Selasa, 25 Februari 2020
Ma'ruf Amin dan Yasonna Laoly. (Ilustrasi: era.id)
22 Januari 2020 18:03 WIB

Soal Yasonna yang Singgung Kampung Kedua Ma'ruf Amin

Yasonna bilang priok sarang kriminal, tapi Wapres besar di Priok. Nah lho~
Bagikan :


Jakarta, era.id - "Kalau ada orang Koja, orang Priok, tidak milih 01, innalillahi wainnalillahi rojiun," begitu ucap KH Ma'ruf Amin kepada ratusan warga di Koja, Jakarta Utara, saat kampanye pilpres kemarin, Februari 2019. 

Di hadapan warga, mantan Rais Aam PBNU itu mencoba meyakinkan bahwa belum ada sejarahnya orang Tanjung Priok jadi orang nomor dua di Indonesia. Kendati Ma'ruf lahir di Kresek, Tangerang, namun bisa dibilang Tanjung Priok sudah seperti kampung keduanya.

"Ini penghormatan untuk orang Koja dan Tanjung Priok, belum ada orang Koja dan Tanjung Priok dipilih jadi wapres," ucap Ma'ruf.


KH Ma'ruf amin (era.id)

Hampir sebagian hidup Kiai Ma'ruf dihabiskan di rumahnya di Jalan Deli Lorong, dekat RSUD Koja, Tanjung Priok. Dalam buku KH Ma'ruf Amin Penggerak Umat Pengayom Bangsa karya Arif Punto Utomo, Pria yang akrab disapa Abah Ma'ruf itu menetap di utara Jakarta sejak usia 21 tahun. Tak lama setelah menikah dengan istri pertamanya Siti Churiyah pada tahun 1964. 

Pria 76 tahun ini baru pindah ke kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat, saat menjadi calon Wakil Presiden tahun 2018, dan kini pindah lagi ke Rumah Dinas Wapres di samping Masjid Sunda Kelapa.


Baca Juga : Server Jadi 'Kambing Hitam' Kesalahan Data Imigrasi Harun Masiku

Kampanye Ma'ruf di Jakarta Utara dengan men-declare sebagai 'Akamsi' (anak kampung sini) membuahkan hasil. Skor rekapitulasi surat suara Pemilu 2019 yang dilakukan KPU di Jakarta Utara, Jokowi-Ma'ruf memperoleh 572.567 suara. Unggul dari Prabowo-Sandiaga yang mendapatkan 417.062 suara.

Khusus di di Tanjung Priok, pasangan nomor urut 01 ini mendulang 134.625 suara, unggul atas Prabowo-Sandi yang mendulang 95.918 suara.

Tanjung Priok Sayang, Tanjung Priok Dibuang

Siang ini, warga "kampung Ma'ruf" kembali disebut-sebut di sejumlah pemberitaan. Tapi bukan soal politik. Mereka berbondong-bondong mendatangi kantor Kemenkumham karena geram dengan pernyataan Menkumham Yasonna Laoly yang menyebut kawasan utara Jakarta merupakan sarang kriminal. Mereka pun mendesak pembantu KH Ma'ruf Amin itu untuk minta maaf.

Pernyataan Yassona itu telontar saat dirinya berkunjung ke Lapas Narkotika Kelas IIA, Cipinang, Jakarta, pada Kamis (16/1). Mula-mula dia mengatakan bahwa kriminalitas muncul akibat dari kemiskinan. Politikus PDI Perjuangan itu lantas mencontohkan bahwa anak yang lahir dari wilayah Tanjung Priok akan lebih kriminal ketimbang anak yang tinggal di Menteng, Jakarta Pusat.

"Yang membuat itu menjadi besar adalah penyakit sosial yang ada. Itu sebabnya kejahatan lebih banyak terjadi di daerah-daerah miskin. Slum areas (daerah kumuh), bukan di Menteng. Anak-anak Menteng tidak, tapi coba pergi ke Tanjung Priok. Di situ ada kriminal, lahir dari kemiskinan," kata Yasonna.


Demo warga Tanjung Priok (era.id)

Dimas, salah satu perwakilan warga Priok yang demo di depan Kantor Kemenkum HAM pun membantah stigma Priok sebagai sarang kriminal.

"Dulu memang Priok tempat yang menakutkan bagi masyarakat. Tapi sekarang Priok adalah tempat yang modern, humanis, aman. Bahkan Pak Wakil Presiden tinggal di Priok," ujar dia.

Menanggapi demo warga Tanjung Priok, Menkumham dua periode ini menyanyangkan isi pidatonya dipelintir.

"Sangat disayangkan, oleh pihak-pihak tertentu, pidato saya dipelintir sedemikian rupa, seolah-olah orang-orang Tanjung Priok semua adalah penjahat. Menyedihkan sekali mengambil kesimpulan seperti itu, jumping into conclusion without knowing the whole story," katanya kepada era.id, Rabu (22/1/2020).
 
Saat pidato di Rutan Cipinang, ia mengaku hanya membuat contoh ekstrem utuk menunjukkan perbedaan penyebab kejahatan antara faktor genetik dan sosial ekonomi. Ia mencontohkan ada dua anak bayi. Satu anak bayi yang lahir dari Ibu PSK dan ayahnya bandit dari area kumuh seperti di Tanjung Priok. Satu lagi bayi dari orang yang sangat berkecukupan dengan ibu sangat terdidik dan ayah pengusaha, misalnya dari Menteng. 

Kemudian ditukar, bayi yang dari Tanjung Priok dipelihara oleh orang tua di Menteng, dan anak dari Menteng dipelihara di daerah kumuh oleh orang tua yang bermasalah tersebut. Lihat 20 tahun lagi, siapa yang punya kecenderung berbuat kriminal? Ia yakin justru anak terlahir dari Menteng tersebut yang lebih cenderung terekspos pada perbuatan-perbuatan kriminal, ketimbang anak yang terlahir dari ayah dan ibu dari Tanjung Priok tersebut. 

"Karena, crime is determined by socioeconomic factors rather than genetic factors. Inilah inti penjelasan yang dipelintir tersebut. Jadi itu bukan menunjukkan daerahnya, tapi socioeconomic conditions, dan sudah tentu tidak mengeneralisasi daerah Tanjung Priok," jelas Yasonna.

Tapi nasi sudah menjadi bubur, warga kawasan pelabuhan itu terlanjur tersinggung dengan ucapan menteri yang kalau Jokowi-Ma'ruf tidak terpilih menjadi presiden, belum tentu ia akan menjadi menteri itu. Yasonna pun menyatakan pidatonya adalah penjelasan ilmiah soal korelasi antara kriminal dan kawasan kumuh.
 
"Memang apa yang saya sampaikan adalah penjelasan ilmiah ketimbang penjelasan politik, saya berharap ditanggapi secara ilmiah, bukan secara politik!" ucapnya.
Bagikan :

Reporter : ERA.ID
Editor : Ervan Bayu Setianto , Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
megapolitan
25 Februari 2020 05:31 WIB

Jakarta Siaga Banjir Pagi Ini

Pintu…
Nasional
24 Februari 2020 22:02 WIB

What's On Today, 24 Februari 2020

Podcast berita Indonesia terkini yang disajikan dengan cara berbeda
Lifestyle
24 Februari 2020 21:03 WIB

Baek Yerin hingga Phum Viphurit Masuk Line Up 'Head in the Clouds'

Siapa yang gak sabar cepet-cepet tanggal 7 Maret 2020?
Nasional
24 Februari 2020 20:35 WIB

Asyiknya Prabowo-Menhan Uni Emirat Arab Lepas Elang Pemburu

Diplomasi pertahanan
Nusantara
24 Februari 2020 19:54 WIB

Penipu Princess Lolowah Menyamar Sebagai Pria

Ditangkap di Palembang