Kamis, 18 April 2019
Ilustrasi (era.id)
30 Januari 2019 12:39 WIB

Kalau Golput Gara-gara Calegnya Konyol, Salah Rakyat?

Bagaimana tontonan kekonyolan di spanduk caleg memicu gelombang golput?
Bagikan :


Jakarta, era.id - Fenomena pengangkatan slogan konyol para calon legislatif (caleg) sudah jadi barang laten dalam setiap penyelenggaraan pemilu. Di satu sisi, bisa saja melihat hal tersebut sebagai kreativitas dan pengamalan sebuah humor. Tapi, di lain sisi, rasanya juga penting melihat fenomena ini secara lebih dalam. Jangan-jangan, kekonyolan itu jadi salah satu penyebab kenapa angka golput begitu tinggi.

"Nanti habis Pertigaan Caleg belok kanan, mas," tutur seorang tukang ojek saat saya tengah mencari lokasi sebuah restoran di daerah Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat. Pertigaan caleg yang ia maksud adalah sebuah persimpangan di Jalan Duta Bumi Raya.

Benar saja, di sudut itu, terpajang begitu banyak spanduk dan baliho caleg. Semua memeragakan pose serupa: senyum senada dengan tangan membentuk lambang namaste. Salah satu dari mereka memasang slogan yang bangke banget: Maju Galau, Tak Maju Resah.

Di media sosial, slogan-slogan unfaedah para caleg ini juga banyak berseliweran. Kemarin, seorang editor kami --yang namanya enggan disebut-- mem-forward sebuah foto spanduk caleg --yang kayaknya ia comot dari grup siskamling bokap-bokap di kompleksnya-- ke grup WhatsApp redaksi di kantor. Dalam baliho berpangkukan batang bambu, si caleg berkumis menjual dirinya dengan sebutan PELAKOR alias Pengganti Legislator Kotor. Boleh juga~

Lainnya, beberapa spanduk dengan slogan dan pemasaran nyeleneh juga sempat menghiasi timeline media sosial. Spanduk seorang caleg bertuliskan: Siap Jungkir Balik Demi Rakyat yang sengaja dipasang dalam posisi terbalik, misalnya. Atau seorang caleg yang mengganti wajah mereka dengan tampang David Beckham. Kreativitas dan segala humor itu sungguh memikat, jujur saja. Tapi, kembali lagi. Apa faedahnya?

Kemarin kami mewawancarai Ratna Dewi Pettalolo, Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Dewi bilang, pengangkatan slogan-slogan konyol macam itu bukanlah sebuah bentuk pelanggaran kampanye. Makanya, aman. Tapi, ya itu tadi. Dewi pun turut mempertanyakan apa faedah dari kekonyolan-kekonyolan yang para caleg itu pertontonkan? Bukankah esensi dari kampanye adalah pendidikan politik, bahwa kampanye harus memberi manfaat bagi masyarakat?

"Nah, kalau soal tadi itu (slogan nyeleneh), kalau kita kaitkan dengan norma, tidak ada norma UU Pemilu yang dilanggar. Tapi kan maksud substansi dari kampanye itu tidak tercapai karena kampanye itu tujuannya adalah memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Jadi, di spanduk yang disebutkan itu tidak memberi manfaat apa-apa dari pelaksanaan kampanye ini kepada pemilih. Harusnya waktu kampanye ini dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan politik. Ini memang harusnya menjadi hal yang menjadi perhatian kepada peserta pemilu," tuturnya ditemui di Jakarta.


Pemicu golput

Memang, ini bukan perkara norma ataupun aturan yang dilanggar. Ini memang perkara kesadaran para politikus untuk membangun iklim politik yang benar, yang berfaedah, yang jauh dari gimik-gimik tak guna. Kesadaran ini penting, sebab pemilu adalah perkara serius yang menyangkut hajat hidup rakyat luas. Kampanye konyol tak bersubstansi, ujung-ujungnya hanya akan membodohi masyarakat. Siapa pula yang butuh wakil rakyat jago nge-jokes, di saat negeri masih perlu banyak berbenah.


Baca Juga : Pakar Jawab Kemungkinan Peretasan Situs KPU

Lagipula, kebiasaan bermain gimik di tengah masyarakat yang sudah pandai pun hanya bakal jadi jadi bumerang buat para caleg-caleg ketinggalan zaman itu. Pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago bilang, kebiasaan para caleg bermain gimik hanya akan membuat resistensi. Dan jika resistensi itu tumbuh, golongan putih pun akan makin meluas.

"Boleh jadi masyarakat tidak simpati, sehingga yang terjadi tingkat resistensi masyarakat jadi tinggi. Oleh karena itu, spanduk yang nyeleneh bisa menjadi salah satu penyebab tingginya ketidakpercayaan masyarakat pada peserta pemilu. Ya, ujungnya bisa golput juga," tutur Pangi.

"Iklan atau promosi yang baik memang memerlukan instrumen yang pas dan tepat dalam menyampaikan pesan ke publik namun kalau kemudian poster atau baliho nyeleneh maka masyarakat melihat ngak serius jadi caleg, sementara di suatu sisi memang kita butuh spanduk yang kira kira bisa menarik perhatian masyarakat, namun tetap pada trayek yang benar."

Lebih buruk lagi. Sebab, cara berkampanye macam begini sejatinya adalah sebuah kemunduran bagi peradaban politik bangsa. Masyarakat, kata Pangi dididik berpikir dangkal. Padahal, pilihan politik seharusnya didasari oleh pemikiran mendalam, penuh wawasan dan akurasi tingkat tinggi. "Konten dan narasi yang ditawarkan caleg sangat perlu dan penting. Kalau kemudian hanya sekadar untuk populis, itu masih dangkal."

"Mestinya sudah masuk ke tahap yang lebih tinggi, yaitu apa yang membedakan beliau dengan caleg yang lain (distingsi) mengapa caleg tersebut layak dan penting untuk dipilih, artinya pembeda sangat penting namun apa yang mereka tawarkan dan jual ke masyarakat juga sangat penting."

Maka, jalankan porsi kalian dengan benar, Bapak dan Ibu wakil rakyat. Urusan hibur menghibur, serahkan kepada Butet Kartaredjasa, Haji Bolot, atau Komeng dan Sule.

Bagikan :
Topik :

Reporter : Diah Ayu Wardani , Ramdan Febrian Arifin
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
18 April 2019 20:09 WIB

Pakar Jawab Kemungkinan Peretasan Situs KPU

Situs KPU hari ini bekerja lamban. Netizen sebut hacker di balik masalah ini. Benarkah?
Peristiwa
18 April 2019 19:19 WIB

Prabowo Bantah Bertemu Utusan Jokowi

Utusan presiden QC bertemu presiden RC BPN, bingung kan shay~
Nasional
18 April 2019 19:07 WIB

BPN Desak KPU Cabut Izin Quick Count Lembaga Survei

BPN sebut sejumlah kejanggalan dalam quick count
Peristiwa
18 April 2019 19:01 WIB

Prabowo Klaim Kemenangannya Ditemani Sandiaga

Dua capres ngaku menang, biar adil bikin dua shift aja kali yak~
Peristiwa
18 April 2019 18:09 WIB

Alasan Jokowi Kembali Kumpulkan Koalisinya di Plataran Resto

Karena Platara Resto adalah koentji~