Rabu, 19 Februari 2020
Gus Dur (Wikimedia Commons)
22 Oktober 2019 15:03 WIB

Modernisasi Santri Ala Gus Dur yang Melawan Stigma Orde Baru

Di mata Orde Baru, santri dan pesantren adalah lambang konservatisme. Di mata Gus Dur?
Bagikan :


Jakarta, era.id - Pada 2014, Presiden Joko Widodo secara resmi menetapkan hari ini 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Dalam kata santri mengandung banyak arti. Tokoh Muslim Indonesia Abdurrahman Wahid punya sudut pandang sendiri soal santri. Ia mendrobrak tradisi santri konvensional menjadi modern. 

Seperti dijelaskan laman setkab.go.id, penetapan Hari Santri Nasional didasari pada perjuangan dan seruan KH Hasyim Asy'ari. Ia dikenal sebagai pendiri dan sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) yang punya peran signifikan terhadap kemerdekaan Indonesia. 

Peran tersebut terlihat pada 21 Oktober dan 22 Oktober 1945, saat pengurus NU se-Jawa dan Madura menggelar pertemuan di Surabaya. Pertemuan dilakukan untuk menyatakan sikap setelah mendengar tentara Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia dengan membonceng Sekutu. 

KH Hasyim Asy'ari menyerukan sebuah deklarasi"Resolusi Jihad". Pada hari ini, 74 tahun lalu, seruan itu digaungkan oleh KH Hasyim Asy'ari. Seruan yang menggerakkan perjuangan para santri demi Tanah Air.


Arti santri 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “santri” setidaknya mengandung dua makna. Arti pertama adalah orang yang mendalami agama Islam. Sedang, pemaknaan kedua adalah orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh.

Dalam pandangan umum, santri merujuk pada seseorang yang mengikuti pendidikan agama Islam di sebuah pesantren dalam kurun waktu tertentu, tergantung tingkat pendidikan yang hendak ia capai. 

Sementara itu, Wakil Presiden Ma'ruf Amin pernah mengatakan, santri bukan hanya diperuntukkan bagi mereka yang berada di pondok-pondok pesantren dan bisa mengaji kitab. Pernyataan yang diungkap Ma'ruf kala menjabat Rais'Aam PBNU itu memperluas arti santri sebagai mereka yang meneladani para kiai.

“Santri adalah orang-orang yang ikut kiai. Apakah dia belajar di pesantren atau tidak. Tapi ikut kegiatan kiai, manut (patuh) kepada kiai. Itu dianggap sebagai santri. Walaupun dia tidak bisa baca kitab, tapi dia mengikuti perjuangan para santri,” papar Ma’ruf Amin dilansir NU Online.
 

Mendobrak stigma

Tempat dan jenis pendidikan santri pesantren adalah salah satu jenis pendidikan Islam Indonesia yang bersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkan sebagai pedoman hidup sehari-hari. Dalam catatan sejarah, pesantren sudah ada sejak ratusan tahun lalu. 

Perannya terhadap bangsa pun amat besar. Contohnya, resolusi jihad yang diperingati hari ini. Dalam perannya sebagai lembaga pendidikan, pesantren telah ikut mengamalkan amanat preambule, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Namun, pada masa rezim Orde Baru, pesantren sebagai pranata tradisional dicurigai sebagai sarang kejumudan, stanasi dan konservatisme. Pesantren sering dianggap sebagai lembaga yang menjadi penghalang besar bagi usaha-usaha pembangunan. 

Upaya mendobrak stigma itu pertama kali digaungkan oleh Gus Dur. Di masa Orde Baru, Gus Dur adalah pemikir Islam yang dikenal berseberangan dengan penguasa. Bagi Gus Dur, pesantren adalah ekosistem yang dinamis. Di mata Gus Dur, pesantren memiliki dasar kuat untuk menggerakkan roda perubahan sesuai dengan perkembangan zaman.


Gus Dur muda (Wikimedia Commons)


Baca Juga : Hari Patah Hati Nasional: Isyana Sarasvati Resmi Dipersunting


Sebagai lembaga pendidikan Islam, pesantren punya karakteristik berbeda dengan lembaga pendidikan lain. Kehadiran pesantren dikatakan unik karena dua alasan.

Pertama, pesantren hadir untuk merespons situasi dan kondisi suatu masyarakat yang dihadapkan pada keruntuhan sendi-sendi moral atau bisa juga disebut mengalami perubahan sosial. Kedua, didirikannya pesantren adalah untuk menyebarluaskan ajaran universalitas Islam ke seluruh pelosok Nusantara.

Di tangan Gus Dur, pesantren yang dianggap sebagai lembaga pendidikan paling stagnan justru mengalami perubahan yang sangat mendasar. Label sebagai tempat pendidikan ilmu agama murni --seperti Alquran, Hadist, Tafsir, hingga Kitab Kuning-- tiba-tiba melakukan perubahan mendasar dalam konten pendidikannya.

"Dunia pesantren yang selama ini dianggap hanya menyiapkan ilmu-ilmu untuk kepentingan akhirat, tiba-tiba berubah arah dengan mengadopsi pendidikan sistem sekuler," kata Achmad Junaidi dalam "Gus Dur Presiden Kiai Indonesia" (2010). 

Soal modernisasi pesantren, Gus Dur mengartikannya sebagai sebuah perubahan entitas yang dilatarbelakangi sekaligus dimotori oleh semangat tradisional. Dengan kata lain, Gus Dur memaknai modernisme sebagai sbeuah pandangan hidup positif yang selalu ingin berubah dengan memanfaatkan sekaligus mengembangkan semangat tradisional yang ada. 

Sementara itu, Gus Dur mencontohkan tiga elemen dasar yang penting untuk dirombak besar-besaran. Oleh Gus Dur, tiga elemen itu disebut dengan "wilayah rawan". 

Wilayah rawan pertama adalah soal sistem pembelajaran di pesantren, mulai dari orientasi hingga penyusunan kurikulum. Dalam hal ini, Gus Dur mencontohkan dukungannya terhadap beberapa pesantren yang ingin membuka "sekolah umum" bahkan sekolah kejuruan.


Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang (Wikimedia Commons)


Asumsinya yang mendasari langkah Gus Dur adalah bahwa tidak semua santri dapat dicetak menjadi ahli agama atau ulama. Santri dianggap mampu menjadi roda penggerak, membantu program pemerintah dan tujuan negara untuk mencerdaskan bangsa dan mengurangi angka pengangguran.

Wilayah rawan kedua adalah rekonstruksi administrasi dan fisik pesantren. Perubahan dalam konteks ini sama sekali tak bersinggungan dengan persoalan etis di pesantren. Kecuali peran dan fungsi kharisma kiai yang harus dipertimbangkan kembali untuk diubah sesuai etika modern yang mengedepankan azas profesionalitas dan kepastian hukum. 

Kemudian, yang terakhir adalah soal relasi hubungan antara masyarakat dan pesantren yang harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan zaman. Gus Dur mencontohkan, di era kolonial --awal masa pembentukan pesantren, lembaga pendidikan pesantren menjadi tempat perjuangan masyarakat.

Dalam hal ini, Gus Dur mencontohkan dengan dimensi awal berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang Jawa Timur. Kala itu, Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang Jawa Timur tak hanya didirikan untuk menata moral masyarakat, tapi juga untuk merespons kegelisahan masyarakat ketika terjadi polemik dengan pabrik gula milik Belanda.

Bagikan :

Reporter : Ramdan Febrian Arifin
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
19 Februari 2020 21:03 WIB

Jawaban Wapres Soal Survei Kepuasan Kinerjanya

Tak cukup 100 hari pertama
megapolitan
19 Februari 2020 20:21 WIB

'Sentilan' Mega dan Isyarat Tolak Formula E di Monas

Monas cagar budaya
Internasional
19 Februari 2020 20:07 WIB

Ada Empat WNI Kena COVID-19 di Kapal Diamond Princess

Sudah dibawa ke rumah sakit
Lifestyle
19 Februari 2020 19:36 WIB

Wajah Jokowi dan Susi Pudjiastuti di New York Fashion Week

Ada juga Trump dan Greta Thunberg
Wisata
19 Februari 2020 19:11 WIB

Wisata Instagramable di Gunung Pelangi Peru

Gunungnya warna-warni kayak kue, jadi pengen jalan sama kamu~