Senin, 20 Januari 2020
Potret siswi Sakola Istri Dewi Sartika (yang memakai baju berwarna hitam Dewi Sartika) Bandung, 1908-1911. (Foto: Istimewa)
04 Desember 2019 18:21 WIB

Mengenang Dewi Sartika, Tokoh Emansipasi yang Dikagumi HOS Tjokroaminoto

Dia adalah perintis pendidikan kaum hawa di tanah pasundan, simak perjuangannya
Bagikan :


Bandung, era.id – Bicara tentang emansipasi wanita di Indonesia, kita tidak bisa menafikan peran Dewi Sartika. Nama pahlawan perempuan yang satu ini tercatat dalam pergerakan nasional, bahkan pernah diundang 'Raja Jawa Tanpa Mahkota' HOS Tjokroaminoto untuk memberikan kuliah di hadapan massa Syarekat Islam (SI).

Dewi Sartika lahir di Bandung 4 Desember 1884 atau 135 tahun lalu, tepatnya hari ini, Rabu 4 Desember 2019. Usia Dewi Sartika lebih muda lima tahun dari RA Kartini, pahlawan nasional dalam khazanah emansipasi wanita di Indonesia.

Peninggalan Dewi Sartika masih bisa dijumpai hingga kini, yaitu berupa ruang kelas yang menjadi bagian dari SD dan SMP Dewi Sartika. Bagi kamu yang penasaran dengan peninggalan Dewi Sartika, bisa langsung datang ke Jalan Kautamaan Istri No.12 Bandung. Nama Jalan Kautamaan Istri sendiri diambil dari nama sekolah yang didirikan Dewi Sartika di masa penjajahan Belanda yakni pada 16 Januari 1904.

Bagi para pengunjung di SD dan SMP Dewi Sartika biasanya dibekali buku kecil tentang sejarah Dewi Sartika. Buku ini diterbitkan Yayasan Dewi Sartika Bandung. Dari buku inilah kisah Dewi Sartika dalam tulisan ini disarikan.


Baca Juga : 27 Desember HUT RI Versi Belanda


Ruang kelas di SD dan SMP Dewi Sartika. (Iman Herdiana/era.id)

Dewi Sartika keturunan menak alias 'darah biru'. Dia anak kedua dari pasangan Raden Rangga Somanagara, Patih Afdeling Mangunreja (Kabupaten Tasikmalaya) dan Raden Ayu Rajapermas. Patih adalah jabatan administrasi di bawah Pemerintah Kolonial Belanda. Sementara Raden Ayu Rajapermas masih keturunan bupati legendaris Bandung, Raden Aria Adipati Wiranatakusumah IV (1946-1874) yang berjuluk Dalem Bintang.

Sebagai anak bangsawan, Dewi Sartika bisa sekolah di Eerste Klasse School, sekolah Belanda khusus untuk anak-anak Eropa dan Indo. Sebuah peristiwa yang disebut 'Prahara Kabupaten Bandoeng 1893'--rebutan jabatan Bupati Bandung setelah Boepati RA Kusumadilaga wafat-- menjadi titik balik bagi keluarga Dewi Sartika.

Saat prahara terjadi, Raden Rangga Somanagara masih menjabat patih Bandung. Belanda menuding Somanagara bersalah dan berperan di balik pemberontakan. Maka orang tua Dewi Sartika dibuang ke Ternate. Harta kekayaan mereka disita. Saat itu usia Dewi Sartika baru sembilan tahun. Ia tidak ikut orang tuanya ke tempat pembuangan.

Selama di Bandung, Dewi Sartika dicap sebagai anak pemberontak. Ia akhirnya putus sekolah dari Eerste Klasse School. Sejak itu ia menjalani hidup dengan penuh keprihatinan. Dewi Sartika kecil ikut uwaknya Raden Demang Suriakarta Adiningrat yang menjadi Patih Afdeling Cicalengka. Di pinggiran Bandung itu, ia tumbuh menjadi gadis remaja yang gelisah. Kala itu, usianya sudah menginjak 18 tahun.

Selama ikut uwaknya tinggal di Cicalengka, Dewi hidup jauh dari gaya menak. Ia merasakan sulitnya menjadi perempuan, mulai dari mencuci hingga memasak. Dengan kata lain, perempuan hanya menjadi penghias dan pelaksana rumah tangga.

Sebagai satu-satunya gadis yang bisa baca tulis, ia sering dimintai tolong keluarga dan tetangganya di Cicalengka untuk menulis dan membaca surat. Hal ini membuatnya semakin gelisah. "Bagaimana masa depan kaum hawa jika tak bisa baca tulis?" gumamnya dalam batin

Ia berusaha mengubah kondisi itu lewat jalur pendidikan. Metode yang diajarkannya pun terbilang cukup unik, karena disampaikan lewat permainan guru dan murid. Ia sendiri yang menjadi gurunya. Permainan ini dilakukan di belakang dapur kepatihan.

Para peserta kelas permainan itu adalah anak-anak kampung yang bukan menak. Proses belajar hanya menggunakan alat sederhana, batu tulis dan genting sebagai buku. Ia juga menggunakan papan tulis bekas sebagai alat presentasi.

Kabar gembira sekaligus duka muncul pada tahun 1902. Saat itu, Ibunya, Raden Ayu Rajapermas, tiba di Bandung. Sang ibu baru pulang dari pengasingan, Dewi pun kembali ke Bandung. Sementara kabar dukanya, ayahnya, Raden Rangga Somanagara, wafat di tempat pembuangan.

Dewi dan ibunya tinggal di Simpangsteg, kini posisinya di belakang Kings Plaza Kepatihan, Bandung. Mereka menjalani kehidupan yang serba sulit. Namun Dewi tetap mengajar kaum perempuan. Ia mengajarkan juga bagaimana cara memasak berbagai menu makanan, jahit menjahit, dan keterampilan lainnya.


Sakola Kautamaan Istri. (Foto: Istimewa)

Dewi pandai bahasa Melayu —embrio bahasa Indonesia, bahasa Belanda, dan matematika. Semua ilmu itu ia ajarkan kepada murid-muridnya yang merupakan anak-anak sebayanya. Proses belajar dilakukan di belakang rumah. Sebagai upahnya, Dewi sering mendapat beras, garam, dan lauk pauk dari murid-muridnya yang memberinya secara sukarela.

Didukung Belanda dibubarkan Jepang

Gerakan pendidikan yang dijalankan Dewi Sartika akhirnya tercium kolonial Belanda. Penjajah menugaskan Inspektur Cornelis Den Hammer untuk memata-matai aktivitas 'si anak pemberontak'. Belanda curiga Dewi berusaha menghasut bumi putra agar memberontak kepada pihak kolonial.

Menghadapi intel Belanda itu, Dewi tidak takut. Kepada Cornelis Den Hammer, ia bilang bahwa kegiatannya bertujuan memajukan kaum perempuan. Singkat cerita, Dewi berhasil meyakinkan Hammer bahwa aktivitasnya murni pendidikan, bukan hasutan.

Inspektur Hammer kemudian menawarkan pekerjaan kepada Dewi untuk menjadi guru di sekolah Boemi Poetra (sekolah milik Belanda). Tetapi Dewi menolak tawaran penting ini. Ia berprinsip, berdiri di kaki sendiri, tidak mau mengandalkan dan tergantung bantuan orang lain terutama Belanda.

Seiring berjalannya waktu, murid di sekolah yang dirintis Dewi Sartika terus bertambah. Ia membutuhkan ruang yang lebih luas. Maka ia menghadap Bupati Bandung Raden Aria Adipati Martanagara yang di masa lalu merupakan musuh ayah Dewi Sartika di waktu perebutan kekuasaan. Kemampuan diplomasi Dewi Sartika membuat bupati luluh dan merestui rencana pendirian sekolah. Maka 16 Januari 1904, Sakola Istri dibangun di Ruang Paseban Timur Komplek Pendopo, depan Alun-alun Bandung.

Sejarah mencatat Sakola Istri yang didirikan Dewi Sartika menjadi sekolah pertama dan tertua khusus untuk perempuan di Indonesia. Pada awal tahun ajarannya, Sakola Istri diikuti 60 murid. Dewi mengajar didampingi kawan seperjuangannya Ibu Poerma dan Ibu Oewit.

Dewi berhasil mengumpulkan uang untuk membangun sekolah lebih besar di Ciguriangweg. Bupati Martanagara turut menyumbang pembangunan sekolah ini yang kemudian namanya diubah menjadi Sakola Kaoetamaan Istri. Kemudian, pada 1910, Sakola Istri resmi menjadi Sakola Kautamaan Istri. Ruangan sekolah ini masih bisa ditengok di SD dan SMP Dewi Sartika kini.

Dewi Sartika menikah dengan Raden Agah Kanduruan Soeriawinata yang merupakan guru sekolah rakyat Eerste Klasse School Karang Pamulang, Bandung. Agah merupakan salah satu pendiri cabang Sjarekat Islam di Bandung, organisasi pergerakan yang didirikan HOS Tjokroaminoto, guru para tokoh pergerakan nasional seperti Soekarno, Sjahrir, Tan Malaka, dan lain-lain.

Selama mengajar, Dewi juga bekerja sama dengan tokoh pergerakan nasional. Bahkan ia berkunjung ke RA Kardinah, adik kandung RA Kartini di Kendal. Saat itu RA Kartini sudah wafat. Di sana, ia mempelajari ilmu membatik untuk diajarkan ke murid-muridnya di Bandung.


RA Kartini berfoto bersama kedua saudarinya, Kardinah dan Roekmini. (Foto: Commons Wikimedia)

Sakola Kautamaan Istri semakin maju. Sekolah ini bahkan memiliki cabang di Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Cianjur, Purwakarta, dan Sukabumi. Media massa kala itu kerap memberitakan kegiatan Sakola Kautamaan Istri, misalnya De Preanger Bode, Sipatahoenan, Poetri Hindia, dan Medan Prijaji --yang didirikan tokoh pers nasional Tirto Adhi Soerjo.

Kabar kemajuan Sakola Kautamaan Istri ini sampai juga ke telinga pendiri Syarekat Islam (SI) HOS Tjokroaminoto. Tokoh kharismatik ini bahkan pernah datang ke acara sekolah Dewi Sartika. Dewi lantas diundang ke Surabaya untuk berceramah di depan massa Syarekat Islam. Saat itu, organisasi ini dikenal fokus terhadap beberapa permasalahan seperti ekonomi, sosial, politik, dan Agama

Sebagai gambaran, memasuki tahun ajaran baru 1913, jumlah siswa Kaoetamaan Istri mencapai 251 siswi yang dididik 12 guru profesional. Pada 1929, ketika sekolah ini genap berusia 25 tahun, Belanda menghadiahkan gedung baru permanen. Nama Kaoetamaan Istri berubah menjadi Sakola Raden Dewi.

Pemerintah Hindia Belanda kemudian memberi bintang emas kepada Dewi Sartika tepat pada peringatan 35 tahun berdirinya Sakola Raden Dewi. Bintang emas ini sebagai pengakuan Belanda atas jasanya di bidang pendidikan untuk kaum perempuan bumi putra.

Kabar buruk muncul ketika Belanda menyerah kepada Jepang, Maret 1942. Jepang melakukan penjajahan lebih bengis lagi. Sakola Raden Dewi ditutup. Dewi Sartika dan semua guru dipecat, diganti guru-guru Jepang.

Pascakemerdekaan, situasi republik juga mengkhawatirkan. Dewi Sartika harus mengungsi dalam peristiwa Bandung Lautan Api 24 Maret 1946 --peristiwa yang menentang agresi militer Belanda. Dewi Sartika kemudian mengungsi ke Ciparay, Bandung selatan, dalam keadaan sakit. Pengungsian dilakukan sampai ke Garut dan Ciamis. Di sana ia meninggal akibat sakit keras, 19 September 1947 jam 09.00 pagi di usia 63.


Dewi Sartika. (Foto: Commons Wikimedia)
Bagikan :

Reporter : Iman Herdiana
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
19 Januari 2020 19:05 WIB

Investor Jiwasraya akan Suntikan Dana Mencapai Rp3 Triliun

"(Investor) ada yang dari lokal, dari asing"
Lifestyle
19 Januari 2020 18:09 WIB

Tempat Nongkrong Seru ala Anak Jaksel

Ada yang udah pernah ke tempat-tempat ini?
Lifestyle
19 Januari 2020 17:05 WIB

Eminem Kejutkan Penggemar Lewat Album Music to be Murdered By

"Guess who's back? Back again. Shandy's back, tell a friend!"
Lifestyle
19 Januari 2020 16:36 WIB

Definisi Cantik Menurut Agnes Mo

Karena cantik adalah relatif, tergantung jenis kamera~
Wisata
19 Januari 2020 16:17 WIB

Berburu Croissant Paling Enak di Kota Kembang

"Enak, enak, enak," kata Upin Ipin