemerkosaan berantai lainnya seperti Oji Obara.

Baca Juga : WNI Pemerkosa dengan Korban Terbanyak di Inggris

 

"Menurut aku ini sudah mengarah pada sisi psikologis pelaku, istilahnya kayak 'penyakit'. Jadi ada kepuasan bagi pelaku ketika melakukan hal tersebut dan tidak merasa bersalah. Apalagi kita tahu, ketika pelaku melakukannya, Ia pun mendokumentasikan. Jadi lebih ke sakit sih ini," paparnya.

Meski ada ketakutan, tapi hal tersebut tak serta merta membuat Antoni merasa terancam meskipun dia seorang gay. Hanya saja dia menyayangkan sentimen orang-orang yang makin menyudutkan homoseksual.

"Kita malah menyayangkan kasus ini. Karena yang dilakukan itu sudah sebuah kejahatan ya. Istilahnya memaksa orang berhubungan badan secara 'tidak sehat'," pungkasnya.

Bagikan :

Reporter : Gabriella Thesa Widiari , Nabila Julian Verlita
Editor : Ervan Bayu Setianto , Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Ekonomi
03 April 2020 14:59 WIB

Masih Ada 433 Desa yang Gelap Gulita

Tahun ini, tidak bisa tidak, semua desa harus punya listrik
Lifestyle
03 April 2020 14:51 WIB

Yuk, Daur Ulang Kemasan Make Up

Kurangi sampah plastik
Nasional
03 April 2020 14:14 WIB

Polisi Harus Kantongi Data Napi yang Dibebaskan

Harus selektif dan jangan asal
Nusantara
03 April 2020 14:02 WIB

Kisah Kesembuhan Pasien Nomor 11 COVID-19 di Jawa Barat

Cuma isolasi dan tes tiga kali
Internasional
03 April 2020 13:00 WIB

April Mop Kim Jaejoong Berbuntut Panjang

Sejumlah agendanya dibatalkan