Selasa, 10 Desember 2019
Stephania Shakila Cornelia Weran (Foto: Istimewa)
01 Desember 2019 17:01 WIB

Hidup Berkarya dari Skizofrenia

Karena skizofrenia bukan suatu halangan
Bagikan :


Jakarta, era.id – Sudah satu tahun lebih, Stephania Shakila Cornelia Weran berjuang melawan skizofrenia yang mengganggu kehidupannya, baik itu pekerjaan, keluarga, maupun hubungan dengan lingkungan sosialnya. Meski didiagnosa tak akan bisa sembuh, tapi ia tak menyerah begitu saja, hidup harus tetap berjalan.

Stefi dinyatakan terkena skizofrenia sejak Juni 2018. Semuanya terjadi secara mendadak. Berawal ketika ia makan malam bersama atasannya seusai meeting kantor, tiba-tiba kepalanya terasa berat, tangannya terasa dingin, lidahnya kelu, dan tubuhnya menjadi kaku. Selama satu jam, ia mencoba tenang dengan kondisi tubuhnya yang tak lagi bisa dikendalikan

“Aku masih sadar, bukannya enggak sadar dan intinya kaya orang strok enggak bisa gerak. Mau noleh ke kiri kanan aja tuh enggak bisa, bahkan mau ngomong pun mulut enggak bisa ngapa-ngapain. Akhirnya dibawalah aku ke RS Pondok Indah,” ujar Stefi kepada era.id.

Di RD Pondok Indah, seusai mendapatkan perawatan, kondisi tubuh Stefi kembali normal. Dokter mengatakan ia hanya terkena dehidrasi dan menyarankan untuk meminum vitamin serta banyak air putih. Untuk sementara waktu Stefi bisa bernafas lega sebab tak ada sakit atau diagnosa menyeramkan apa pun yang dialamatkan kepadanya.


Baca Juga : Cara Meditasi Mandiri di Rumah Agar Bebas Stres

Namun, perasaan lega itu tak bertahan lama. Keesokan harinya, ketika Stefi makan siang bersama dua orang temannya, kejadian semalam kembali terulang. Kepala terasa berat, badan menjadi kaku. Tanpa pikir panjang kedua orang temannya menggendong pulang Stefi dan memutuskan untuk membawanya ke RS Pusat Otak Nasional di daerah Cawang, Jakarta Timur.

“Pas di sana di scan otak, nah ternyata ada syaraf ku yang keganggu. Sama dokternya dibilang kondisi ku ini namanya stupor,” kata Stefi.

Stupor adalah istilah medis untuk penurunan kesadaran di mana otak tak lagi bisa memberikan perintah kepada tubuh dengan benar sehingga menyebabkan seseorang menjadi tak bisa bergerak atau berbicara. Umumnya, stupor terjadi kepada orang yang memiliki masalah psikis. Saran dari dokter saat itu adalah Stefi harus dibawa ke Rumah Sakit Jiwa untuk bertemu dengan psikiater atau dokter kejiwaan.

Namun saran itu ditolak oleh atasan Stefi yang kebetulan juga memiliki latar belakang pendidikan Psikologi. Alasannya, jika langsung di bawa ke psikater maka Stefi akan langsung mengkonsumsi obat, jadi sebaiknya untuk penangan awal, Stefi disarankan untuk bertemu dengan psikolog terlebih dulu.

Sebanyak dua kali Stefi berkonsultasi dengan psikolog. Tapi kondisinya bukan semakin baik melainkan bertambah buruk. Ia mulai mendengar suara-suara yang memaki dan memojokkan, suara-suara yang menyuruhnya untuk mati. Ia juga mulai berhalusinasi, merasa seperti ada orang yang membuntutinya dan hendak membunuhnya. Semuanya terasa sangat nyata bagi Stefi, hal itu membuatnya dirundung perasaan takut berlebihan, terlebih ketika ia harus sendirian.

Kondisi Stefi semakin memburuk ketika pada suatu siang hari ia membuat heboh seisi kantor. Secara mendadak ia berteriak sangat histeris dan menghantamkan asbak yang berada di atas meja ke kepalanya secara berulang-ulang. Penyebabnya adalah suara-suara di dalam kepalanya yang mengungkit semua kenangan buruknya di masa lalu. Suara yang awalnya terdengar seperti bisikan, lama-lama semakin kencang seperti ada yang berteriak di samping kupingnya.

“Tiba-tiba suaranya makin kenceng, makin kenceng aku langsung lost control gitu. Nah, kebetulan ada asbak di sebelahku, langsung aku ngambil asbak mukul kepalaku berapa kali berulang-ulang sambil teriak histeris, langsung satu kantor itu heboh. Terus tiba-tiba aku diem, kaku lagi, enggak bisa ngomong. Dari awalnya aku maniak banget, enggak bisa kontrol emosi, tiba-tiba aku diem lagi, stupor itu tadi,” kata Stefi.

Salah seorang teman kantornya pun langsung menghubungi psikologi yang menangani Stefi dan menyarankan sudah saatnya ia dibawa ke RSJ Dharmawangsa. Di situ, Stefi harus menerima kabar buruk, ia dinyatakan terkena skizofrenia katatonik paranoid. Kaget? Tentu saja. Sedih? Sudah pasti. Hari itu dan hari-hari setelahnya menjadi titik terendah dalam hidupnya. Ditambah kenyataan bahwa skizofrenia tak bisa disembuhkan, membuatnya sempat merasa sangat terpuruk.

“Kata dokter, kalau sudah terkan skizo itu kamu nggak bisa sembuh, sama kaya kena diabetes. Tapi kamu bisa kontrol lewat obat-obatan,” kata Stefi.

Tak mudah memberi penjelasan tentang kondisi kesehatan mentalanya saat itu kepada pihak keluarga. Mereka, kata Stefi, sempat menolak diagnosis dari dokter yang menyatakan dirinya mengidap skizofrenia, penyakit mental yang dari namanya saja sudah terdengar begitu menyeramkan.

“Mereka bilang aku stres biasanya, jarang ibadah dan jauh dari Tuhan,” kata Stefi.

Tak hanya keluarga, pekerjaannya pun menjadi berantakan. Stefi yang saat itu bekerja di Berakar Komunikasi, sebuah agensi kreatif yang bergerak di bindang iklan, tak lagi bisa bekerja secara maksimal. Ia mengaku sulit berkonsentarsi semenjak didiagnosa mengidap skizofrenia.

“Aku pernah tanya ke bosku soal performaku setelah aku sakit, dan katanya itu turun drastis. Dan emang aku sendiri pun ngerasa, makanya aku sampai aku nanya, karena aku mikir mau bikin satu kalimat aja aku susah. Kosentrasi aku berantakan, kerjaan aku berantakan,” tuturnya.

Kehidupan sosialnya pun sama berantakannya. Stefi yang hobi bermusik dan memiliki sebuah band metal pun tak lagi bisa bersenang-senang dengan kawan satu band-nya. Ia terlampau sering berhalusinasi, terlalu kerap merasa cemas dan ketakakutan. Pernah suatu ketika ia hendak ke kantor dan melihat seseorang orang yang selama ini hendak membunuhnya tiba-tiba berada di samping kamar kosannya. Orang itu, kata Stefi, juga melakukan hal yang sama dengannya sembari menatap tajam.

Hal itu tentu saja membuatnya sangat ketakutan, tak jarang ia melaporkannya sambil menangis kepada penjaga kosan. Namun halusinasinya semakin menjadi-jadi, membuatnya sulit melakukan aktifitas sehari-hari tanpa sekalipun diserang perasaan ketakuatan.

Frekuensi Stefi kambuh juga semakin sering, bukan lagi stupor yang menyebabkan badannya kaku, tapi ia juga mengalami kejang-kejang hingga mulutnya berbusa. Hal itu terjadi beberapa kali, penyebabnya pun semakin sulit dikenali. Hingga akhirya ia harus menambah mengkonsumsi obat epilepsi. Obat ini menambah panjang daftar obat yang harus ia konsumsi untuk mengontrol penyakit mentalnya.

Hari-harinya semakin buruk. Episode yang sama, kejang-kejang, berteriak histeris, menyilet tangan, menghantamkan kepala ke tembok terus berulang. Suara-suara yang menghakimi dan menyuruhnya untuk mati, juga halusinasi tentang orang yang hendak membunuhnya semakin sering terjadi. Iya, hidup Stefi menjadi sebegitu menyebalkan dan menakutkan akibat skizofrenia

“Aku nggak bisa ngeband lagi, karena kebetulan aku jadi takut banget keluar rumah, takut dibuntutin orang. Tapi kalau aku sendiri di kos, aku juga bisa macem-macam (melukai diri sendiri). Berantakan banget deh pokoknya, sekacau itu,” kata Stefi.


Stephania Shakila Cornelia Weran (Foto: Istimewa)

Pengobatan spiritual

Selain berobat secara medis, Stefi juga pernah diajak oleh salah seroang atasannya untuk berobat secara spiritual. Seperti kebanyakan orang Indonesia yang masih percaya dengan hal-hal mistis, atasannya meyakini Stefi kerusukan makhluk halus seperi jin atau setan. Tentu awalnya ia menolak, sebab ia meyakini apa yang terjadi dengan dirinya 100 persen karena masalah medis, bukan karena hal-hal tak kasat mata.

“Awalnya nolak, kaya apaan sih aku tuh sakit, harusnya ke dokter bukan di bawa ke tempat-tempat seperti ini,” ujarnya.

Namun setelah menjalaninya, ia sedikit banyak percaya memang ada energi negatif atau hal-hal spirtual yang ikut mendiami tubuhnya berdampingan dengan penyakitnya. Stefi menceritakan memang ia merasakan tubuhnya menjadi berat dan aneh ketika memasuki rumah si paranormal yang nanti akan menanganinya dan selama pengobatan secara spiritual ia merasa seperti kerasukan. Tubuhnya yang munggil tak bisa dipegang hanya oleh satu orang, belum lagi teriakan-teriakan histeris.

“Kata si om ini emang aku tuh punya sakit, tapi karena sakit itu jiwa aku kosong. Jadi energi-energi negatif. Dan aku percaya-percaya aja sih, karena mikirnya aku sering banget kosong dan aku emang lagi kacau banget,” kata Stefi.

Oleh keluarganya, saat ia memutuskan pindah dari Jakarta dan kembali ke Kupang, Nusa Tenggara Timur, juga melakukan hal yang sama. Baru-baru ini, sekitar satu minggu yang lalu, ia pun di bawa ke seorang pastur untuk menjalani ritual seperti rukiah. Hasilnya, kata Stefi, memang ia merasa seperti kerasukan.

Ini memang terdengar seperti omong kosong. Kebanyakan orang di Indonesia memang masih beranggapan mental illness atau penyakit mental merupakan perbuatan gaib dan harus disembuhkan secara spiritual. Namun bagi Stefi yang sudah mengalaminya langsung, ia mengaku percaya bahwa kesehatan mental sedikit banyak mempengarhui spiritual seseorang. Meskipun bukan berati setiap orang yang terkena penyakit mental adalah orang yang lemah imannya.

“Aku secara pribadi yang mengalami itu langsung, aku percaya. Awalnya aku emang aku marah, tapi lambat laun aku ngerti, karena kondisi jiwa aku yang lagi rapuh banget, mungkin, ini masih mungkin, ada hal-hal gaib yang gampang nempel,” ungkapnya.

Support System and Happy Life

Hidup boleh saja terasa tidak adil dan begitu muram, tapi Stefi sadar tak mau berlama-lama larut dalam keterpurukan walaupun mungkin kondisi kesehatan mentalnya tak lagi bisa normal seperti kebanyakan orang. Ia sendiri merasa lelah dengan kondisinya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menata hidupnya, bagaimana pun hidup memang harus terus berjalan.

Beruntung Stefi dikelelingi oleh lingkungan yang mendukung. Di Berakar Komunikasi, ia mendapatkan “suntikan” semangat dan berbagai pikiran positif dari teman-temannya juga atasannya. Demikian pula dengan dokter Richard yang menanganinya di RSJ Dharmawangasa juga selalu memberikan motivasi disamping obat-obatan yang harus ia konsumsi.

“Aku sadar, mau sampai kapan aku kaya gini, aku udah kelamaan mati, aku pengen bangit lagi,” kata Stefi.

Komunikasi adalah kuncinya. Stefi mengatakan setiap kali merasa akan kembali terpuruk oleh skizo, ia dengan cepat mengalihkan pikirannya dengan berbincang bersama teman-temannya tentang hal-hal yang menyenangkan, juga melakukan kegiatan yang disukai seperti menulis dan kembali bermusik.

Obat dari dokter juga ia akui sangat membantu. Ia mulai jarang mendengar suara-suara yang mengancam dari dalam kepalanya dan halusinasi yang membuatnya ketakutan. Skizofrenia, menurut dokter Richard Budiman yang menangni Stefi mengatakan, penyakit ini tak bisa disembuhkan tapi bisa diminimalisir dengan mengonsumsi obat. “Kalau sudah kena skizofrenia, itu tuh kamu enggak bisa sembuh sebenarnya, itu kaya diabetes, jadi kamu hanya bisa kontrol lewat obat,” kata Stefi.

Lingkungan sosial yang sangat membantunya dalam kembali membangun hidup masih terus berlanjut sekalipun Stefi sudah pindah ke Kupang. Keluarganya perlahan bisa menerima bahwa dirinya mengidap penyakit mental bernama skizofrenia, lingkungan kerjanya saat ini juga terbuka dengan kondisinya. Tidak ada lagi pandangan sebelah mata ataupun kata-kata dari orang lain yang menghakimi dirinya.

Belakangan, Stefi mengaku penyakitnya mulai kumat lagi, tapi untungnya tak separah saat-saat awal. Ia juga perlahan mengurangi dosis obat yang dikonsumsi, ia sadar tak boleh ketergantungan dengan obat jika masih menyayangi tubuhnya sendiri.

“Pelan-pelan aku kurangin dosisnya, yang biasanya tiap hari aku kurangin jadi dua hari atau tiga hari sekali. Tapi obat itu penting, enggak bisa dipungkiri memang harus minum karena aku nggak mau kumat kaya dulu,” kata Stefi.

Waktu terus berjalan dan ia berhasil membangun hal-hal positif di dalam dirinya. Apa pun pengobatan, baik medis maupun spiritual akan ia jalani. Lingkungan dengan support system yang positif akan terus ia cari. Menderita skizofrenia memang tidak mudah, tapi bukan berarti harus menyerah dan berpasrah menurut Stefi.

“Aku pun yang terjadi sama diri aku, intinya aku ingin sembuh secara medis dan spirtual, dua-duanya harus seimbang,” tegasnya.

Nubuat Tentang Hawa

Saat menjalani terapi dari dokter, Stefi pernah disarankan membeli buku gambar untuk menggambar atau menulis apa saja yang menjadi ketakutannya setiap kali ada suara maupun halusinasi yang ia alami. Bukan gambar yang bagus ataupun kata-kata puitis, kebanyaka, kata Stefi, itu hanyalah coretan acak-acakan dan sederet pengulangan satu kata, yaitu ‘mati’. Tapi siapa sangka hal itu justru membuatnya melahirkan sebuah karya.

Ketika kondisinya perlahan-lahan mulai pulih, ia kembali mencoba menulis berdasarkan apa yang ia baca dan lihat dari kumpulan buku-buku gambarnya selama proses terapi. Sebagain tulisannya ia unggah di akun Instagram miliknya @saintmary_. Tak disangka puisinya menarik minat salah satu penerbit buku yang langsung menawarkan Stefi untuk menerbitkan kumpulan puisi dari pengalamannya berjuang melawan skizofrenia.

“Tiba-tiba ada penerbit yang nawarin aku nerbitin buku, tapi aku harus menyelesaikan sekian tulisan dalam waktu sekian bulan,” kata Stefi.

Gayung tersambut, tawaran itu diterima oleh Stefi. Bukan supaya ia terkenal, tapi lebih kepada ia ingin memiliki hidupnya yang dulu, ia ingin sembuh. Dan menulis yang merupakan salah satu kegemarannya bisa menjadi media baginya untuk memulai lembaran baru. Maka ia pun mulai menulis dan melahirkan buku berjudul ‘Nubuat Tenang Hawa’.

“Aku memotivasi diri aku sendiri, aku setiap hari nulis, menyibukan diri dengan hal-hal yang positif. Aku mulai bergaul lagi, ngeband, sampai akhirnya jadilah buku Nubat Tentang Hawa,” ujar Stefi.

“Buku itu 70 persen menceritakan tentang kondisinya pada saat ini. Apa yang aku dengar apa yang aku lihat, apa yang aku rasain, pengin matinya gimana, aku tulis,” lanjutnya.

Kini, Stefi tak hanya berhasil menerbitkan satu buku kumpulan puisi saja. Ia juga tengah aktif menjadi salah seorang penyiar radio di Kupang dan membangun bisnis kuliner khas Kupang yaitu babi se’i. Semangatnya untuk terus melanjutkan hidup tak terlepas dari anjuran dokter Richard juga lingkungan yang mendukung.

“Jangan putus asa apalagi terpuruk, lakukan hal-hal positif, siapa tahu jadi karya. Dan benar jadi karya, aku bikin (buku) Nubuat Tentang Hawa,” pungkasnya.

Selanjutnya, Stefi berencana untuk membuat suatu supporting group bagi orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental. Ia beranggapan, dengan berbagi cerita dan menularkan semangat positif bisa membuat seseorang jadi lebih baik. Nantinya, kelompok ini akan ia kelola bersama dengan beberapa orang temannya yang memiliki isu serupa dan kelompok ini terbuka bagi siapa pun tidak dikhususkan bagi pendertia skizofrenia saja.
Bagikan :

Reporter : Gabriella Thesa Widiari
Editor : Bagus Santosa
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Olahraga
10 Desember 2019 09:32 WIB

Rusia Dilarang Tampil Dalam Event Olahraga 4 Tahun Kedepan

Gara-gara doping
Internasional
10 Desember 2019 08:18 WIB

Arab Saudi yang Makin Longgar Soal Pemisahan Gender

Pintu masuk cafe dan restoran tak lagi dipisah
Nusantara
10 Desember 2019 07:07 WIB

Pemprov Aceh Beli 4 Pesawat Nurtanio

Untuk pesawat perintis, evakuasi medis dan kargo
megapolitan
10 Desember 2019 05:50 WIB

Nasib PKL di Jakarta: di Sana Boleh Jualan, di Sini Digusur

Akhirnya para pedagang, bingung
 
Nasional
09 Desember 2019 21:00 WIB

Polri Sebut Punya Bukti Baru Soal Kasus Novel Baswedan

"Tidak akan berapa lama lagi, Insyaallah tidak akan sampai berbulan-bulan"