Selasa, 17 September 2019
Ilustrasi (era.id)
12 Maret 2019 14:54 WIB

Kampanye Ngawur Caleg Bikin Pemungutan Suara Ngaret

KPU lakukan simulasi dan temukan keterkaitan kampanye asal caleg dan proses pencoblosan
Bagikan :


Jakarta, era.id - Kebingungan melanda banyak pemilih dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019. Kurangnya informasi penting bin substansial nan memadai soal calon-calon legislatif jadi penyebab kebingungan. Entah siapa yang salah, yang jelas kebingungan ini bakal berbuntut pada molornya agenda pencoblosan pada 17 April mendatang.

Jadi, siang tadi, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman menceritakan hasil simulasi pemungutan suara yang dilakukan di sejumlah daerah. Dari berbagai simulasi itu, KPU membulatkan perkiraan durasi pemungutan suara.

Menurut Arief, proses pemungutan suara --dimulai dari pencoblos menerima surat suara, pencoblosan, memasukkan surat ke kotak suara, hingga pencelupan jari dan ketika pemilih meninggalkan tempat pemungutan suara-- untuk masing-masing pemilih adalah tiga sampai lima menit.

Arief bilang, perkiraan durasi pemungutan suara cenderung berbeda di sejumlah wilayah. Beberapa bisa berjalan cepat, di samping berbagai hasil simulasi lain yang menunjukkan betapa proses pemungutan suara bisa amat memakan waktu.


Baca Juga : Pemilu 2019 Jurdil, Tapi Kok Banyak Money Politic

Seperti yang terjadi di sebuah TPS di Yogyakarta, misalnya. Di TPS tersebut, kata Arief, proses pemungutan suara bahkan melampaui tengah malam hingga pukul 02.00 dinihari.

"Kami mengusahakan perhitungan pada hari yang sama. Tetapi, kalau tidak selesai, kami akan meminta supaya tetap dilakukan penghitungan, tidak boleh berhenti," ungkap Arief ditemui di Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Lalu, bagaimana kebingungan pemilih memengaruhi waktu pemungutan suara? 

Penjelasannya begini. Menurut Komisioner KPU, Pramono Ubaid Tanthowi, dalam simulasi yang dilakukan, KPU menemukan begitu banyak pemilih yang menghabiskan waktu lama di bilik suara karena kebingungan menentukan caleg mana yang harus mereka coblos.

Makanya, Pramono mendorong agar setiap pemilih menentukan pilihannya terlebih dulu sebelum masuk ke bilik suara. Syaratnya, tentu saja, para caleg harus menyosialisasikan pencalonannya secara serius dengan memberikan informasi substansial di dalam setiap langkah berkampanye.

"Karena itu, yang perlu didorong bahwa pemilih itu sebelum masuk ke bilik suara harus punya calon yang akan dicoblos. Dengan pilihan yang sudah ada di kepala itu berarti ke dalam itu dia tinggal cari partai dan namanya, tinggal dicoblos," kata Pramono.

"Untuk mengintensifkan masa kampanye yang tinggal 36 hari ini, makin diintensifkan sehingga betul-betul nama calon masuk di kepala setiap pemilih. Itu akan jauh lebih mempercepat waktu, terlepas dari surat suara yang besar," tambah Pramono.


Simulasi KPU (Diah/era.id)


Melihat simulasi KPU

Simulasi yang dilakukan KPU sendiri dilakukan di sejumlah daerah. Kondisi TPS dalam simulasi direka sedemikian lengkap. Ada kotak suara, bilik suara, papan informasi, sepaket dengan surat suara presiden dan wakil presiden, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD RI.

Ada pula pegawai KPPS yang mengoperasionalkan proses pemungutan suara, saksi-saksi, pengawas, petugas keamanan, hingga pemilih yang telah memegang formulir C6 sebagai syarat untuk nyoblos.

"Kita simulasikan kantor KPU sebagai perkampungan dengan jumlah pemilih yang memenuhi syarat yaitu 300 orang. Makanya, di data semua. Mudah-mudahan bisa datang tepat waktu sampai dengan waktu yang ditentukan," kata Arief.

"Anggaplah pembukaan ini seolah-olah pukul 07.00, karena kalau saya mulai betul-betul pukul 07.00, saya khawatir teman-teman media belum datang. Nanti akan ditutup kurang lebih pukul 13.00. Kemudian, akan dilakukan penghitungan suara," tambahnya.

Setelah petugas KPPS mempersiapkan perlengkapan, ada informasi-informasi yang perlu diketahui oleh pemilih. Kata petugas, pemilih enggak boleh menggunakan alat coblos selain paku yang telah disediakan.

Surat suara yang dapat digunakan ketika sudah ditandatangani oleh ketua KPPS. Sebelum mencoblos, pemilih mesti memastikan dulu jangan sampai surat suaranya robek karena menjadi tidak sah.

Pemilih juga dilarang membawa alat perekam atau alat motret seperti kamera dan ponsel ke bilik suara. Bagi pemilih tuna netra, KPU menyediakan alat bantu berhuruf braile hanya untuk pemilu presiden-wakil presiden dan DPD RI.

Bagi pemilih yang masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) dan daftar pemilih tambahan (DPTb) disediakan waktu mencoblos pukul 07.00 sampai 13.00. Sementara itu, pemilih yang masuk dalam daftar pemilih khusus (DPK) dapat mencoblos pukul 12.00. Lebih lanjut, jika sampai pukul 13.00 pemilih yang mencoblos belum sampai berjumlah 300 orang, Arief meminta semua warga bergerak untuk menyosialisasikan kegiatan ini.

"Semua warga harus bergerak, sebagai bagian dari partisipasi melalui pengeras suara di tempat-tempat ibadah, di kantor pemerintahan," ucap Arief.

"Bahkan, biasanya kami minta ada mobil keliling yang sambil memberi informasi sambil keliling. 'Bapak Ibu sekalian yang sudah terdaftar sebagai pemilih gunakan hak pilihnya,' sehingga partisipasi akan menjadi tinggi," tambahnya.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Diah Ayu Wardani
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
17 September 2019 19:43 WIB

Klaim Pembahasan RUU KPK yang Tak Buru-Buru

Kata mereka yang buat, ini bukan barang baru karena sudah lama dibahas
Nasional
17 September 2019 19:28 WIB

Pengesahan RUU KPK di Tengah Derasnya Arus Penolakan

Tok! DPR resmi sahkan RUU KPK yang dianggap melemahkan pemberantasan korupsi
Internasional
17 September 2019 19:02 WIB

Kisah Penyintas Kanker Pecahkan Rekor Renang di Inggris

Setahun lalu, ia menderita kanker. Hari ini ia jadi salah satu perenang terkuat di bumi
Internasional
17 September 2019 19:01 WIB

Vladimir Putin Kutip Ayat Alquran Serukan Perdamaian di Yaman

Karena berdamai itu indah mblo~
Nasional
17 September 2019 17:56 WIB

Dewan Pengawas KPK di Tangan Presiden

Presiden akan segera membentuk panitia seleksi untuk mencari anggota Dewan Pengawas